Fusilatnews – Orang bilang, pemimpin adalah cerminan bangsa. Maka ketika seorang kepala negara pergi ke negeri asing, berdiri di podium, lalu berkata: “I want to test my minister… silakan Pak Tom, please answer,” dan wajahnya clungak-clinguk bak murid SD nyasar ke ruang ujian TOEFL, maka yang malu bukan cuma satu RT, bukan pula satu kementerian. Tapi seluruh republik ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, ikut menundukkan kepala—bukan karena hormat, tapi karena sedih, getir, dan geli bercampur risih.
Kala itu Jokowi berada di Amerika Serikat. Negeri yang bahasanya adalah bahasa dunia, tempat Presiden Indonesia semestinya berdiri sejajar dengan para pemimpin global, bukan malah terengah-engah mengucap salam sambil mencari-cari wajah menteri yang bisa menyelamatkan muka. Tapi begitulah, ketika kapasitas tak diisi kompetensi, dan gaya disandarkan pada citra, maka saat ujian datang, yang keluar hanyalah gimmick. Dan gimmick, sayangnya, tak laku dalam diplomasi internasional.
Singapura bahkan lebih kejam. Negara kecil itu pernah membuat video viral yang menertawakan buruknya penguasaan bahasa Inggris Jokowi. Satir halus mereka lebih menusuk dari kritik tajam dalam negeri. Di mata mereka, Jokowi bukan sekadar presiden dari Indonesia, tapi simbol Asia Tenggara yang seharusnya mampu berdiri gagah di pentas global. Tapi yang terlihat hanyalah pemimpin yang terbata-bata, mengandalkan senyum dan spontanitas untuk menutupi kurangnya substansi.
Bandingkan dengan Prabowo. Ia bukan hanya seorang jenderal tua yang kini doyan berdiplomasi, tapi juga seorang orator multilingual yang bisa bicara dalam bahasa Inggris, Prancis, bahkan sedikit Jerman, jika diperlukan. Ketika ia berbicara di forum internasional, tak ada clungak-clinguk. Tak ada lirik kiri-kanan cari menteri cadangan. Ia tahu kapan harus serius, kapan harus retoris, dan kapan harus tegas. Prabowo tak hanya paham dunia, tapi ia ingin membawa Indonesia ke dalam pergaulan dunia—bukan sekadar jadi penonton, apalagi pelengkap penderita.
Itulah sebabnya, kecewa kita pada era Jokowi bukan cuma soal proyek mangkrak atau utang menumpuk. Tapi juga karena, dalam banyak kesempatan penting, kita disuguhi tontonan yang membuat kita kecil di mata dunia. Ketika Jokowi tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris, itu bukan cuma soal linguistik. Itu soal legitimasi, soal kapabilitas seorang pemimpin mewakili bangsanya di forum tertinggi antarnegara.
Prabowo, dengan segala kontroversinya, tampaknya justru lebih siap memainkan peran itu. Dan publik tahu, bahkan mereka yang tak suka Prabowo pun diam-diam mengakui: “Kalau soal berbicara di dunia internasional, ya jelas lebih mending dia.”
Jadi, ketika nanti kita lihat lagi panggung-panggung dunia, kita ingin pemimpin yang tak hanya bisa berkata “please answer”, tapi pemimpin yang bisa menjawab sendiri. Dengan mantap, dengan logis, dengan bahasa dunia.
Karena bangsa besar tak butuh pemimpin yang malu-malu lidah. Kita butuh pemimpin yang bisa bicara. Bukan hanya di dalam negeri—tapi juga di luar negeri. Tanpa clungak, tanpa clinguk.

























