Oleh: Taufan Teguh Akbari, Dosen
JAKARTA – Beberapa hari lalu, ada satu berita yang menarik perhatian saya, yaitu munculnya sosok pengusaha dari Asia yang menempati daftar 10 (top 10) orang terkaya di dunia. Biasanya, daftar orang terkaya didominasi sosok pengusaha dari dunia Barat. Katakanlah Bill Gates, Jeff Bezos, Elon Musk, Warren Buffet, Mark Zuckeberg, dan lain-lain. Kini, mereka mulai tergeser oleh seorang pengusaha asal India, Gautam Adani.
Dalam beberapa bulan terakhir, Gautam Adani terus meningkat kekayaannya. Berita terbaru mengungkapkan dia menempati peringkat kedua sebagai orang terkaya di dunia. Kekayaannya hanya satu peringkat di bawah Elon Musk, pengusaha futuristik yang sukses dengan Tesla. Gautam menggeser Jeff Bezos, founder dari Amazon.
Di September 2022, total kekayaan CEO Adani Group adalah Rp 2.300 triliun, dalam kurs dollar sebesar 155,5 miliar dollar. Saya yakin akan banyak sosok pengusaha dari benua Asia yang akan menempati top 10 orang terkaya dan menggeser dominasi dari dunia Barat. Akan tetapi, apa yang membuat saya tertarik bukanlah jumlah kekayaannya yang fantastis, melainkan sejarah hidupnya yang membuat saya terinspirasi dengan sosok perjalanan seorang Gautam Adani.
Latar belakang tak jadi belenggu
Pada 2019, penelitian SMERU Research Institute sempat menghebohkan publik. Riset yang meneliti tingkat pendapatan anak dari keluarga ekonomi rendah setelah mereka dewasa menyimpulkan satu hal yang cukup mengganggu bagi banyak orang. Menurut riset itu, pendapatan anak dari keluarga prasejahtera setelah dewasa 87 persen lebih rendah dibandingkan anak-anak yang terlahir dari keluarga yang sejahtera.
Cukup banyak orang yang menentang hasil penelitian itu. Menurut mereka yang menentang, orang prasejahtera pun dapat keluar dari jerat kemiskinan asal mereka bekerja keras. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemiskinan adalah masalah yang kompleks. Ada dimensi budaya, ekonomi, dan sosial-politik.
Kita tidak bisa melihat dari satu faktor semata. Namun, saya sepakat bahwa kita pun bisa keluar dari jerat kemiskinan dan mengubah pola pikir kita. Ini yang Gautam Adani buktikan.
Gautam berasal dari keluarga yang bisa dikatakan prasejahtera menurut standar di India. Ayahnya seorang pedagang tekstil yang penghasilannya tak menentu. Namun, dia bertekad untuk menyekolahkan delapan orang anaknya sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Gautam dikuliahkan di Universitas Gujarat.
Pada fase menjadi mahasiswa, Gautam mengambil keputusan penting yang akan mengubah nasib hidupnya. Dia memutuskan untuk berhenti kuliah. Di umur 16 tahun, dengan hanya bermodalkan 1.000 rupee, dia pergi ke Mumbai. Kota tersebut dijuluki sebagai “The City of Dreams.”
Mirip dengan Jakarta yang masih jadi favorit para perantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dari sini, ada sebuah pelajaran penting bagi kita, yaitu keberanian mengambil risiko. Memang, perbedaannya tipis antara kenekatan dan keberanian. Akan tetapi, saat memutuskan untuk dropout, dia sudah mempertimbangkan pilihan dan konsekuensi baik atau buruknya.
Selain itu, dia berefleksi tentang kelebihan dan kekurangan dirinya. Dia merasa tidak mampu menyelesaikan pendidikan tingginya dan ingin menggunakan waktunya untuk belajar hal yang lebih besar. Karena itu, dengan segala pro dan kontranya, dia memutuskan untuk berhenti kuliah dengan pertimbangan yang sangat matang.
Gautam memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, setidaknya terhadap diri sendiri atau disebut dengan self-leadership. Salah satu ciri seseorang berhasil memimpin dirinya adalah munculnya keinginan kuat untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ia juga memiliki tingkat self-regulation yang tinggi. Ini terlihat dari Gautam yang memutuskan dengan penuh pertimbangan baik dan buruknya keputusan yang dia ambil.
