Jakarta, Fusilatnews – Sejumlah negara memberlakukan perlakuan khusus dan memperketat pintu masuk untuk yang datang dari China dan khususnya untuk turis dari China, berkaitan tengah kembali melonjaknya kasus Covid-19 di China. Negara-negara yang menerapkan perlakuna khusus tersebut, antara lain Amerika, Jepang, Maroko, Malaysia, dll
Rekasi negara-negara tersebut atas pengetatan turis China tersebut, membuat China menjadi marah. Juru bicara Kemeterian Luar Negeri China, Wang Wenbin mengatakan, pengetatan untuk turis China itu tidak berdasdarkan fakta dan bertentangan dengan kebenaran. Dia mengklaim hal itu didasari atas prasangka, fitnah, dan manipulasi politik dengan motif tersembunyi.
Menurut Wang, saat ini patogenisitas dan virulensi Omicron telah melemah secara signifikan. Di sisi lain kemampuan China dalam perawatan medis, deteksi patogen, dan vaksinasi terus meningkat, yang mengarah pada optimalisasi tindakan COVID di negara tersebut.
“(Pergeseran kebijakan COVID) ini bersifat ilmiah, tepat waktu, dan perlu. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan keselamatan dan kesehatan masyarakat serta meminimalkan dampak epidemi terhadap pembangunan ekonomi dan sosial,” kata Wang, dalam konferensi pers pada Rabu lalu yang dikutip dari Global Times, Minggu, 1 Januari 2023.
Maroko juga akan memberlakukan larangan bagi orang-orang yang datang dari China, apa pun kewarganegaraannya, mulai 3 Januari untuk mencegah gelombang baru infeksi virus corona, kata kementerian luar negeri pada Sabtu. Beberapa negara telah memberlakukan pembatasan pada pelancong dari Tiongkok karena lonjakan kasus COVID-19. Ribuan turis mengunjungi Maroko dari China setiap tahun, biasanya melakukan perjalanan dengan penerbangan yang datang melalui Teluk. Dalam perubahan kebijakan yang tiba-tiba, China bulan ini mulai membongkar rezim COVID yang paling ketat di dunia dengan melakukan lockdown dan pengujian ekstensif, menempatkan ekonominya yang terpukul di jalur untuk dibuka kembali sepenuhnya tahun depan.
Pihak berwenang Hong Kong pada hari Rabu meminta Jepang untuk menghapus pembatasan penerbangan langsung dari kota itu, yang diberlakukan menyusul ledakan kasus virus corona di China daratan. Kota ini menerapkan pembatasan serupa selama perjuangannya sendiri melawan COVID, termasuk larangan cepat maskapai penerbangan untuk membawa penumpang positif virus dan pembatasan perjalanan untuk negara-negara dengan wabah besar. Jepang menjadi salah satu negara pertama yang memberlakukan pembatasan perjalanan khusus China minggu ini karena infeksi melonjak di seluruh daratan setelah pembongkaran strategi nol-COVID Beijing. Itu termasuk membatasi penerbangan langsung dari Hong Kong ke empat bandara – Narita dan Haneda di Tokyo, Kansai di Osaka dan Chubu di Nagoya.
Beijing menjadi yang pertama melewati puncak epidemi dan kehidupan secara bertahap kembali normal. Otoritas China telah membuat penilaian ilmiah dan persiapan yang diperlukan untuk kemungkinan puncak epidemi di provinsi dan kota lain. China juga memiliki keyakinan penuh untuk memastikan kemajuan transisi yang lancar dan teratur.
Namun, Wang mengkritik media Barat sengaja membesar-besarkan atau mendistorsi penyesuaian kebijakan pencegahan dan pengendalian epidemi China. “Ini benar-benar standar ganda dan sangat melanggar etika profesional jurnalisme,” ujar Wang mengecam.
China membuka perbatasannya setelah tiga tahun menerapkan kebijakan Zero-Covid yang melakukan pembatasan secara ketat. Warga China diizinkan untuk melakukan penerbangan internasional. Hal ini disambut gembira dengan naiknya pemesanan tiket ke luar negeri oleh penduduk China.
Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan memahami kekhawatiran negara-negara yang melalukan pembatasan ketat terhadap turis China. Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Twitter Kamis malam mengatakan perlu lebih banyak informasi untuk menilai lonjakan terbaru infeksi COVID-19 di China.
Beberapa negara memberlakukan pembatasan pada pelancong dari China karena lonjakan infeksi COVID-19 setelah negara itu membatalkan kebijakan nol-Covid yang ketat. “Dengan tidak adanya informasi komprehensif dari China, dapat dimengerti bahwa negara-negara di seluruh dunia bertindak dengan cara yang mereka yakini dapat melindungi populasi mereka,” tulis kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Twitter Kamis malam. Dia mendesak China untuk lebih terbuka dengan informasi tentang keadaan pandemi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Bali Anggiat Napitupulu mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerapkan pengetatan kedatangan bagi wisatawan asal China meskipun covid di Negeri Tirai Bambu tersebut tengah melonjak. Pihaknya menunggu kebijakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pengetatan kedatangan tersebut. “Untuk wisatawan China yang masuk ke Indonesia khususnya ke Bali, kita belum ada treatment khusus. Jadi, kita masih perlakuan sama seperti wisatawan mancanegara negara lainnya. Hanya saja sampai sekarang memang penerbangan langsung dari China ke Bali belum ada,” kata dia, saat dihubungi Kamis (29/12) malam.
Ia juga menyebutkan wisatawan China yang datang ke Bali mencapai 100 sampai 200 orang per bulan. Mereka biasanya datang ke Bali melewati Singapura lalu ke Bandara Soekarno Hatta. Kemudian mereka menggunakan penerbangan domestik menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Atau, kalau tidak melewati Jakarta katanya, wisatawan China itu biasanya langsung dari Singapura ke Bali. “Wisatawan China ke Bali ada mungkin via Jakarta. Jadi memantaunya kedatangannya di Bandara Soekarno Hatta. Itu juga satu atau dua penerbangannya. Karena di negaranya masih ketat sekali,” ujarnya. Kasus covid di China terus melonjak beberapa waktu belakangan ini setelah pemerintah Negeri Tirai Bambu tersebut melonggarkan kebijakan nol covid mereka. Akibat lonjakan itu, obat flu dan demam yang sebelumnya dilarang dibeli di China, ludes sehingga membuat stok jadi kosong. Tak hanya itu, antrean juga mengular di klinik kesehatan dan unit gawat darurat. Jenazah juga tak ketinggalan ‘antre’ untuk dikremasi.
Meski meningkat, pemerintah China tak mau lagi melaporkan perkembangan harian angka kasus infeksi Covid-19 di sana. Tak hanya itu, sejumlah warga China yang sempat terkekang selama kebijakan nol covid malah balas dendam dengan berpelesiran termasuk ke luar negeri.
























