Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Hanya ada satu pesan: cooling down! Baik untuk polisi maupun demonstran.
Ya, cooling down atau proses pendinginan secara bertahap, dari intensitas tinggi ke intensitas rendah.
Pasalnya, seorang korban, Affan Kurniawan, sudah jatuh. Jangan sampai jatuh korban-korban lain seperti pada peristiwa 13, 14 dan 15 Mei 1998 yang kemudian memicu amuk massa.
Affan adalah pengemudi ojek online (ojol) yang entah kenapa tiba-tiba terlindas oleh kendaraan taktis (rantis) yang dikemudikan personel Brimob di Pejompongan, tak jauh dari titik konsentrasi demonstrasi massa menuntut pembubaran DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Affan tewas. Massa, termasuk rekan-rekan Affan sesama pengemudi ojok kemudian menggeruduk Markas Komando (Mako) Brimob di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam hingga Jumat (29/8/2025) dini hari.
Sebenarnya bukan kali ini saja komunitas ojol ikut berdemonstrasi. Sebelum-sebelumnya juga pernah. Bahkan ada aksi demo khusus komunitas ojol yang menuntut keadilan terhadap perusahaan mitranya. Mereka merasa tertindas dengan bagi hasil yang tak adil.
Kini, mereka dan juga demonstran lain juga merasa tertindas oleh pemerintah yang seenaknya menaikkan tarif pajak, menaikkan tunjangan DPR, tidak bisa mengendalikan harga barang dan sebagainya, sehingga mereka pun menuntut pembubaran DPR.
Ironisnya, ketika ada tuntutan pembubaran DPR, para wakil rakyat bukannya berkaca dan introspeksi, mereka justru asyik joget-joget saat Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus lalu.
Dan ini yang lebih tragis: Ahmad Sahroni, anggota DPR dari Partai Nasdem menyatakan mereka yang menuntut pembubaran DPR adalah orang paling tolol sedunia.
Sebenarnya rakyat tidak tolol atau bodoh-bodoh amat. Mereka sadar bahwa DPR tidak bisa dibubarkan, karena keberadaannya merupakan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Rakyat cuma meluapkan emosi sesaat karena melihat DPR sudah jauh dari rakyat. Di saat rakyat menderita karena beban ekonomi yang kian sarat: susah cari kerja, banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi, DPR sama sekali tak punya empati. Mereka menyetujui tunjungan perumahan Rp50 juta per bulan per anggota DPR. Para wakil rakyat juga joget-joget saat sidang.
Semua itu, plus komentar tolol Sahroni ternyata menjadi semacam bahan bakar yang menyalakan semangat para demonstran. Anarkisme pun tak terelkkan. Baik saat demo di depan Gedung DPR pada 25 Agustus 2025 maupun 28 Agustus 2025.
Arab Spring
Tewasnya Affan Kurniawan yang menjadi martir dalam aksi demonstrasi menuntut pembubaran DPR tak bisa dianggap enteng. Jika Polri salah menangani, kematian Affan akan menyulut perlawanan yang jauh lebih besar.
Hal ini pun mengingatkan kita akan fenomena Arab Spring yang terjadi di negara-negara Arab tahun 2010 lalu.
Dikutip dari sebuah sumber, Jumat (29/8/2025), Arab Spring dipicu oleh kematian Mohammed Bouazizi, seorang pedagang kaki lima di Tunisia yang membakar diri pada 17 Desember 2010 sebagai bentuk protes terhadap perlakuan buruk dan korupsi pemerintah.
Aksi ini menyulut demonstrasi besar-besaran yang kemudian menyebar ke negara-negara Arab lainnya, menuntut perubahan politik dan sosial serta pemerintahan yang lebih demokratis dan meningkatnya kesejahteraan.
Bouazizi adalah seorang pedagang buah dan sayur yang gerobaknya disita oleh polisi tanpa izin, dan ia mengalami pelecehan serta tamparan dari seorang polisi wanita.
Ia kemudian mencoba mengajukan pengaduan di gedung pemerintah, tetapi dihalangi.
Setelah mengalami perlakuan tersebut, Bouazizi kembali ke gedung pemerintah dan melakukan aksi bakar diri sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dinilainya korup dan otoriter.
Aksi bakar diri Bouazizi menjadi viral dan memicu kemarahan publik serta simpati dari masyarakat Tunisia yang sudah lama merasakan ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Gelombang protes dan unjuk rasa menyebar ke seluruh wilayah Tunisia, berujung pada penggulingan Presiden Zine El Abidine bin Ali yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Keberhasilan gerakan di Tunisia menginspirasi gerakan serupa di negara-negara Arab lainnya seperti Mesir, Libya, Suriah, dan Yaman, yang juga menuntut perubahan terhadap rezim otoriter mereka.
Apakah kematian Affan Kurniawan akan seperti Bouazizi yang memicu perlawanan rakyat terhadap pemerintahnya?
Semoga tidak. Sebab itu, semua pihak harus “cooling down”. Demonstran harus cooling down. Polisi harus cooling down. DPR juga harus cooling down. Polisi dan DPR jangan arogan.
Jika tidak, gerakan Reformasi 1998 bisa jadi terulang. Reformasi 1998 juga dipicu oleh kematian sejumlah mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut penghapusan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan lengsernya Presiden Soeharto dengan rezim Orde Baru-nya.
Jika Polri dan pemerintah salah mengelola tuntutan masyarakat yang sudah di ambang frustrasi ini, karena kondisi ekonomi kian sulit, bukan tidak mungkin peristiwa kerusuhan 1998 akan kembali terulang di Jakarta.
Sebab itu, proses hukum personel Brimob yang sengaja atau tidak sengaja telah melindas Affan Kurniawan hingga tewas. Bahkan kalau perlu, Komandan Brimob, Kapolda Metro Jaya hingga Kapolri mundur.
Nasdem juga harus me-recall (menarik kembali) Ahmad Sahroni dari DPR. Sebab, pernyataan Bendahara Umum Nasdem itu telah menjadi semacam bahan bakar yang menyalakan api semangat para demonstran.
Jika tidak, bisa jadi tuntutan demonstran akan lebih tinggi lagi: Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus mundur!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