Filsuf Yunani, Aristoteles, pernah mengatakan, “Courage is the mother of all virtues because without it, you cannot consistently perform the others.” Karena keberanianlah, seseorang bisa selangkah di depan yang lainnya.
Semangat belajar, kesiapan dan kesempatan
Setelah dia memutuskan untuk pergi ke Mumbai, dia bekerja sebagai penyortir berlian selama 2-3 tahun. Kesempatan yang didapatkan Gautam dia manfaatkan sebaik mungkin untuk mempelajari seluk-beluk perdagangan, khususnya bidang bisnis yang dia tekuni. Gautam punya semangat belajar yang sangat tinggi untuk bisa menguasai sesuatu. Salah satu pelajaran kepemimpinan dari sosok Gautam adalah bahwa dia memiliki hasrat untuk belajar yang sangat tinggi.
Menjadi sosok terkaya kedua di dunia tidak membuatnya berhenti belajar. Terbukti di usia yang sudah tidak muda lagi, dia masih berkomitmen untuk setiap hari membaca buku, membaca artikel, mendengarkan podcast, diskusi orang lain, dan sering bepergian mengikuti berbagai perkembangan kemajuan teknologi yang ada di benua lain, seperti betapa seringnya ia pulang pergi ke Silicon Valley, hanya untuk melihat bagaimana perkembangan teknologi terbaru di negeri Paman Sam.
Gautam menekankan kepada anak muda pentingnya memiliki “passion for learning” and “hunger for growing”. Keinginan dan daya juang ini merupakan perwujudan dari seseorang yang telah mengetahui apa yang diinginkannya dalam hidup.
Dengan kata lain, Gautam sudah memiliki visi untuk menjadi seorang pengusaha. Memiliki sebuah visi memang menjadi karakter fundamental bagi seorang pemimpin. Harvard Business Review mempertegas bahwa kemampuan utama pemimpin adalah “setting direction & having a vision”. Hal itu berperan sebagai bintang pemandu agar langkah menjadi lebih terarah.
Untuk bisa mencapai visi, dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerja keras agar bisa tercapai. Itulah yang ditunjukkan oleh Gautam saat masa remajanya.
Gautam juga memiliki sifat rendah hati. Dia tahu apa yang jadi kekurangan dan kelebihannya. Dia belajar banyak hal agar bisa menjadi jauh lebih baik lagi. Sifat tersebut penting bagi seorang pemimpin. Menurut Chiu, Balkundi & Tesluk (2020), kerendahan hati adalah karakter terpenting untuk menumbuhkan kerja sama tim yang kohesif.
Selain itu, riset dari Bourke & Titus (2019) yang dimuat di Harvard Business Review mengungkapkan enam karakter penting yang harus dimiliki pemimpin: komitmen, kerendahan hati, sadar terhadap bias, memiliki rasa ingin tahu terhadap orang lain, memiliki kecerdasan budaya, dan kolaborasi efektif.
Sembari belajar seluk-beluk perdagangan, Gautam merintis bisnis pialang berliannya sendiri di Zaveer Bazaar. Tempat tersebut merupakan pasar berlian yang tak tertandingi waktu itu, sehingga Gautam bisa mengaplikasikan hasil belajarnya dengan maksimal. Dalam kurun waktu 2-3 tahun, Gautam belajar tentang perdagangan dan berlian sembari menjalankan usaha pialang berliannya.
Ada yang menarik mengapa Gautam bisa melangkah sejauh ini. Selain karena daya juang dan semangatnya untuk belajar, Gautam mendapatkan dukungan dari kedua orangtuanya. Tanpa dukungan mereka, mungkin ia tidak bisa melangkah lebih jauh. Ini pun diungkapkan sendiri oleh Gautam.
Saat ia memutuskan untuk keluar dari bangku kuliah, kedua orangtuanya mendukung penuh keputusannya. Kedua orangtuanya memberikan kepercayaan besar bahwa Gautam bisa menjadi apa pun yang dia inginkan. Dukungan kedua orangtua ditambah keuletannya membuatnya bisa melakukan apa pun.
