Dibahas Bung Harsubeno dan Rocky Gerung, kalau Jokowi tercium ada indikasi ingin menjadi Ketum Golkar. Saya tidak percaya. Tapi masuk diakal, bila Jokowi merasa risau setelah lengser/pasca dr presiden nanti. Ia perlu power extra untuk menjaga marwah diri dan keluarganya
Menarik apa yang disampaikan oleh pakar politik kita, Ibu Prof Siti Djuhroh, bahwa baru pertama kali dalam sejaran panjang suksesi presiden Indonesia, presiden Jokowi diketahui sebagai cawe-cawe. Dalam system presidential, kewajiban presiden adalah, memastikan pelaksanakaan pemilu/pilpres berjalan dengan tahapan-tahapan yang telah ditentukan, aman dan demokratis. Lebih lanjut Siti menjelaskan bahwa jangan lupa presiden itu, juga sebagai kepala Negara. Ia harus berdiri untuk semua kontestan Capres. Perilaku verbalnya, jangan sampai melahirkan interpretasi sebagai cawe-cawe. Meng-enderso capres tertentu.
Peristiwa Jokowi mengunjungi pabrik pabrik senjata PT. PINDAD di Malang, baru baru ini, dinilai sebagai show off Jokowi kepada komunitas politiknya, PDIP dan kepada sekaligus kepada masyarakat umum.
Metapor yang disampaikan Jokowi adalah “Saya perkenalkan Pasangan Capres dan Cawapres, yang saya dukung”, begitu tafisirnya. Tersusun semiotika tersebut didasari oleh, terlebih-lebih, adalah proximity dengan tahun/bulan politik saat ini. Sehingga sosok Menhankam dan Mentri BUMN yang terkait dengan PT PINDAD, tidak dinilai sebagai sesuatu sebagai kebetulan (accidently happened).
Puncak dari uraian tersebut diatas adalah “apa sebenarnya dibalik Jokowi berperilaku dinilai (meminjam istilah dari Dr. Denny Indrayana) sebagai cawe-cawe itu?”
Mengutip analisi Denny Indrayana, logis Jokowi all out ingin menenggelamkan Anie Baswedan, gagal menjadi Presiden RI yang akan dating. Mengapa?
Aktivis politik Denny Indrayana mengungkap dua strategi dan dua motif Presiden Joko Widodo dalam mengamankan Pilpres 2024 demi mendarat aman alias soft landing usai menjabat.
Strategi pertama terlibat aktif alias cawe-cawe dalam penentuan calon presiden di Pilpres 2024. Seiring dengan pernyataan Pengamat Politik Erros Djarot terkait Jokowi yang mendukung beberapa capres tertentu dan tidak ikut memilih Anies. “Target utama adalah sebisa mungkin hanya ada dua pasangan calon dalam Pilpres 2024,” Selain itu, dia juga menduga Jokowi hanya ingin dua pasangan calon presiden yang bertarung dalam Pilpres 2024 merupakan orang yang dekat dengannya.
Pasalnya, orang yang berseberangan dan tidak mendukung Jokowi berpotensi tak melanjutkan warisan dan program kerja presiden setelah lengser.
“Keduanya adalah all the president’s Men. Calon yang diidentifikasi berseberangan dan mungkin tidak melanjutkan legacy kepresidenannya, sebisa mungkin dieliminasi, sedari awal,” u
Strategi kedua, lanjutnya, adalah memecah suara dari bakal capres Anies Baswedan. Menurut Denny, hal itu dilakukan dengan cara mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres ketiga di Pilpres 2024.
Tujuannya adalah agar suara Islam yang pro Anies terbagi ke Prabowo. Sehingga, suara yang didapat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo lebih banyak.
“Harapan Jokowi yang ideal Ganjar Pranowo menjadi presiden. Akan tetapi, harus ada capres ketiga kalau langkah Anies Baswedan tidak terbendung,” ujar Denny.























