• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan

Ali Syarief by Ali Syarief
July 6, 2026
in Feature, Politik, Sejarah
0
Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak semua keputusan besar lahir dari kemenangan. Sebagian justru lahir dari kebuntuan.

Pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno berdiri di Istana Merdeka dan membacakan sebuah dekrit yang mengubah arah Republik. Isinya singkat: membubarkan Konstituante, memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945, serta membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara.

Tak sampai lima menit.

Tetapi lima menit itu mengakhiri satu babak demokrasi dan membuka babak lain yang jauh lebih panjang: era ketika negara semakin dipusatkan pada satu tangan.

Ironisnya, semua itu berawal dari sebuah lembaga yang dibentuk secara demokratis.

Konstituante adalah anak kandung Pemilu 1955, pemilu yang hingga kini masih dipandang sebagai salah satu yang paling bebas dan kompetitif dalam sejarah Indonesia. Rakyat telah memilih wakil-wakil terbaiknya untuk menyusun konstitusi yang permanen. Namun para wakil rakyat itu gagal menyelesaikan tugasnya. Perdebatan mengenai dasar negara berubah menjadi pertarungan ideologi yang tak berujung. Voting dilakukan berkali-kali, tetapi syarat dua pertiga suara tak pernah tercapai.

Demokrasi macet oleh demokrasi itu sendiri.

Di tengah kebuntuan itu, Soekarno menawarkan sesuatu yang tampak sederhana: mengakhiri perdebatan dan kembali kepada UUD 1945.

Banyak yang menyambutnya dengan lega. Militer mendukung. Mahkamah Agung menyatakan dapat menerima. Sebagian besar masyarakat lebih menginginkan pemerintahan yang berjalan daripada elite politik yang terus berdebat tanpa hasil.

Dalam keadaan lelah oleh konflik, ketertiban selalu terdengar lebih menarik daripada kebebasan.

Tetapi sejarah memiliki kebiasaan yang unik. Ia sering memperlihatkan akibat yang tidak tampak pada hari pertama.

Dekrit memang mengakhiri kebuntuan. Namun ia juga mengubah cara negara memandang kekuasaan. Sejak saat itu, jalan di luar mekanisme konstitusi memperoleh legitimasi politik atas nama keselamatan negara. Keadaan darurat menjadi alasan yang mudah digunakan untuk memperluas kewenangan pemerintah.

Demokrasi Terpimpin kemudian lahir bukan hanya sebagai sistem pemerintahan, melainkan sebagai cara berpikir: negara dianggap lebih tahu daripada rakyat; pemimpin dianggap lebih bijak daripada lembaga; keputusan tunggal dianggap lebih efektif daripada musyawarah yang panjang.

Padahal demokrasi memang tidak pernah dirancang untuk bekerja cepat.

Ia dirancang agar kekuasaan tidak mudah disalahgunakan.

Perdebatan yang melelahkan, oposisi yang keras, bahkan kebuntuan politik, sesungguhnya adalah harga yang harus dibayar agar tidak ada satu orang yang memonopoli kebenaran.

Di situlah paradoks Dekrit 5 Juli 1959.

Ia menyelamatkan negara dari krisis konstitusi, tetapi sekaligus melemahkan tradisi konstitusional itu sendiri.

Ia mengakhiri ketidakpastian politik, tetapi membuka ruang bagi sentralisasi kekuasaan.

Ia mengembalikan UUD 1945, tetapi praktik ketatanegaraan setelahnya justru semakin menjauh dari prinsip pembatasan kekuasaan yang menjadi ruh sebuah konstitusi.

Enam puluh tujuh tahun telah berlalu. Nama para pelaku sejarah berganti. Pemerintahan silih berganti. Konstitusi bahkan telah diamendemen empat kali.

Namun pertanyaan yang diwariskan Dekrit 5 Juli 1959 tetap sama: apa yang harus dilakukan ketika demokrasi mengalami jalan buntu?

Jawaban yang paling mudah selalu sama: ambil jalan pintas.

Tetapi republik ini telah belajar bahwa jalan pintas dalam politik sering kali berubah menjadi jalan tol menuju konsentrasi kekuasaan.

Konstitusi memang tidak selalu menawarkan solusi yang cepat. Namun justru karena ia membatasi kekuasaan, ia menjaga agar negara tidak bergantung pada kebijaksanaan satu orang. Sebab sejarah menunjukkan, pemimpin yang baik belum tentu selalu hadir. Yang harus bertahan bukanlah kualitas seorang pemimpin, melainkan kualitas sistem yang mengawalnya.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari 5 Juli 1959. Sebuah dekrit dapat menyelesaikan krisis dalam sehari. Tetapi kebiasaan menyelesaikan masalah dengan jalan di luar konstitusi dapat membentuk budaya politik yang bertahan lintas generasi.

Dan sebuah republik tidak diukur dari seberapa cepat ia keluar dari krisis, melainkan seberapa setia ia menjaga konstitusinya ketika krisis datang.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bukan Hari Libur Nasional

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Good Governance itu Sunatullah

July 6, 2026
Feature

Good Governance itu Sunatullah

July 6, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Feature

Realitas Politik Menguji Mimpi Prabowo

July 5, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online
Birokrasi

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

by Karyudi Sutajah Putra
July 2, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Peringatan Hari Bhayangkara atau Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Polri saat ini ditandai dengan hadiah manis bagi...

Read more
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

Hendardi: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI, Sekolah Rakyat Bukan Barak Militer

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan

Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan

July 6, 2026
Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bukan Hari Libur Nasional

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bukan Hari Libur Nasional

July 6, 2026

Good Governance itu Sunatullah

July 6, 2026

Good Governance itu Sunatullah

July 6, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Realitas Politik Menguji Mimpi Prabowo

July 5, 2026
Hukuman Mati bagi Orang Murtad: Benarkah Itu Ajaran Islam yang Final?

Hukuman Mati bagi Orang Murtad: Benarkah Itu Ajaran Islam yang Final?

July 5, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan

Dekrit 5 Juli 1959: Ketika Jalan Pintas Menjadi Tradisi Kekuasaan

July 6, 2026
Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bukan Hari Libur Nasional

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bukan Hari Libur Nasional

July 6, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...