Peran kedua orangtua Gautam sangat penting. Banyak studi juga yang menjelaskan bahwa peran orangtua vital bagi kesuksesan anak. Misalnya dalam hal akademik, Naite (2021) mengatakan bahwa anak-anak yang orangtuanya terlibat aktif meraih kesuksesan akademik yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang keterlibatan orangtuanya tidak begitu tinggi.
Hasil penelitian di atas pun bisa direfleksikan terhadap kasus Gautam yang mendapatkan kepercayaan dari kedua orangtua. Kepercayaan yang diberikan orangtuanyalah yang membuat Gautam bisa melangkah dengan lebih tenang, tanpa perlu memikirkan apakah kedua orangtuanya akan menghentikan langkahnya atau tidak. Faktor itulah yang menjadi esensial bagi kesuksesan Gautam.
Setelah merintis bisnis berliannya, tahun 1981 Gautam diamanahkan untuk menjalankan bisnis plastik oleh saudaranya. Dengan insting bisnis dan pengalamannya selama menjadi pialang saham membuat Gautam setuju untuk menjalani usaha tersebut. Ia akhirnya belajar lagi bagaimana produk plastik yang berkualitas. Ini menjadi langkah penting berikutnya baginya untuk mendirikan imperium bisnisnya.
Inovasi, eksekusi, relasi, dan kontribusi
Hal penting lainnya yang bisa kita ambil pelajaran dari Gautam adalah berpikir besar dan kemampuannya mengeksekusi visinya. Di usianya yang baru 26 tahun, tepatnya di tahun 1988, dia membuat langkah besar dengan mendirikan perusahaan yang bernama Adani Grup.
Awalnya perusahaannya itu bergerak di bidang komoditas. Namun, lambat laun, Gautam melebarkan sayapnya ke berbagai bidang seperti energi, minyak dan manufaktur sampai infrastruktur. Perlahan tetapi pasti, Gautam meraih kesuksesannya sendiri.
Tahun 1994, dia berhasil memenangkan tender proyek untuk pembangunan Pelabuhan Mundra. Dia pun menguasai pelabuhan tersebut. Selain itu, di Mumbai, dia juga memiliki 74 persen saham Bandara Internasional Mumbai di tahun 2020. Perusahaan Gautam juga mendapatkna proyek PLTS terbesar di dunia dengan nilai sebesar enam miliar dollar.
Keuletan dan ketekunan, juga sedikit keberuntungan membuat Gautam meraih kesuksesan sekarang. Rasanya, dia pun layak untuk menempati peringkat kedua orang terkaya di dunia. Namun, yang membuatnya bisa di posisi sekarang adalah keberaniannya untuk berpikir besar dan dibarengi dengan tindakan.
Dia tidak ragu untuk berekspansi karena dia ingin berkontribusi terhadap perekonomian India. Alasan itulah yang menjadi pendorongnya. Gautam menyampaikan bahwa seorang pemimpin perlu untuk terus berinovasi. Ia menyampaikan ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Pertama, peka serta mengenali dengan baik potensi terbaik yang ada disekitar. Kedua adalah berani mengambil risiko dengan mengeksekusi ide menjadi tindakan nyata.
Seperti Indonesia saat ini, betapa banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh anak mudanya, baik itu sebagai pengusaha, pendidik, birokrat dan berbagai macam profesi lain yang bisa memberdayakan potensi bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kombinasi antara kepiawaian eksekusi dan keinginan untuk berkontribusi kepada negara mengantarkannya ke posisinya saat ini.
Majalah TIME memasukkan Gautam sebagai 100 orang paling berpengaruh di tahun 2022. Pencapaian itu hanya bisa diraih berkat keuletan, komitmen, dan kerja kerasnya. Apakah posisinya akan tergeser lagi itu berbeda konteksnya. Namun, perjalanan hidupnya yang membuat kita bisa belajar banyak dari Gautam Adani.
Pelajaran kepemimpinan menarik lain dari sosok Gautam adalah ia berteman dengan siapa saja, ia memiliki banyak teman dari berbagai macam kalangan. Ia pernah berkata, ‘I don’t like politics. I am not aligned to any political party. I have friends in all political parties’.
Lingkaran pertemanan akan memengaruhi bagaimana kita berpikir, merasa, bertindak dan mengambil keputusan. Termasuk menjadi faktor penting yang dapat menjadikan kita seperti apa di masa depan.
