Jakarta, Fusilatnews – 25 Juli 2025 – Rangkaian bencana alam melanda sejumlah negara dalam sepekan terakhir akibat cuaca ekstrem. Mulai dari gelombang panas dan kebakaran hutan di Turki dan Siprus, hingga hujan deras dan badai tropis yang menyebabkan banjir besar di Vietnam, Filipina, Korea Selatan, dan Tiongkok. Ribuan orang terdampak, puluhan tewas, dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Kebakaran Maut di Turki dan Siprus
Di Turki, sedikitnya enam titik kebakaran hutan masih berkobar pada Jumat (25/7), memicu evakuasi sejumlah kota dan desa. Menteri Pertanian dan Kehutanan Turki, Ibrahim Yumakli, mengatakan bahwa angin kencang dan suhu tinggi menciptakan kondisi yang “sangat berbahaya” bagi tim pemadam kebakaran.
Tragedi tak terhindarkan. Sepuluh petugas pemadam tewas dalam upaya memadamkan api di Provinsi Eskisehir. Empat belas lainnya dilaporkan luka-luka. Api kemudian menyebar ke Provinsi Afyonkarahisar di wilayah tengah Turki.
Sementara itu, di Siprus, dua orang tewas dan ratusan lainnya dievakuasi setelah kebakaran besar melanda wilayah selatan negara tersebut, tepatnya di daerah penghasil anggur di utara kota Limassol. Api yang dipicu gelombang panas ekstrem itu menghanguskan sedikitnya 100 kilometer persegi lahan sejak Rabu siang (23/7).
Banjir dan Badai di Asia Timur dan Tenggara
Badai tropis Wipha membawa hujan lebat ke wilayah Asia Tenggara dan Timur, menyebabkan banjir bandang serta tanah longsor di berbagai wilayah.
Di Vietnam, hujan deras menghantam Provinsi Nghe An, menyebabkan banjir parah yang menewaskan sedikitnya tiga orang. Satu orang lainnya masih hilang. Vietnam yang memiliki garis pantai panjang di Laut Cina Selatan memang rawan terhadap badai dan topan besar. Wipha tercatat sebagai badai besar pertama yang melanda negara ini tahun ini.
Badai yang sama juga memperparah kondisi hujan muson di Filipina. Sejumlah wilayah dilanda banjir setinggi lutut hingga pinggang, memaksa pemerintah menutup sekolah selama dua hari, membatalkan penerbangan, dan menghentikan aktivitas perkantoran. Ribuan keluarga masih berada di pusat-pusat evakuasi sejak hujan deras mengguyur wilayah utara negara tersebut sejak pekan lalu.
Korea Selatan dan Tiongkok Tak Luput
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, telah menetapkan enam distrik sebagai zona bencana khusus setelah hujan deras menghantam negara itu selama beberapa hari terakhir. Menurut data Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan, 19 orang meninggal, sembilan lainnya masih hilang, dan lebih dari 2.500 warga terpaksa mengungsi.
Di Tiongkok, curah hujan luar biasa tercatat di kota Baoding, Provinsi Hebei. Badai di bagian utara negara itu mengguyur hampir satu tahun volume hujan hanya dalam waktu sehari. Di distrik Yi, Baoding, curah hujan mencapai 447,4 milimeter dalam 24 jam terakhir, mencetak rekor baru di beberapa stasiun cuaca lokal. Lebih dari 19.000 orang dilaporkan telah mengungsi.
Fenomena Global
Gelombang panas dan badai besar yang terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah ini kembali mengingatkan dunia pada ancaman nyata perubahan iklim. Para ahli meteorologi dan lingkungan menyerukan langkah global yang lebih tegas untuk mengatasi pemanasan global yang memicu cuaca ekstrem dan bencana beruntun.
Cuaca ekstrem tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat, dan pemerintah di seluruh dunia dihadapkan pada tantangan besar untuk melindungi warganya, sekaligus memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.


























