FusilatNews– Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung mendapat Sorotan Tajam, Proyek transportasi ambisius tersebut menghadapi masalah besar, terutama dari sisi pendanaan. Selain itu banyak alasan Project tersebut banyak menuai keritikan.
Yang pertama, karena Indonesia lebih memilih China daripada Jepang, untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, diketahui sebelumnya pemerintah Indonesia mantap memilih China karena negara itu menawarkan pembangunan proyek tanpa APBN dan jaminan pemerintah. Sebaliknya, Jepang melalui JICA meminta pemerintah Indonesia untuk menjamin proyek tersebut. Karena menurut Jepang, pengerjaan kereta cepat sulit terealisasi apabila menggunakan skema murni business to business (B to B).
Yang kedua Dana menggunakan APBN, Pemerintah menggelontorkan duit APBN Rp 4,3 triliun untuk mendanai proyek kerja sama yang sebagian besar didanai utang tersebut. Banyak masyarakat yang kecewa dengan janji Presiden Jokowi yang sebelumnya berulangkali berikrar tidak akan menggunakan uang rakyat sepeser pun. Proyek tersebut juga sebelumnya diklaim tidak akan dijamin pemerintah.
Ketiga, karena biaya proyek ini terus membengkak. biaya konstruksi yang ternyata membengkak hingga puluhan triliun rupiah. Target operasionalnya pun molor dan direvisi beberapa kali. Awalnya, biaya proyek sekitar Rp84,9 triliun. Tapi naik sekitar Rp26,6 triliun.
Artinya proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung menghabiskan dana lebih dari Rp100 triliun.
Yang ke empat jarak, dikarenakan jarak Jakarta Bandung yang relatif dekat, yaitu hanya sekitar 150 kilometer, sehingga dinilai akan membuat kecepatan kereta cepat kurang maksimal. Transportasi Jakarta dan Bandung selama ini sudah dianggap baik dengan keberadaan jalan arteri yang memadai, Tol Cipularang, serta sudah dilayani kereta reguler KA Argo Parahyangan. Padahal ada banyak mode transportasi antara Jakarta dan Bandung.
Meski demikian menghabiskan triliunan dana, rupanya Kereta Cepat Jakarta Bandung ini tidak menghubungkan Kota Jakarta dengan Kota Bandung.
dilansir dari kompas.com pada Sabtu (16/7/2022), stasiun akhir di Kota Bandung tidak terletak di tengah Kota Bandung. Sementara stasiun kereta api cepat berada di Tegalluar yang masuk Kabupaten Bandung, dan Stasiun Padalarang yang merupakan wilayah Kabupaten Bandung Barat. Di lini masa, warganet kerap mempelesetkan Kereta Cepat Jakarta Bandung sebagai Kereta Cepat Halim Padalarang. Baik Padalarang maupun Tegalluar, merupakan wilayah pinggiran atau daerah penyangga Kota Bandung.
Untuk menuju pusat Kota Bandung dari kedua wilayah tersebut, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 30-45 menit, itu pun jika jalanan lenggang alias tanpa macet. Jika jalanan macet, tentulah membutuhkan waktu lebih lama. Alternatif lainnya, penumpang kereta cepat tujuan Bandung bisa turun di Stasiun Padalarang lalu berjalan kaki menuju Stasiun KA Padalarang untuk kemudian berganti moda ke KA reguler, yakni KA feeder yang dioperasikan PT KAI untuk mengantar hingga Stasiun Bandung.
Tidak heran proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung ini disebut sebagai proyek serba “nanggung”. Namun menghabiskan banyak biaya. “Kereta Cepat Jakarta Bandung proyek yang nanggung, karena apa?,” tanya Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno. “Stasiun terakhirnya ada di pinggiran keramaian di Tegalluar, bukan di Kota Bandung,” jelas Djoko.

























