FusilatNews– Kembali lagi, berita duka tersiar dari Papua. Sembilan orang ditembak mati di wilayah paling timur Indonesia, Papua, dalam serangan yang diyakini dilakukan oleh separatis bersenjata, KKB. Menurut keterangan polisi pada Sabtu kemarin.
“Benar terjadi penyerangan terhadap warga sipil yang mengakibatkan 10 orang mengalami luka tembak, sembilan di antaranya meninggal dunia,” kata Direktur Reserse Kriminal Polda Papua Faizal Rahmadani kepada kantor berita Antara.
Pihak berwenang sedang menyelidiki insiden itu tetapi memprioritaskan evakuasi warga sipil, katanya.
Serangan hari Sabtu terjadi beberapa hari setelah protes tentang undang-undang baru yang akan membuat wilayah tersebut dibagi dari dua menjadi lima provinsi, dengan penambahan provinsi Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Dataran Tinggi.
Pemerintah mengatakan daerah administrasi baru akan mempercepat pembangunan, meningkatkan pelayanan publik dan menciptakan lebih banyak kesempatan bagi orang Papua untuk bekerja sebagai pegawai negeri.
Tetapi para kritikus mengatakan langkah itu akan memberi Jakarta lebih banyak kekuatan atas wilayah yang jauh dan kaya dengan sumber daya alam itu. Pertempuran dibawah untuk kemerdekaan telah dilancarkan sejak daerah itu menjadi bagian dari Indonesia, setelah pemungutan suara kontroversial yang diawasi PBB pada tahun 1969.
Tentara Pembebasan Papua Barat, yang telah ditetapkan pemerintah sebagai organisasi teroris, bulan ini menolak pembagian wilayah administrative baru, dan mengancam akan menembak mati setiap pejabat yang terlibat.
“Strategi membagi dan aturan Jakarta ditentang di seluruh Papua. Orang Papua khawatir bahwa akan lebih banyak orang Papua non-Pribumi akan datang, dan akan semakin meminggirkan mereka dari tanah mereka sendiri,” kata Veronica Koman, seorang pengacara hak asasi manusia Indonesia yang mendapat Amnesty International Australia. Kejadian ini adalah serangan paling mematikan sejak 2018.
“Kemungkinan pejuang bersenjata Papua hari ini mengirimkan pesan bahwa lebih banyak orang non-Pribumi Papua tidak diterima. Sebuah laporan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict minggu ini mengatakan Tentara Pembebasan Papua Barat telah “melepaskan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Papua” sejak “Deklarasi Perang” pada tahun 2018, terutama didorong oleh kemampuan kelompok tersebut untuk memperoleh lebih banyak senjata.

























