Fusilatnews – Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang berduka. Ratusan nyawa hilang, rumah hancur, dan korban masih dicari. Namun, siapa yang bertanggung jawab? Tidak ada yang mengundurkan diri. Tidak ada permohonan maaf. Bantuan datang terlambat. Status bencana nasional pun enggan ditetapkan. Apakah ini yang disebut kepemimpinan?
Sementara itu, di Filipina, ketika bencana serupa melanda, pejabat publik yang lalai menghadapi tekanan publik dan politik, bahkan rela mengundurkan diri demi tanggung jawab moral. Di sana, nyawa rakyat tidak dianggap sekadar angka statistik; kelalaian pejabat adalah urusan publik, dan reputasi dibayar dengan tindakan nyata. Mengapa di sini berbeda? Mengapa pejabat kita tetap duduk tenang sementara rakyatnya hanyut diterjang banjir?
Media dalam dan luar negeri menyoroti penyebab tragedi: kerusakan lingkungan akibat izin penebangan hutan dan alih fungsi lahan. Fakta ini terang benderang, tapi pemerintah seolah menutup mata. Rakyat yang mati dan menderita hanyalah angka di laporan, bukan urusan moral bagi mereka yang berkuasa.
Bangsa ini boleh membanggakan gedung pencakar langit, jalan tol, dan proyek megah. Tapi ketika rakyatnya hanyut diterjang banjir akibat kelalaian sistemik, seluruh pencapaian itu tampak seperti sandiwara kosong. Tidak ada tanggung jawab, tidak ada refleksi, hanya alasan dan retorika. Rakyat menunggu jawaban, tapi yang muncul hanyalah ketidakpedulian.
Ini bukan sekadar bencana alam. Ini adalah cermin nyata dari negara yang kehilangan moral, dari birokrasi yang beku dalam kepentingan politik dan ekonomi, dari elit yang bermain-main dengan nyawa rakyat. Aceh, Sumut, dan Sumbar menjerit. Dan negara ini—jika masih punya harga diri—harus segera menjawab: siapa yang bersalah? Atau apakah rakyat hanya diperhitungkan saat dibutuhkan untuk memilih, membayar pajak, dan diam?
Jika tidak ada jawaban, jika tidak ada tindakan nyata, jangan lagi bicara soal peradaban tinggi. Nyawa rakyat bukan untuk dipertontonkan sebagai angka statistik. Nyawa rakyat bukan untuk dijadikan sandiwara kepedulian di layar kaca. Nyawa rakyat adalah tanggung jawab negara. Titik.


























