• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Dari KM 50 ke Jalanan: Jejak Darah dan Luka di Tangan Polisi

Ali Syarief by Ali Syarief
August 29, 2025
in Crime, Feature
0
Dari KM 50 ke Jalanan: Jejak Darah dan Luka di Tangan Polisi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di negeri yang mestinya dijaga dengan rasa aman dan rasa adil, justru rakyat sering kali merasa ketakutan ketika berhadapan dengan polisi. Bukan semata karena wibawa seragamnya, melainkan karena trauma kolektif atas rekam jejak yang kelam. Polisi—institusi yang seharusnya berdiri di garda depan melindungi rakyat—terjerembab dalam jurang krisis kepercayaan yang semakin dalam.

Kasus KM 50 menjadi salah satu noda yang sulit dihapus dari memori publik. Enam nyawa melayang, proses hukum berjalan setengah hati, sementara pertanyaan mendasar tentang siapa yang seharusnya dilindungi dan siapa yang sebenarnya ditakuti, tak kunjung mendapat jawaban. Rakyat mencatat tragedi itu bukan hanya sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai simbol betapa mudahnya kekuasaan dipakai untuk menghabisi tanpa pertanggungjawaban.

Beberapa tahun berselang, rasa frustrasi itu kian menumpuk. Tindakan represif polisi terhadap para pemdemo—baik mahasiswa, aktivis, maupun masyarakat sipil—menjadi tontonan yang nyaris rutin. Gas air mata, pentungan, hingga tembakan kerap dilepaskan, seolah aspirasi rakyat dianggap ancaman negara. Padahal, demonstrasi adalah kanal sah demokrasi. Namun, di tangan polisi, protes rakyat sering kali berubah menjadi luka kolektif: darah tertumpah, tulang patah, bahkan nyawa melayang.

Yang terbaru, peristiwa pelindasan driver ojol di Jakarta kembali memicu kemarahan publik. Seorang pengemudi ojek online—warga biasa yang berjuang mencari nafkah—dilindas mobil polisi dalam sebuah insiden yang terekam dan tersebar luas. Alih-alih menampilkan wajah pengayom, tindakan itu seolah menegaskan bahwa rakyat hanyalah objek yang bisa ditindas kapan saja. Tidak sedikit yang menilai: polisi kini lebih menakutkan ketimbang begal.

Lebih menyakitkan lagi, rakyat kecil yang mestinya dilindungi justru kerap menjadi sasaran pungutan liar di jalanan. Dari sopir truk hingga pedagang kaki lima, banyak yang mengeluh harus menyisihkan uang demi menghindari masalah yang sengaja diciptakan aparat. Pungli seakan sudah menjadi tradisi gelap yang dilegalkan dengan seragam. Tak jarang pula muncul cerita bagaimana bandar narkoba, mafia tanah, atau pelaku kejahatan besar justru mendapat perlindungan dari oknum polisi, sementara pencuri kecil dan rakyat miskin ditindak tanpa ampun.

Dari KM 50, aksi represif terhadap demonstran, tragedi ojol, hingga pungli yang mencekik rakyat kecil, benang merahnya jelas: polisi kerap bertindak sebagai pelindung kekuasaan dan kejahatan, bukan pelindung rakyat. Padahal, mandat institusi ini berdiri atas dasar sumpah untuk melayani, mengayomi, dan melindungi masyarakat. Ironisnya, semakin hari jarak antara rakyat dan polisi semakin lebar, bukan karena rakyat tidak mau percaya, melainkan karena kepercayaan itu terus-menerus dikhianati.

Frustrasi rakyat bukanlah sekadar ekspresi emosional, melainkan jeritan dari ketidakberdayaan menghadapi aparat yang seharusnya menjadi sandaran terakhir. Pertanyaan mendasar pun muncul: kepada siapa rakyat harus mengadu ketika justru pelindungnya yang menjadi ancaman?

Hari ini, polisi mungkin masih bisa berlindung di balik narasi resmi, klarifikasi sepihak, atau proses hukum yang kabur. Namun sejarah punya cara sendiri untuk mengabadikan jejak. Bila polisi terus mengabaikan jeritan rakyat, bukan hanya legitimasi yang runtuh, tetapi juga makna keberadaan institusi itu sendiri.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Yang Terlindas dan Tertindas

Next Post

Rantis Lindas Pendemo, Prabowo Diminta Evaluasi Kapolri

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
Rantis Lindas Pendemo, Prabowo Diminta Evaluasi Kapolri

Rantis Lindas Pendemo, Prabowo Diminta Evaluasi Kapolri

Membubarkan Polri: Gagasan Radikal Gus Dur yang Masih Menggema

Membubarkan Polri: Gagasan Radikal Gus Dur yang Masih Menggema

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist