Oleh : DR Ateng Kusnandar Adisaputra
MENJELANG bulan suci Ramadhan 1445 H ini, di whatsApp milik pribadi, penulis mendapat kiriman postingan dari seorang teman yang bernama Pa Syauqi berisi “Give More, Expect Less”, kalau diterjemahkan secara bebas berarti “Memberi lebih banyak, berharap lebih sedikit”.
Bila diuraikan, beginilah jalan cerita dari “Give More, Expect Less”. Seorang pria diminta mengecat sebuah perahu. Ia pun mengecat perahu tersebut dengan warna yang sesuai dengan pesanan pemiliknya. Saat mengecat perahu tersebut, ia menemukan sebuah lubang kecil di lambung perahu, dan menambalnya diam-diam. Begitu selesai mengecat, ia terima upahnya sesuai kesepakatan.
Tak lama berselang, pemilik perahu menemui lagi pria yang mengecat perahunya, dan memberinya cek yang nilainya sungguh pantantis. Si tukang cat terkejut dan berkata “Anda sudah membayar upah saya, Tuan”.
“Tapi ini bukan upah untuk mengecat. Ini karena Anda sudah menambal satu lubang di lambung perahuku”, kata pemilik perahu. “Ah itu kan Cuma hal kecil, Anda tidak perlu memberi Saya uang sebanyak ini untuk pekerjaan sekecil itu”, kata Si tukang cat perahu. “Mungkin Anda tidak mengerti, biar Saya jelaskan. Saat Saya minta Anda mengecat perahu itu, Saya lupa memberi tahu tentang lubang itu. Ketika cat perahu sudah kering, anak-anak Saya langsung pergi memancing dengan perahu itu. Mereka tidak tahu tentang lubang itu, sementara Saya tidak berada di rumah saat mereka pergi.
Ketika Saya pulang dan menyadari mereka telah membawa perahu itu untuk memancing, Saya jadi sangat khawatir karena Saya tahu kalau perahu itu bocor. Alangkah “leganya” Saya ketika melihat mereka semua pulang dengan SELAMAT. Lalu Saya mendapati bahwa Anda telah menambal lambung perahu yang bocor itu.
Anda telah MENYELAMATKAN Anak-anak Saya! Yang sudah Anda lakukan bukan hal kecil, karena itu telah MENYELAMATKAN nyawa orang lain. Sesungguhnya Saya tidak punya cukup uang untuk membayar KEBAIKAN Bapak itu…!!!
Dari cerita tersebut, cukup banyak mengandung pesan moral yang bisa kita ambil, kita petik hikmahnya, dan bermanfaat serta berguna bagi kehidupan manusia, yakni dalam hal tolong menolong, manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, dan kita tidak tahu kapan perbuatan baik yang telah kita lakukan itu akan berbuah manis mendapat balasan dari orang lain.
Tolong Menolong
Sebagai umat yang beriman, bertakwa, dan selalu mengharapkan ridho, serta magfirah dari Allah SWT, sebagai manusia biasa, kita dituntut untuk terus menjalankan perintah dan menjauhi larangan sesuai ajaran Islam. Dari sekian banyak ajaran Islam, salah satu perintah yang dapat diamalkan adalah perbuatan tolong menolong. Tolong menolong ini tidak hanya dilakukan terhadap sesama umat Islam, akan tetapi juga bisa dilakukan kepada sesama umat manusia lainnya.
Perbuatan tolong menolong ini tidak selalu diidentikan dengan memberikan bantuan berupa uang ataupun harta benda saja, akan tetapi dapat juga membantu seseorang dengan tenaga, dengan pemikiran yang berguna dalam meringankan beban hidup dan pekerjaannya.
Sebagai contoh, tolong menolong pada saat terjadi bencana alam seperti banjir, longsong, angin puting beliung yang mengakibatkan berbagai kerusakan rumah tinggal, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan nyawa, maka kita bisa memberikan bantuan sesuai kemampuan.
Perintah tolong menolong ini dengan tegas tertuang sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2, yang artinya : “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”. Dari ayat tersebut jelaslah, bahwa kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan bukan dalam perbuatan yang negatif.
Ada hikmah dari amalan tolong menolong ini, karena yang didapat tidak hanya pahala dari Allah SWT, akan tetapi kebaikan yang telah dilakukan kepada seseorang suatu saat nanti akan dirasakan manfaatnya.
Seperti yang dikerjakan oleh pengecat perahu tersebut, dia hanya bekerja sesuai dengan pesanan si pemilik perahu untuk mengecat perahunya yang sudah usang, dan ada lubang kecil yang sudah ditambal supaya tidak bocor perahunya. Pada saat menambal lubang kecil, dalam benaknya mungkin tidak membayangkan akan mendapat imbalan yang lebih besar dari pekerjaannya, akan tetapi pemilik perahu telah menilai hasil dari lubang perahu yang sudah ditutup itu telah menyelamatkan anak-anaknya. Pekerjaan kecil tetapi hasilnya sangat luar biasa sekali.
Manusia Yang Bermanfaat
Hikmah lainnya yang dapat dipetik dari cerita di atas, bahwa sebagai manusia kita harus bisa memberikan manfaat bagi manusia yang lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan kuncinya adalah adanya kemauan, niat atau keinginan.
Apabila kita memiliki ilmu, keahlian, kompetensi tertentu, maka manfaatkan untuk diajarkan kepada orang lain, sehingga orang tersebut menjadi berdaya. Bila kita memiliki harta berlebih, maka manfaatkan untuk membantu meringankan beban orang lain.
Yang paling sederhana, semua orang bisa berbagi sharing berbagai artikel ilmu pengetahuan, ilmu keagamaan, dan yang lainnya yang positif dan bernilai kebaikan, melalui facebook, twitter, instagram, atau media sosial lainnya, sehingga orang lain tercerahkan melalui postingan tersebut.
Menjelang, pada saat bulan suci Ramadhan 1445 H ini, dan seterusnya, mari kita perbanyak tolong menolong dalam kebaikan dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Aamiin.
























