Anak asuh saya, orang Jepang, saat awal pandemic, tinggal lama bersama di rumah. Karena situasi sedang lock down, jadi saya sendiri mengajari ia di rumah. Belajar bahasa Indonesia dan hal-ihwal kebudayaan Indonesia. Lalu, sebagai orang Indonesia, saya berkomunikasi setiap saat dengan orang tuanya. Sekedar memaklumkan, bahwa anaknya bersama saya dan keluarga baik-baik saja. Kemudian saya tawarkan juga, silahkan bila ada waktu, kalian berdua dapat menjenguk anakmu di Indonesia.
Terkejut saya mendengar jawaban dari Ibunya. Ia katakan, “I love my son, So I will let him alone to understand his life – for his future”. Saya menyayangi anak saya, jadi saya akan biarkan dia sendiri dapat memehami kehidupannya, untuk masa depannya!.
Buat saya sangat “wow”. Ini kontradiksi dengan akar budaya kita. Mengasihi anak itu, disuapinya, diselimbutinya, dimandikannya, dst. Bahkan kemana saja, apalagi saat ini, dipantau melalui Whatapp.
Seperti dilaporkan berbagai pihak, bahwa business anak-anak Jokowi dibanyak bidang, yang sempat heboh karena pasokan modalnya lebih hingga 70 M, ternyata satu persatu mulai bangkrut. Bisa dimaklumi, bahwa business memang punya hukumnya sendiri. Ia tidak ada kaitannya lansung dengan heriditas raja sekalipun, modal besar bahkan, bila salah tindak dan kaprah, ya bangkrut juga.
Itulah Business.
Karena itulah, mungkin, Jokowi mulai mengarahkan anak-anaknya plus menantunya, untuk bisa seperti dirinya, cara mudah untuk suskes dan cepat kaya meniti karir di dunia politik. Tinekanan (kejadian), Gibran jadi walikota di Solo. Bobi Naustion jadi walikota di Medan, hanya dengan meminta dukungan Megawati Soekarnoputri. Dengan short-cut para calon-calon yang telah lama menanti kesempatan untuk menjadi walikota solo, gugur disalip Gibran. Pun saya percaya, terjadi pula pada kandidat walikota di Medan pada waktu itu.
Si Bungsu Kaesang, kelihatan sudah seperti Bapaknya, tapi luar biasa. Ia, setelah dua hari mendapat KTA PSI, langsung di dapuk menjadi Ketua Umum PSI. Melabrak AD/ART PSI sendiri, Kaesang menjelma menjadi tiba-tiba/ujug-ujug Ketua PSI.
Semiotika yang tepat untuk mendefinikan apa yang sedang dilakukan Jokowi untuk anak-anaknya, adalah menposisikan mereka menjadi Ketua umum Partai, menjadi Walikota dan bahkan Cawapres dengan cara yang Instant.
Buah Manis karena Karbitan.
Dinasti Politik diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga. Sistem ini biasanya erat dengan sistem negara monarki absolut atau kerajaan.
Meskipun begitu, bentuk dari dinasti politik itu tidak hanya dalam sistem kerajaan. Sistem itu bahkan bisa diterapkan dalam negara demokrasi seperti Indonesia. Menurut Koordinator Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng setidaknya ada tiga jenis politik dinasti di Indonesia.
- Regenerasi
Ciri dinasti jenis regenerasi adalah kepemimpinan tanpa jeda, yakni satu keluarga memimpin sebuah daerah tanpa jeda. Modelnya seperti arisan keluarga,” ucap Endi. Ia mencontohkan dinasti politik yang terjadi di Kediri. Dinasti itu bermula dari Sutrisno, Bupati Kediri periode 1999-2009. Setelah menjabat selama dua periode, kekuasaan diperebutkan istri pertama dan kedua Sutrisno. Dalam pilkada 2009, istri pertama Sutrisno, Hariyani menang.
2. Lintas kamar atau cabang
Jenis ini biasa terjadi di Aceh ketika kursi eksekutif dan legislatif diduduki kakak beradik. “Kontrol check and balance dalam situasi seperti ini berpotensi hilang
- Lintas Daerah
Jenis politik dinasti ini adalah ketika anggota sebuah keluarga menguasai jabatan strategis di berbagai daerah. Ia menuturkan model dinasti ini terjadi di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
Praktik kekuasaan politik dinasti dapat merugikan masyarakat. “Tidak ada satu pun daerah yang maju dengan dipimpin dinasti politik.”
Sejalan dengan Endi, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) saat itu Adnan Topan Husodo menyatakan dinasti politik berpotensi besar menimbulkan perilaku korupsi. “Dinasti politik cenderung melahirkan korupsi,” ujarnya.


























