Indonesia, 30 Mei (PusilatNews) – Gubernur dari Provinsi Niigata Jepang dengan mudah mengalahkan lawannya yang anti-nuklir dalam pemilihan pada Minggu, kata lembaga penyiaran publik NHK, hasil dari suatu keberanian dari anggota partai yang berkuasa, untuk mendorong negara, mengatasi yang sebagian besar yang menganggur, yaitu menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir.
Hideyo Hanazumi, yang dari Partai Demokrat Liberal (LDP), pimpinan Perdana Menteri Fumio Kishida, mengalahkan pengusaha lokal dan aktivis lama menentang energi nuklir, Naomi Katagiri dengan selisih yang besar, dilaporkan NHK, mengutip exit poll.
Tidak disebutkan angka pastinya, namun Hanazumi juga mengklaim kemenangan dalam pidatonya kepada para pendukungnya.
Pemungutan suara di Niigata, sebagai pusat rumah pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia, dipantau secara ketat oleh petinggi LDP di Tokyo, sebagai ukuran kesiapan pemilih untuk kembali merangkul tenaga nuklir.
Puluhan reaktor Jepang menganggur setelah bencana nuklir Fukushima 2011, termasuk pabrik Kashiwazaki-Kariwa di Niigata. Meskipun banyak orang Jepang yang waspada terhadap tenaga nuklir, tetapi krisis Ukraina dan pelemahan yen telah menyebabkan lonjakan biaya energi menjadi tinffi dan memukul rumah tangga mereka.
Dalam pemilihan gubernur terakhir di Niigata empat tahun lalu, tenaga nuklir menjadi isu utama. Kali ini peringkat kelima untuk pemilih, menurut survei baru-baru ini oleh surat kabar Niigata Nippo, telah dikalahkan oleh masalah ekonomi.
Hanazumi diharapkan menang dengan mudah kali ini. Selama kampanyenya, dia mencoba untuk menghindari masalah nuklir dan ketika ditanya tentang hal itu, dia menggemakan garis pemerintah bahwa keselamatan adalah prioritas.
Kishida mengatakan pada hari Jumat bahwa Jepang akan mengambil langkah-langkah nyata untuk memulai kembali pembangkit listrik tenaga nuklir yang menganggur dengan prioritas diberikan pada keselamatan, untuk menstabilkan harga dan pasokan energi. Baca selengkapnya
Hanya 10 reaktor nuklir yang beroperasi di Jepang, dibandingkan dengan 54 sebelum bencana Fukushima. Pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kontribusi tenaga nuklir dalam bauran energi hingga 22% pada tahun 2030, dari 6% pada tahun 2019.
Sumber : Reuters
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News























