Jakarta –FusilatNews.-– Sejumlah tokoh yang tergabung dalam Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menyampaikan dukungan terhadap Iran dalam menghadapi konflik dengan Israel. Pernyataan tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan Halal Bihalal KAHMI Nasional yang berlangsung di Kantor Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kalibata, Jakarta, pada 13 Mei 2026.
Acara tersebut dihadiri antara lain oleh Koordinator Presidium KAHMI, Dr. H. Abdullah Puteh, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, serta Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta menyampaikan dukungan terhadap Iran dalam konflik yang melibatkan Israel. Mereka menilai konflik di Palestina, khususnya di Gaza, merupakan akibat panjang dari penjajahan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.
Dukungan serupa sebelumnya juga disampaikan dalam Seminar Halal Bihalal bertema “Mengokohkan Pilar Kebangsaan dan Perdamaian Dunia dalam Menghadapi Konflik Geopolitik” yang diselenggarakan KAHMI Rayon Universitas Nasional (Unas) di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta, pada 31 Mei 2026.
Pada kesempatan itu, Musyawarah Rayon KAHMI Unas secara aklamasi memilih Rohendi sebagai Ketua Umum KAHMI Rayon Unas periode 2026–2031. Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Umum KAHMI Unas sebelumnya, Hamka S.IP, serta disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Persaudaraan RI-Iran dan perwakilan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI).
Dalam sambutannya, Hamka menyatakan Indonesia tidak boleh bersikap pasif dalam menyikapi dinamika geopolitik global. Menurutnya, ketegaran Iran dalam menghadapi berbagai tekanan internasional dapat menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia.
Meski sejumlah panelis yang dijadwalkan hadir berhalangan, di antaranya Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Jusuf Kalla, Zulfan B. Lindan, Mohammad Boroujerdi, dan Ustaz Ferry Nur, seminar tetap menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Prof. Tb. Massa Djafar, Dr. H.M.S. Kaban, Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim, dan Lynda Sutito.
Dalam paparannya, Lynda Sutito menyoroti potensi dampak konflik Timur Tengah terhadap ketersediaan obat-obatan di Indonesia. Ia menyebut ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dan distribusi obat internasional masih cukup tinggi sehingga konflik berkepanjangan dapat memengaruhi rantai pasok global, termasuk harga minyak, gas, pupuk, dan bahan baku industri lainnya.
Menurutnya, pengalaman pandemi global menunjukkan pentingnya kemandirian suatu negara dalam sektor kesehatan. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat ketahanan nasional, khususnya dalam bidang kesehatan dan farmasi.
Sementara itu, Prof. Marwah Daud Ibrahim menekankan pentingnya pemberdayaan sumber daya nasional untuk kesejahteraan rakyat. Ia mengajak generasi muda dan alumni HMI untuk berperan sebagai agen pencerahan melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam dan pertambangan harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar wilayah eksploitasi. Ia juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar tidak hanya berorientasi menjadi pegawai negeri atau pejabat, melainkan mampu membangun kemandirian ekonomi melalui berbagai bidang usaha produktif.
Seminar tersebut menjadi forum diskusi mengenai tantangan geopolitik global, ketahanan nasional, serta peran organisasi kemasyarakatan dalam memperkuat persatuan bangsa dan mendorong perdamaian dunia.























