• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

Ali Syarief by Ali Syarief
June 6, 2026
in Economy, Feature
0
Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Tidak ada yang lebih jujur daripada pasar.

Politikus bisa berpidato. Menteri bisa menggelar konferensi pers. Jubir pemerintah bisa mengeluarkan seribu penjelasan. Namun pasar hanya mengenal satu bahasa: kepercayaan.

Ketika rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, sesungguhnya yang sedang jatuh bukan hanya nilai tukar mata uang nasional. Yang sedang jatuh adalah tingkat kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah untuk mengelola ekonomi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, hingga hari ini publik belum melihat adanya kebijakan luar biasa yang sebanding dengan besarnya ancaman yang sedang dihadapi. Pemerintah tampak lebih banyak menjelaskan keadaan daripada memperbaikinya.

Dunia usaha mulai cemas. Importir mulai menghitung ulang biaya produksi. Industri manufaktur menghadapi tekanan akibat mahalnya bahan baku. Investor mulai bertanya-tanya apakah Indonesia masih memiliki arah ekonomi yang jelas.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah justru terlihat kehilangan narasi.

Padahal sejarah ekonomi Indonesia mengajarkan satu pelajaran penting: krisis tidak dimulai ketika angka memburuk. Krisis dimulai ketika pemerintah kehilangan kemampuan meyakinkan publik bahwa ia masih mengendalikan keadaan.

Tahun 1998 memberikan pelajaran yang mahal. Ketika rupiah terjun bebas, yang runtuh bukan hanya mata uang, tetapi juga kepercayaan terhadap negara. Hari ini memang situasinya berbeda. Fundamental ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan masa itu. Sistem perbankan lebih kuat. Cadangan devisa lebih besar. Regulasi lebih matang.

Namun satu faktor tetap sama: psikologi pasar.

Dan psikologi pasar saat ini sedang mengirimkan sinyal bahaya.

APBN 2026 disusun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Ketika realitas pasar bergerak jauh di atas asumsi tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah pemerintah salah membaca risiko, atau pemerintah memang tidak memiliki instrumen yang cukup untuk mengendalikan keadaan?

Kedua kemungkinan itu sama-sama tidak menenangkan.

Sementara itu Bank Indonesia terpaksa melakukan intervensi besar-besaran dan menguras cadangan devisa untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Suku bunga dinaikkan. Likuiditas diperketat. Berbagai instrumen moneter dikerahkan.

Tetapi langkah-langkah tersebut pada dasarnya hanyalah rem darurat.

Rem darurat tidak pernah dirancang untuk membawa kendaraan menuju tujuan. Ia hanya dirancang agar kendaraan tidak langsung masuk jurang.

Masalah sesungguhnya terletak pada arah kendaraan itu sendiri.

Sampai hari ini masyarakat belum melihat adanya peta jalan yang jelas mengenai bagaimana pemerintah akan mengembalikan kepercayaan pasar, menjaga stabilitas fiskal, memperkuat ekspor, menarik investasi produktif, dan mengurangi ketergantungan terhadap arus modal jangka pendek.

Yang terdengar justru optimisme.

Masalahnya, pasar tidak membeli optimisme.

Pasar membeli kepastian.

Ketika investor mulai mempertanyakan independensi institusi ekonomi, ketika lembaga pemeringkat mulai memberikan peringatan, ketika pelaku usaha mulai menahan ekspansi, dan ketika masyarakat mulai mengkhawatirkan daya beli mereka, maka pemerintah tidak bisa menjawab semuanya dengan kalimat bahwa keadaan masih terkendali.

Karena jika benar terkendali, pasar tidak akan bereaksi seperti sekarang.

Rakyat pada akhirnya tidak peduli pada istilah teknokratis yang rumit. Mereka hanya memahami satu hal sederhana: apakah harga kebutuhan hidup naik atau tidak. Apakah lapangan kerja bertambah atau tidak. Apakah usaha mereka masih mampu bertahan atau tidak.

Ketika rupiah melemah, biaya hidup meningkat. Ketika biaya hidup meningkat, daya beli turun. Ketika daya beli turun, ekonomi melambat. Dan ketika ekonomi melambat, rakyat kecil selalu menjadi korban pertama sekaligus korban terbesar.

Itulah mengapa persoalan kurs bukan sekadar urusan para ekonom di ruang rapat berpendingin udara. Persoalan kurs adalah persoalan dapur jutaan keluarga Indonesia.

Karena itu sikap pasif pemerintah menjadi sulit dipahami.

Dalam situasi normal, pemerintah boleh optimistis.

Dalam situasi krisis, pemerintah wajib bertindak.

Dan yang dibutuhkan saat ini bukanlah narasi, melainkan kepemimpinan.

Kepemimpinan yang mampu menghadirkan rasa aman kepada pasar. Kepemimpinan yang mampu memberikan kepastian kepada dunia usaha. Kepemimpinan yang mampu menunjukkan bahwa negara memiliki strategi, memiliki kendali, dan memiliki solusi.

Jika pelemahan rupiah terus berlanjut menuju Rp20.000 bahkan Rp22.000 per dolar AS tanpa adanya terobosan kebijakan yang nyata, maka persoalannya tidak lagi semata-mata ekonomi.

Ia berubah menjadi persoalan kredibilitas pemerintahan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak pidato yang disampaikan para penguasa.

Sejarah hanya akan mengingat satu hal: apakah ketika badai datang, mereka mampu memimpin kapal keluar dari gelombang, atau justru ikut hanyut bersama kepanikan.

Dan sampai hari ini, pertanyaan itu masih belum memperoleh jawaban yang meyakinkan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

Next Post

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

MBG = Makan Bergizi Gratis, Makan Beracun Gratis, atau Maling Berkedok Gizi?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...