Oleh: Malika Dwi Ana
Ngawi, 15 Desember 2025
Jika Aceh hanya penghasil singkong, siapa yang akan berebut kuasa atasnya? Tak ada oligarki Jakarta yang gigit jari, tak ada Cina atau AS yang saling tikung demi gas Arun 14 TCF, minyak 1 miliar barel, dan nikel 2 juta ton yang bernilai triliunan dolar. Tapi karena Aceh kaya raya, ia jadi sasaran empuk kolonialisme baru: penguasaan SDA melalui “bencana alam” yang dicurigai buatan, yang skemanya mirip Timur Tengah yang dibuat porak-poranda demi minyak. Tsunami 2004—yang oleh banyak pengamat ditengarai sebagai HAARP AS—bukanlah akhir, tapi pembukaan. Banjir bandang 2025 ini lanjutannya: longsor ekologis yang “kebetulan” hancurkan Aceh, memicu bendera putih berkibar tanda keputus asaan, dan membuka pintu penjarahan lebih leluasa. Ini bukan musibah Tuhan—ini skenario geopolitik sadis untuk perkosa Aceh tanpa tuduhan penjajahan terbuka.
Pola Timur Tengah jadi cermin: Irak dihancurkan 2003 demi 115 miliar barel minyak Kirkuk, Libya runtuh pasca-Gaddafi 2011 agar Chevron-Exxon bagi ladang, Yaman porak-poranda demi Selat Bab el-Mandeb. Bencana sipil jadi kedok—perang “demokrasi” atau “terorisme” untuk menutupi perampokan SDA. Aceh kurang lebih sama, hanya saja bukan dengan kekuatan militer dengan memfitnah pemimpinnya, karena pasca reformasi, sudah tak ada lagi otoritarianisme ala Orde Baru. Aceh dihantam tsunami 2004 (9.1 Mw) menghancurkan basis kekuatan GAM, membuka akses ExxonMobil ke Arun—dan untung US$100 miliar, Aceh mendapatkan rekonstruksi tapi SDA tetap dikuasai pusat. Kini, banjir 2025 nampak “aneh” seperti kata Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) dalam wawancara dengan Najwa Shihab: air hitam berbau kimia, bertahan lama seperti “tsunami kedua”, memicu gatal-gatal hingga infeksi kulit massal pada pengungsi. Lebih mengerikan: hewan air seperti biawak, ular, buaya—yang seharusnya selamat dalam banjir—mati mengapung massal. Korban ditemukan telanjang, meski tak ada evakuasi malam—seolah gelombang energi atau panas ekstrem “menguapkan” pakaian. Ini bukan banjir biasa—ini kontaminasi kimia dari bocoran tambang Arun saat longsor, atau dugaan lebih gelapnya adalah manipulasi cuaca ala HAARP yang picu plasma ionosfer, mengubah hujan menjadi senjata.
HAARP—program AS di Alaska—bukan dongeng. Ia memanipulasi ionosfer untuk komunikasi militer, tapi efek sampingnya bisa menimbulkan gempa atau badai ekstrem (walau ada bantahan resmi: “cuma riset”, tapi konspirasi dari Al-Osboa hingga aktivis global mengatakan lain). Tsunami 2004 dicurigai akibat nuklir bawah laut atau HAARP—yang menghancurkan Aceh, menekan GAM, membuka penjarahan migas. Lalu banjir 2025 kurang lebihnya sama: deforestasi PSN (500.000 ha hilang) jadi pemicu, tapi “keanehan-keanehan” seperti yang Mualem saksikan—air beracun, hewan air mati, kulit gatal, korban telanjang—menunjukkan kontaminan buatan atau energi anomali.
Motif geopolitiknya brutal: Aceh adalah pion di rivalitas AS-Cina. Cina butuh gas Arun untuk BRI dan LNG Eropa, AS tekan via QUAD/sanksi nikel untuk Indo-Pasifik. Bencana “buatan” menjadi skenario win-win: yang memicu gaung merdeka (trauma GAM bangkit), Aceh “bergolak” hingga lepas seperti Timor Leste, lalu asing bebas menjarah tanpa campur tangan Jakarta yang konon “nasionalis”.
Ini kolonialisme paling licik: tidak memakai kekuatan militer, senjata api, tidak pakai tank, tapi alam yang dimanipulasi. Royalti Aceh cuma 1%, PSN gusur lahan adat, oligarki pusat untung triliunan—rakyat dapat penyakit dari lumpur beracun, kerusakan ekologis, hutan musnah, satwa endemik mati punah, dan kemiskinan 12,33%. Jika Aceh menghasilkan singkong, tak akan ada yang peduli. Tapi karena Aceh kaya emas hitam, ia diperkosa berulang: dari tsunami “HAARP” hingga banjir “kimia” kini.
Bangun! Ini jebakan geopolitik untuk menelan Aceh hidup-hidup. Tuntut moratorium tambang, royalti 20%, audit SDA, reformasi UUD 2002. Sudah saatnya—Aceh membuat sejarah, atau tenggelam selamanya dalam badai buatan oligarki global.
**

Oleh: Malika Dwi Ana 




















