Oleh: Entang Sastraatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Di bawah langit Nusantara yang subur ini, tak ada yang menyangkal bahwa secara kuantitas, gabah hasil panen petani kita saat ini sedang melimpah ruah. Pujian layak disematkan kepada Perum Bulog yang telah bekerja keras menyerap gabah petani dalam momen panen raya belum lama ini. Gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia kini penuh sesak oleh tumpukan gabah dan beras. Bravo, Bulog!
Namun, limpahan ini membawa tantangan tersendiri. Keterbatasan kapasitas gudang membuat Bulog harus putar otak: mengoptimalkan gudang filial, dan menyewa gudang-gudang representatif untuk penyimpanan jangka pendek. Tapi tentu ini hanya solusi sesaat.
Untuk jangka menengah dan panjang, Presiden Prabowo telah memerintahkan pembangunan 25 ribu gudang alternatif. Ini bukan sekadar soal tempat penyimpanan—ini soal strategi besar menjaga ketahanan pangan nasional dan melindungi kesejahteraan petani.
Dengan tersedianya gudang-gudang baru ini, pemerintah bisa menyerap gabah petani secara lebih efektif, meminimalisasi kehilangan pascapanen, menjaga stabilitas harga, serta menghindari kembali terjerumus pada ketergantungan terhadap impor beras.
Mulai tahun 2025, pemerintah berkomitmen menyetop total impor beras. Bahkan, sinyal ekspor mulai menyala—direncanakan Indonesia akan mengekspor 2.000 ton beras per bulan ke Malaysia. Sebuah lompatan dari “jagoan impor” menjadi eksportir beras.
Namun, perubahan citra ini hanya akan berarti jika dijaga dengan konsistensi dan komitmen politik tinggi. Jangan sampai kebijakan ini hanya jadi euforia sesaat yang kemudian ambruk saat musim paceklik atau perubahan politik. Menyetop impor beras bukan cuma soal ekonomi—ini soal harga diri bangsa. Terlalu memalukan bila Indonesia kembali menjadi importir besar setelah mengibarkan panji sebagai eksportir.
Maka, perlu langkah strategis yang serius dan berkelanjutan. Setidaknya ada enam strategi kunci:
- Meningkatkan produksi dalam negeri: Dukungan nyata bagi petani melalui benih unggul, pupuk, dan infrastruktur.
- Meningkatkan kapasitas penyimpanan: Pembangunan gudang-gudang penyangga pangan yang memadai.
- Mengoptimalkan penyerapan gabah: Harga kompetitif dan proses serapan yang efisien.
- Pengawasan harga pasar: Mencegah lonjakan harga yang bisa menyulitkan rakyat.
- Peningkatan kualitas beras: Standar kualitas harus jadi acuan utama dalam pengolahan.
- Cadangan pangan nasional: Mempersiapkan skenario menghadapi potensi kekurangan pasokan.
Keenam langkah ini seharusnya menjadi bahan utama dalam penyusunan dokumen Strategi Penyetopan Impor Beras Nasional secara utuh, holistik, dan komprehensif. Jangan sampai kita terus menggunakan pendekatan reaktif ala “pemadam kebakaran.” Saatnya deteksi dini menjadi budaya kebijakan.
Akhir kata, gabah yang berlimpah bisa jadi berkah, tapi juga bisa meledak sebagai bom waktu jika tak dikelola dengan visi dan kesiapan. Perum Bulog—dengan mandatnya sebagai pengelola cadangan beras pemerintah—tentu telah menyiapkan skenario terbaiknya. Tinggal bagaimana seluruh pihak mendukung, agar gabah ‘any quality’ bisa dikemas menjadi cadangan beras berkualitas, bukan beban yang merisaukan.
Gabah melimpah harus jadi rahmat pembangunan—bukan tragedi kebijakan.






















