• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Ironi Negeri Beras: Swasembada di Atas Kertas, Harga di Langit!

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
August 3, 2025
in Economy, Feature
0
Di Tengah Klaim Pemerintah Terkait Kecukupan Stok, Harga Beras Terus Melonjak
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja-(Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)


DRAMA perberasan di negeri ini seolah tak pernah usai. Rupanya, menyelesaikan problematika beras tak cukup hanya dengan meningkatkan produksi hingga titik maksimal demi mengejar mimpi swasembada. Buktinya? Saat produksi digadang-gadang berlimpah, harga beras justru melejit naik—mengundang keresahan publik luas. Wajar jika kemudian banyak yang bertanya-tanya: kok bisa?

Secara teori ekonomi, jika suplai meningkat, maka harga seharusnya turun. Namun, kenapa logika sederhana itu tak berlaku dalam urusan beras? Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut biang keroknya adalah para middleman—pedagang perantara—yang diduga memainkan harga sesuka hati.

Fenomena ini seharusnya sudah bisa diantisipasi oleh pemerintah. Di balik keberhasilan menyerap gabah, mestinya ada kesadaran bahwa para mafia pangan selalu siap memanfaatkan celah, apalagi saat pemerintah sedang euforia atas capaian produksi. Mereka tahu betul kapan harus “main”.

Sayangnya, pengelolaan tata niaga perberasan kita masih tampak setengah hati. Ketika harga melonjak, pemerintah seperti “kebakaran jenggot”. Langkah responsif pun diambil: menggelontorkan beras bansos sebanyak 360 ribu ton untuk 18,3 juta penerima manfaat, dengan anggaran sekitar Rp4,9 triliun. Program ini mencakup distribusi untuk dua bulan sekaligus—Juni dan Juli 2025.

Pemerintah tampak optimistis. Katanya, stok beras nasional tetap aman. Bahkan ada rencana menyerap gabah tambahan sebesar 400 ribu ton pada Juli ini, serta melanjutkan ekspor beras ke Malaysia sebesar 2.000 ton per bulan atau 24 ribu ton per tahun.

Namun, di sinilah letak kompleksitasnya. Bansos dan ekspor memang tampak positif, tapi tak bisa dilepaskan dari isu utama: ketersediaan beras nasional. Ada tiga poin krusial yang perlu diperhatikan:

  1. Prioritas dalam negeri harus menjadi pegangan. Tak ada kompromi soal ini. Ekspor hanya boleh dilakukan bila kebutuhan domestik—khususnya bagi kelompok rentan—sudah sepenuhnya terpenuhi.
  2. Harga gabah di tingkat petani harus adil. Jangan sampai petani sebagai produsen justru tertekan oleh tata niaga yang dikendalikan pedagang besar. Jika harga di lapangan tak berpihak pada petani, ekspor justru memperlebar ketimpangan.
  3. Pemerintah perlu menjamin cadangan pangan nasional. Ini penting agar gejolak harga tak menjadi musiman, dan publik tak selalu menjadi korban ketidaksiapan sistem.

Program bansos pun harus tepat sasaran. Jangan sampai hanya menjadi proyek populis yang tak menyentuh akar persoalan. Demikian juga ekspor—jika memang harus dilakukan, maka transparansi data produksi menjadi kunci. Kita tak bisa terus bekerja dengan data abu-abu. Apalagi data abal-abal.

Jadi, pertanyaannya kini: apakah kita benar-benar sudah swasembada, atau hanya merasa sudah?


Penutup:
Di tengah gegap gempita klaim surplus dan sukses panen, rakyat masih saja menjerit karena harga beras yang tak masuk akal. Petani tetap merugi, pedagang besar menangguk untung, dan pemerintah sibuk memadamkan api. Sebuah drama panjang yang seolah tak kunjung menemukan akhir.

Jika negara ini ingin benar-benar berdaulat dalam urusan pangan, maka niat politik yang serius, tata niaga yang transparan, dan perlindungan terhadap petani kecil bukan lagi sekadar wacana. Sebab kalau tidak, swasembada hanya akan menjadi ilusi di atas kertas, sementara rakyat tetap harus membeli beras dengan harga yang makin mencekik.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

DAMAI DI HATI, DAMAI DI BUMI

Next Post

Anies Baswedan, Prabowo, dan Rekonsiliasi Tanpa Sisa

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup
Economy

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar
Feature

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip
Feature

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Next Post
Anies Baswedan, Prabowo, dan Rekonsiliasi Tanpa Sisa

Anies Baswedan, Prabowo, dan Rekonsiliasi Tanpa Sisa

Menko Polhukam Soroti Pengibaran Bendera One Piece: Langgar Hukum

Menko Polhukam Soroti Pengibaran Bendera One Piece: Langgar Hukum

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026
Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

April 25, 2026
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

April 25, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

April 25, 2026
Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

April 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

Mengapa Bangsa Jepang Membeli: Antara Budaya, Kebutuhan, dan Filsafat Hidup

April 25, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Siapa yang Harus Mengerti: Presiden Memahami Rakyat atau Rakyat Memahami Presiden?

April 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...