Self leadership dan kepedulian Gautam dari kecil sudah menunjukkan berbagai macam karakter kepemimpinan. Yang paling penting adalah bagaimana dia mampu memimpin sendiri: keluar dari pola pikir lama, berani mengambil risiko yang terukur, menunjukkan sikap semangat dan pantang menyerah.
Dari Gautam Adani, kita belajar bagaimana self-leadership diterapkan dalam menggapai apa yang diinginkan oleh banyak orang. Self-leadership adalah sebuah konsep tentang bagaimana kita memimpin diri sendiri dan melihat pada aspek sikap dan pola. Menurut Stewart & Courtright (2011), self-leadership pada tingkat individu secara konsisten terkait dengan peningkatan baik dalam sikap kerja maupun kinerja.
Seseorang yang memiliki kemampuan self-leadership yang mumpuni mampu meregulasi emosi dan menunjukkan sikap yang dibutuhkan dalam koridor meraih sesuatu yang diinginkan. Self-leadership merupakan komponen terpenting yang menentukan kesuksesan dalam diri kita. Pemimpin harus percaya terhadap kemampuan diri (self-efficacy).
Gautam muda memiliki komitmen yang sangat kuat terhadap dirinya dan dia memiliki keinginan yang kuat untuk menuntaskan janji kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Kita telah melihat sendiri latar belakang Gautam Adani. Dia adalah cerminan dari adagium “From zero to hero.”
Salah satu pelajaran yang disampaikan Gautam, sebagai anak muda harus menghindari cara berpikir yang berlebihan atau overthinking atau over analysis of situation. Hal itu yang membuat anak muda tidak bisa maju karena terjebak dalam imajinasi yang memenjarakan dirinya.
Awalnya dia hanya berasal dari keluarga kecil yang miskin, lalu dengan ketekunan dan kerja keras, Gautam mampu meraih semuanya. Kita semua punya visi dan impian yang ingin dicapai. Namun, dibutuhkan kemampuan untuk mengendalikan sikap dan pikiran kita agar fokus dan loyal terhadap tujuan.
Gautam merepresentasikan bahwa visi itu penting, namun kita harus fleksibel terhadap cara yang ditempuh, selama itu masih sesuai dengan koridor yang kita tetapkan. Generasi muda Indonesia bisa belajar banyak dari self-leadership Gautam Adani.
Gautama Adani sangat memperhatikan dan memiliki kepedulian terhadap pengembangan talenta muda dari India. Ia percaya bahwa masa depan di tangan generasi mudanya, maju atau tidaknya bangsa tergantung bagaimana pengembangan generasi produktifnya diperhatikan dengan seksama.
Pemuda/i Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi pribadi yang hebat dan berdampak bagi masyarakat. Mereka hanya butuh sosok role model yang tepat, yang membuatnya terpacu untuk meraih banyak hal.
Jika berbicara Gen Z secara khusus, kurang lebih satu per lima penduduk Indonesia adalah Generasi Z. Bayangkan jika Generasi Z telah menemukan role model yang tepat dan mampu memimpin diri mereka sendiri. Saya yakin Indonesia akan menjadi negara yang hebat!
Belajar dari Gautam Adani, generasi muda harus lebih berani melangkah dan mengambil peran, serta mengeksekusi visi yang ada di pikiran. Memiliki rasa rendah hati yang tinggi karena hidup adalah laboratorium belajar yang tidak lekang oleh waktu. Jangan takut untuk melakukan kesalahan karena mereka adalah guru yang dapat membimbing kita ke arah yang lebih baik.
Dalam salah satu pidatonya ia menyatakan bahwa India merupakan blessed country atau negeri yang diberkati. Hal ini serupa dengan Ibu Pertiwi. Selain dianggap sebagai surga dunia, Indonesia merupakan paru-paru semesta juga sangat terberkati dengan segala kelebihan yang dimiliki negeri ini.
Selain potensi kekayaaan alam, kesamaan antara India dan Indonesia bahwa keduanya merupakan negara yang diberkati dengan banyaknya sumber daya muda berbakat, cerdas dan penuh talenta. Oleh karenanya, generasi muda Tanah Air, jangan ragu untuk menunjukkan semangat menyala untuk berdaya, berkarya, dan bermakna!
Dikutip dari Kompas.com, Jumat 30 September 2022.

























