• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Demokrasi dan Keadilan yang Tak Bisa Divoting

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
October 16, 2025
in Feature, Law
0
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh : Damai Hari Lubis

Betul, kita mayoritas. Andai mereka argumentatif, tentu mereka tahu bahwa demokrasi artinya menerima suara terbanyak. Namun suara terbanyak bukanlah kebenaran, dan demokrasi bukan alat untuk memvoting keadilan. Karena keadilan bukan milik mayoritas, melainkan hak setiap manusia. Ia lahir dari nurani yang bersih, dari hati yang masih mampu membedakan antara benar dan menang. Demokrasi tanpa keadilan hanyalah kekuasaan yang mengenakan topeng moralitas.

Jean-Jacques Rousseau pernah menulis bahwa kehendak umum (volonté générale) bukan berarti kehendak mayoritas, melainkan kehendak yang diarahkan bagi kebaikan bersama. Tapi dalam praktiknya, kehendak mayoritas sering disamakan dengan kehendak umum — dan di situlah demokrasi mulai kehilangan arah. Alexis de Tocqueville sudah lama mengingatkan bahaya itu: the tyranny of the majority. Ketika suara terbanyak dianggap selalu benar, maka demokrasi berubah menjadi bentuk baru dari penindasan — halus, terlegitimasi, tapi tetap menindas.

Di dunia Timur, Imam Al-Ghazali mengingatkan hal serupa dalam cara yang lebih halus dan spiritual: bahwa kebenaran tidak terletak pada banyaknya pengikut, tetapi pada cahaya ilmu dan keikhlasan hati. Al-haqq la yu’raf bi al-rijal, walakin al-rijal yu’rafu bi al-haqq — kebenaran tidak diukur dari siapa yang banyak diikuti, melainkan dari apa yang hakiki. Maka ketika manusia mulai menjadikan suara terbanyak sebagai ukuran kebenaran, mereka sesungguhnya sedang menukar nurani dengan statistik, dan menukar hikmah dengan popularitas.

Sebut saja mereka dengan liberalisme — kaum yang menyanjung kebebasan tapi lupa pada tanggung jawab moralnya. Mereka menjadikan kebebasan sebagai berhala baru: sesuatu yang disembah, tapi tak lagi diarahkan pada kebajikan. Ada pula para pecandu kitab orientalisme, yang membaca bangsanya sendiri dengan kacamata asing. Mereka percaya bahwa kemajuan hanya datang dari meniru Barat, tanpa menyadari bahwa Barat pun sedang kehilangan arah ketika nilai-nilai spiritual digantikan oleh pasar dan citra.

Dan jangan lupa kaum sekularisme — yang mengira moral publik bisa tegak tanpa fondasi iman. Mereka percaya bahwa manusia bisa menjadi sumber moral bagi dirinya sendiri, padahal manusia justru makhluk paling rapuh dalam hal menjaga hawa nafsu dan kuasa. Dalam pikiran mereka, agama harus diasingkan dari ruang publik karena dianggap menghalangi rasionalitas. Tapi yang sering luput mereka sadari: justru ketika agama diusir dari kehidupan sosial, yang masuk bukan kebebasan, melainkan kekosongan.

Padahal, keadilan sejati tidak lahir dari teori atau ideologi. Ia tumbuh dari kesadaran yang dalam — bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang sama berharganya. Dalam kesadaran itu, tak ada yang benar karena banyak, dan tak ada yang salah karena sedikit. Demokrasi seharusnya menjaga keseimbangan antara akal dan moral, antara suara dan nurani. Tanpa itu, demokrasi hanya menjadi ritual lima tahunan: gaduh, penuh janji, tapi miskin makna.

Kita sedang hidup di masa di mana kebenaran mudah sekali dibungkam atas nama mayoritas. Ketika orang berani bersuara untuk yang lemah, mereka dituduh anti-demokrasi. Ketika minoritas menuntut haknya, mereka dianggap mengganggu ketertiban. Padahal demokrasi sejati justru diukur dari sejauh mana ia melindungi yang lemah dari kesewenangan yang kuat.

Rousseau menulis bahwa manusia dilahirkan merdeka, tapi di mana-mana ia terbelenggu. Hari ini, belenggu itu bukan lagi raja atau tiran, melainkan keseragaman berpikir yang mematikan kejujuran. Sementara Al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia bisa menjadi lebih sesat dari binatang ketika akalnya tidak dibimbing oleh hati. Di sinilah tragedi demokrasi modern: kita memuja kebebasan, tapi lupa mencari kebenaran. Kita berdebat tentang hak, tapi enggan bicara tentang tanggung jawab.

Maka barangkali yang kita butuhkan bukan demokrasi yang ramai, tapi demokrasi yang berjiwa. Demokrasi yang tak hanya menghitung suara, tetapi juga menimbang nurani. Demokrasi yang tidak sekadar memberi hak bicara, tetapi juga kewajiban untuk mendengar. Demokrasi yang tidak hanya mengandalkan logika, tetapi juga melibatkan empati.

Sebab bangsa yang besar tidak diukur dari berapa banyak yang berbicara, melainkan seberapa dalam mereka mendengar. Dan mungkin, inilah saatnya kita berhenti bersembunyi di balik jargon “suara rakyat”, dan mulai menatap wajah demokrasi yang sebenarnya: wajah yang menuntut kejujuran, tanggung jawab, dan cinta pada kebenaran. Sebab pada akhirnya, suara terbanyak bisa saja menang dalam pemilu, tapi tanpa keadilan, ia akan selalu kalah di hadapan sejarah — dan di hadapan Tuhan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Negara Tanpa Hukum Takkan Pernah Sejahtera

Next Post

LBP Mengakui, Prabowo Menanggung: Luka Lama Proyek Kereta Cepat Jokowi

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?
Birokrasi

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026
Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Next Post
LBP Mengakui, Prabowo Menanggung: Luka Lama Proyek Kereta Cepat Jokowi

LBP Mengakui, Prabowo Menanggung: Luka Lama Proyek Kereta Cepat Jokowi

Sudah Sampai Titik Didih: Parpol Bukan Lagi Alat Perjuangan, Melainkan Alat Transaksi Politik

Sudah Sampai Titik Didih: Parpol Bukan Lagi Alat Perjuangan, Melainkan Alat Transaksi Politik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...