• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bangsa Ini Baru Sekali Melahirkan Generasi Emas: Para Founding Fathers yang Melampaui Zamannya

Ali Syarief by Ali Syarief
May 6, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Bangsa Ini Baru Sekali Melahirkan Generasi Emas: Para Founding Fathers yang Melampaui Zamannya
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Ada kecenderungan di negeri ini untuk selalu mencari kambing hitam setiap kali bangsa ini gagal melahirkan pemimpin bermutu. Pendidikan disalahkan. Kampus dicurigai. Profesor dianggap hidup di menara gading. Mahasiswa dituduh malas berpikir. Seolah-olah semua kerusakan republik ini berasal dari ruang kelas dan perpustakaan.

Padahal persoalannya jauh lebih dalam: yang bermasalah bukan pendidikan, melainkan kualitas watak kebangsaan kita sendiri.

Pendidikan tidak pernah salah ketika seorang profesor berbahagia dengan pengetahuannya. Itu justru kemuliaan intelektual. Apalagi bila ilmu itu memberi manfaat bagi masyarakat, membuka cakrawala berpikir, melahirkan kritik, dan menjaga nurani publik agar tetap hidup. Ilmu pengetahuan memang tidak diciptakan untuk memuaskan kekuasaan, tetapi untuk menerangi manusia.

Namun bangsa ini sering tidak siap hidup bersama terang.

Kita lebih nyaman memelihara budaya tunduk daripada budaya berpikir. Kita lebih akrab dengan mental “kawula” dibanding mental warga negara. Dalam psikologi feodal seperti itu, pemimpin tidak diposisikan sebagai pelayan publik, tetapi perlahan diperlakukan seperti raja. Kritik dianggap pembangkangan. Loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi. Kepatuhan lebih penting daripada integritas.

Apa yang dahulu disinyalir Muchtar Lubis tentang manusia Indonesia terasa masih relevan hingga hari ini: watak feodal, munafik, enggan bertanggung jawab, dan mudah silau kekuasaan masih hidup dalam denyut sosial-politik kita. Demokrasi akhirnya hanya berganti kostum, tetapi tidak mengganti mentalitas.

Karena itu, jangan heran bila republik ini makin miskin negarawan tetapi kaya “polutisi” — manusia yang hadir dalam politik bukan untuk mengabdi, melainkan mencemari kehidupan publik dengan kerakusan, pencitraan, dan transaksi kekuasaan.

Bangsa ini, kalau memang pantas disebut bangsa besar, sejatinya baru sekali melahirkan generasi emas: para founding fathers. Mereka bukan manusia sempurna, tetapi memiliki keberanian berpikir melampaui zamannya. Mereka berdebat keras tentang dasar negara, bentuk demokrasi, arah ekonomi, dan masa depan peradaban. Mereka memiliki visi, ideologi, dan pengorbanan.

Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Mohammad Natsir lahir dari pergulatan intelektual dan penderitaan sejarah. Mereka membaca dunia, dipenjara kolonialisme, berdebat tentang filsafat, ekonomi, agama, dan kebangsaan. Politik bagi mereka adalah jalan pengabdian.

Bandingkan dengan banyak elite hari ini.

Politik direduksi menjadi industri elektoral. Partai berubah menjadi kendaraan dagang. Jabatan diperlakukan seperti investasi modal yang harus balik untung. Yang muncul bukan negarawan, melainkan operator kekuasaan. Mereka sibuk membangun dinasti, mengatur citra, memelihara buzzer, dan menghitung survei. Gagasan tidak penting selama algoritma masih bisa dibeli.

Ironisnya, masyarakat pun sering ikut memelihara kemerosotan itu. Kita lebih mudah terpukau oleh pencitraan daripada kapasitas. Kita mengidolakan popularitas, bukan integritas. Kita mencemooh intelektual, tetapi memuliakan selebritas politik yang miskin gagasan.

Maka kemunduran bangsa ini bukan semata kegagalan elite. Ini juga kegagalan kolektif dalam membangun karakter kebangsaan.

Kita ingin demokrasi modern, tetapi masih berpikir feodal. Kita ingin pemimpin visioner, tetapi memilih berdasarkan fanatisme sempit. Kita ingin keadilan, tetapi sering kompromi terhadap kebohongan selama menguntungkan kelompok sendiri.

Pendidikan akhirnya hanya menjadi pabrik ijazah karena masyarakat sendiri tidak lagi menghormati pengetahuan sebagai fondasi peradaban. Gelar dihargai, tetapi ilmu diabaikan. Kampus didorong melahirkan tenaga kerja, bukan manusia merdeka.

Padahal sebuah bangsa tidak dibangun oleh gedung tinggi, jalan tol, atau proyek mercusuar semata. Bangsa dibangun oleh kualitas manusianya: keberanian berpikir, kejujuran moral, tradisi intelektual, dan kematangan sebagai warga negara.

Selama mental “kawula” masih lebih dominan daripada mental merdeka, selama rakyat lebih senang mencari figur penyelamat daripada membangun sistem yang sehat, maka republik ini akan terus berputar dalam lingkaran yang sama: melahirkan elite medioker yang diperlakukan bak raja.

Dan mungkin di situlah autokritik paling pahit bagi Indonesia:
kita terlalu sering menyalahkan sekolah, padahal yang gagal dididik sesungguhnya adalah watak kebangsaan kita sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pantau Hasil Panen Padi di Luwu Timur, Pemerintah Desa Lambara Harapan Berharap Harga Gabah Tetap Konsisten

Next Post

Fraud Diamond Terbuka, Dipicu Buruknya Kebijakan dan GCG ​(Al-Qur’an dan Hadits Sering Terabaikan sebagai Benteng Awal GCG)

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post

Fraud Diamond Terbuka, Dipicu Buruknya Kebijakan dan GCG ​(Al-Qur'an dan Hadits Sering Terabaikan sebagai Benteng Awal GCG)

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melampaui AS dan China? Antara Angka, Narasi, dan Siasah Ngibul

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melampaui AS dan China? Antara Angka, Narasi, dan Siasah Ngibul

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist