Itu ada kesalahpahaman, selama ini membantu, membela AMIN, kemudian dikira-kira mau, ternyata beliau membantu, membantu aja, membela-membela aja, tapi tidak mau dalam tim sukses,” kata Imin di Senayan, Jakarta, Ahad (26/11).
“Itu ada kesalahpahaman, selama ini membantu, membela AMIN, kemudian dikira-kira mau, ternyata beliau membantu, membantu aja, membela-membela aja, tapi tidak mau dalam tim sukses,” kata Imin di Senayan, Jakarta, Ahad (26/11).
Cak Iimin juga menolak dituding mencatut nama-nama tokoh yang kemudian mengundurkan diri itu. Imin kembali menegaskan itu karena adanya kesalahpahaman.
“Kesalahpahaman, dikiranya menjadi tim mau,” katanya.
Sebelumnya salah satu pihak yang disebut menjadi Anggota Dewan Pakar Timnas AMIN adalah Ridwan Dalimunthe. Belakangan, ia menyatakan tidak bersedia.
Ridwan menyebut dirinya masih menjadi bagian dari grup media besar yang harus bersikap netral di Pilpres 2024 mendatang.
Dua orang lain yang merasa keberatan dimasukkan kedalam Timnas AMIN yakni Pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia atau KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) dan Ary Ginanjar, pendiri lembaga pembangunan karakter ESQ.
Co-Captain Timnas AMIN Sudirman Said juga menanggapi tentang permintaan Komisaris Trans Digital Media Ridwan Dalimunthe yang ingin dikeluarkan dari anggota Dewan Pakar Timnas AMIN.
Kendati demikian, Sudirman membantah telah mencatut nama mereka untuk tergabung ke dalam Timnas AMIN. Ia mengaku telah berkomunikasi sebelum memutuskan menuliskan nama mereka di jajaran Timnas AMIN.
Tak hanya Ridwan, Sudirman juga menghormati setiap pihak yang tak ingin namanya dimasukkan ke dalam jajaran Timnas AMIN.
“Kita hormati Pak Ary Ginanjar, Pak Ridwan Dalimunthe kemudian Pak Hensat itu memang mereka memilih secara formal independen,” kata Sudirman di Rumah Koalisi Perubahan, Jakarta Selatan, Rabu (22/11).


























