Damai Hari Lubis – Ketua KabidHum HAM / LPBH DPP KWRI
“Dan milik Allah-lah Timur dan Barat. Maka ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas (rahmat-Nya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 115)
Komunis? Kenapa tidak?
Itu alami dan ilmiah. Bukankah manusia adalah makhluk sosial, makhluk komunal, bahkan makhluk politis—zoon politicon? Kita hidup bersama dalam tatanan masyarakat yang saling berbagi, saling peduli atas dasar kepentingan kolektif dan keseimbangan ekosistem kehidupan.
Yang tidak alami adalah komunisme—ideologi yang menentang kapitalisme secara dogmatis dan ekstrem, menafikan hak milik pribadi dan mengabaikan fitrah individual manusia.
Kapitalis? Kenapa tidak?
Itu juga alami dan ilmiah. Hidup butuh modal. Tanpa kapital, bagaimana mungkin ada konsep derma, zakat, atau sedekah sebagaimana diperintahkan Tuhan? Kapital menjadi alat agar yang miskin dapat menikmati kemuliaan hidup, bukan terus menangis dalam keterpurukan.
Yang tak alami justru adalah kapitalisme—paham yang mendorong keserakahan, menafikan kepentingan sosial, dan melahirkan ketimpangan.
Materialis? Kenapa tidak?
Manusia hidup di dunia material. Kebutuhan akan makanan, pakaian, rumah, hingga teknologi—itu semua materi. Tetapi saat materi menjadi satu-satunya ukuran hidup, lahirlah materialisme yang menyingkirkan dimensi spiritual.
Padahal, kapital, material, dan spiritual bukan lawan. Mereka justru saling berkaitan. Bahkan tak mudah ditarik garis batasnya. Hidup menjadi harmonis saat kita mampu memadukan ketiganya secara seimbang.
Spiritual? Kenapa tidak?
Manusia adalah makhluk spiritual. Terlebih bangsa ini telah disatukan oleh nilai-nilai Pancasila yang dalam jiwanya ada ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial.
Yang tidak alami adalah spiritualisme semu—yang hanya memuja akhirat tapi menelantarkan dunia, yang bersujud khusyuk tapi membenci tetangga, yang menyebut cinta Tuhan tapi melupakan kasih pada sesama.
Individualis? Kenapa tidak?
Kita punya hak-hak dasar sebagai individu: hak hidup, hak keluarga, hak untuk bahagia. Menyayangi anak, istri, bahkan menantu adalah bentuk individualisme sehat.
Yang tak sehat adalah individualisme egoistik—yang menolak tanggung jawab sosial dan tak peduli pada harmoni bersama.
Sosialis? Kenapa tidak?
Karena manusia adalah makhluk sosial. Tak mungkin hidup sendiri tanpa komunitas. Tapi yang tidak ilmiah adalah sosialisme ideologis yang menafikan hak individu, menyeragamkan kehendak, dan menolak keberagaman.
Idealnya, hidup itu menolak rasisme, menjunjung inklusivitas, menyatukan si kaya dan si miskin dalam keadilan, bukan menjadikan yang bodoh terus tertindas oleh yang mengaku pintar.
Biarkan kehidupan ini berjalan sebagaimana alam menuntun simfoninya. Biarkan ia mengalir apa adanya, selaras antara yang personal dan komunal, antara materi dan ruhani, antara modal dan kearifan, antara gagasan dan tindakan.
Sudahi pola pikir sempit yang membenturkan segala hal: kapitalisme melawan komunisme, spiritualisme melawan materialisme, individu melawan masyarakat. Dunia tak diciptakan untuk dipertentangkan, tapi untuk saling melengkapi.
Cukup sudah generasi “wal-‘ashr” tertipu oleh wajah-wajah penuh ambisi yang mengaku pemimpin bijak hanya karena memiliki titel panjang di depan dan belakang nama. Titel bisa dibeli. Gelar bisa ditumpuk. Tapi moral dan akhlak? Tak bisa ditipu.
Jangan lagi kita ditipu oleh mereka yang pura-pura miskin, bersumpah tak punya uang di bank, padahal kontainer berisi triliunan tersusun rapi di halaman rumah mereka.
Bung, Tuan, dan Puan!
Yang paling berbahaya adalah si bloon yang lihai menipu, yang memaksa diri disebut “jujur setengah mati.” Mereka bukan hanya merusak hari ini, tapi juga menghancurkan masa depan anak-anak kita.
Hidup akan selalu tampak rumit bagi mereka yang melihatnya secara terpotong-potong. Hidup akan terasa damai bagi mereka yang mampu memandang secara menyeluruh.
Ketika semua unsur hidup—kapital, komunal, spiritual, material, individu, dan sosial—berjalan beriringan, saling memahami, saling mengasihi, maka akan tercipta damai di hati, dan akhirnya, damai di bumi.
Damai Hari Lubis – Ketua KabidHum HAM / LPBH DPP KWRI
























