• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Dari Dwi Fungsi ABRI Menuju Sindrom Multifungsi TNI–Polri: Solusi atau Ancaman Demokrasi

fusilat by fusilat
December 20, 2025
in Birokrasi, Feature, Politik
0
Dari Dwi Fungsi ABRI Menuju Sindrom Multifungsi TNI–Polri: Solusi atau Ancaman Demokrasi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Dua dekade lebih pasca-Reformasi, lanskap demokrasi Indonesia justru menunjukkan gejala regresif yang patut dicemaskan. Jika dahulu kita bersepakat—dengan penuh kesadaran historis—untuk memisahkan secara tegas urusan pertahanan dan keamanan dari tata kelola sipil, hari ini garis demarkasi itu kembali mengabur. Keterlibatan personel TNI dan Polri di berbagai sektor sipil—mulai dari kementerian teknis, program ketahanan pangan, hingga posisi strategis di BUMN—perlahan dinormalisasi sebagai kewajaran baru.

Kita tengah menyaksikan lahirnya apa yang layak disebut sebagai “sindrom multifungsi TNI–Polri.” Sebuah kondisi di mana peran institusi bersenjata tidak lagi terbatas pada mandat konstitusionalnya, melainkan meluas ke wilayah administrasi publik yang seharusnya menjadi domain sipil.

Narasi pembenarannya nyaris selalu sama: TNI dan Polri dianggap lebih cepat, lebih disiplin, dan relatif lebih bersih dibanding birokrasi sipil yang dinilai lamban dan korup. Namun pertanyaannya mendasar: benarkah melibatkan personel bersenjata ke dalam tata kelola sipil merupakan solusi struktural, atau justru dosis racun yang perlahan melumpuhkan sistem meritokrasi dan demokrasi kita sendiri?

Mitos Disiplin Komando

Salah satu mitos yang paling sering direproduksi dalam wacana ini adalah anggapan bahwa disiplin militer dan kepolisian bersifat universal—otomatis unggul di semua medan, termasuk urusan sipil. Di sinilah jebakan logikanya.

Dalam sosiologi organisasi, disiplin bukanlah konsep tunggal. Terdapat perbedaan mendasar antara logika komando dan logika deliberasi. TNI dan Polri dirancang untuk kepatuhan hierarkis dan keputusan cepat demi efektivitas operasional di lapangan. Sebaliknya, kebijakan publik—seperti pangan, industri, atau pengelolaan BUMN—berada dalam ekosistem yang kompleks, penuh variabel, dan menuntut partisipasi banyak aktor.

Kebijakan publik yang sehat justru membutuhkan ruang debat, kritik terbuka, transparansi data, dan koreksi berkelanjutan. Ketika logika “siap, laksanakan” dipaksakan ke ruang sipil, yang lahir bukan kebijakan unggul, melainkan kebijakan yang mungkin cepat dieksekusi namun miskin akurasi karena mengabaikan keragaman perspektif dan basis ilmiah.

Jebakan Occupational Expansion

Secara teoretis, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk occupational expansion—perluasan wilayah kerja suatu profesi ke ranah yang bukan mandat utamanya. Samuel Huntington, melalui gagasan Supremasi Sipil (Civilian Control), menegaskan bahwa demokrasi yang sehat menuntut pemisahan fungsional yang jelas: militer fokus pada pertahanan eksternal, sementara kepolisian pada keamanan dan ketertiban domestik.

Ketika personel TNI–Polri ditarik masuk ke urusan teknis-administratif yang bersifat non-keamanan, yang terjadi bukan penguatan negara, melainkan erosi profesionalisme. Morris Janowitz, sosiolog militer terkemuka, mengingatkan bahwa keterlibatan berlebihan aparat bersenjata dalam urusan “kantoran” sipil justru berpotensi menurunkan kualitas fungsi utamanya. Tentara dan polisi yang sibuk mengelola distribusi beras atau manajemen korporasi negara berisiko kehilangan ketajaman sebagai alat pertahanan dan penegak hukum.

Alih-alih menjadi garda profesional, mereka terseret ke pusaran urusan administratif yang rawan konflik kepentingan dan tekanan politik.

Erosi Meritokrasi Sipil

Ketergantungan berlebihan penguasa sipil pada TNI–Polri juga mengirimkan pesan politis yang berbahaya: ketidakpercayaan terhadap kapasitas institusi sipil itu sendiri. Alih-alih membenahi birokrasi yang rapuh atau memperkuat ASN melalui sistem merit dan reformasi struktural, negara justru memilih jalan pintas dengan mengandalkan “kekuatan seragam” sebagai alat pendobrak.

Dampaknya bersifat laten dan jangka panjang. Institusi sipil tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh dewasa karena fungsi-fungsi strategisnya terus diambil alih oleh “saudara tua” bersenjata. Ini bukan lagi soal efisiensi, melainkan soal matinya regenerasi kepemimpinan sipil berbasis kompetensi dan keahlian teknis.

Menjaga Marwah, Merawat Mandat

Negara yang kuat bukanlah negara yang menyeragamkan semua peran di bawah satu atau dua institusi. Kekuatan sejati bangsa justru terletak pada kemampuannya menempatkan setiap elemen sesuai mandat dan kompetensinya. TNI adalah pilar pertahanan nasional, dan Polri adalah penjaga ketertiban masyarakat. Namun memaksa keduanya mengurusi tata kelola sipil yang bukan wilayah keahliannya justru merendahkan marwah profesionalisme mereka sendiri.

Demokrasi memang tidak pernah secepat instruksi komando. Ia lamban, riuh, dan sering melelahkan. Namun hanya melalui proses deliberatif itulah negara dapat dikelola dengan akal sehat, akuntabilitas, dan transparansi. Mengembalikan TNI–Polri ke mandat aslinya bukanlah pelemahan, melainkan ikhtiar menjaga agar demokrasi Indonesia tidak mati perlahan—tertidur nyaman dalam pelukan solusi instan yang serba seragam.


  •  

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Aktifis Diminta Minta Maaf kepada Jokowi: Negara Hukum atau Negara Sungkan?

Next Post

Ketika Racun Mengudara dan Negara Diminta Hadir

fusilat

fusilat

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post

Ketika Racun Mengudara dan Negara Diminta Hadir

Korupsi Menjadi Suatu Keniscayaan –  Beberapa Bupati Kena OTT

Korupsi Menjadi Suatu Keniscayaan - Beberapa Bupati Kena OTT

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...