• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

DI ANTARA TUBUH DAN PIKIRAN

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
May 30, 2025
in Feature, Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Ada sebuah ironi yang indah dalam kata-kata. Terutama jika kata-kata itu datang dengan senyuman tipis dan nada suara yang seolah tak pernah marah—seperti suara Rocky Gerung saat mengomentari Sekolah Kebangsaan Dedi Mulyadi. Ia menyebutnya sebagai proyek “pendisiplinan tubuh”. Bukan pikiran. Bukan akal. Bukan refleksi. Katanya, bangsa ini tak kekurangan otot, tapi kekurangan tafsir.

Sebuah sarkasme yang memikat. Dan mungkin menyesakkan.

Dalam ujaran itu, tersimpan keyakinan lama: bahwa kebebasan adalah produk pikiran yang liar. Bahwa tubuh, jika didisiplinkan, tak lebih dari alat kekuasaan. Bahwa taat adalah tanda tunduk, dan tunduk adalah awal dari penindasan. Bahwa kekuasaan yang mengatur cara kita berdiri, berjalan, atau menyusun tempat tidur, sedang menyiapkan panggung untuk totalitarianisme baru.

Tapi mari kita tanya: benarkah tubuh sedemikian pasif, sedemikian tak berdaya, sedemikian tak berpikir?

Michel Foucault barangkali setuju dengan Rocky. Dalam bukunya, “Discipline and Punish”, tubuh didisiplinkan agar menjadi patuh. Penjara, rumah sakit, dan barak adalah laboratorium kekuasaan. Di sana, tubuh diseragamkan. Gerakannya dikendalikan. Jam tidurnya diatur. Ia tak lagi bebas.

Tapi apakah setiap pendisiplinan tubuh adalah tirani?

Saya pikir tidak. Karena tubuh bukan hanya objek kekuasaan. Ia juga subjek dari perubahan. Dalam laku tubuh yang konsisten, justru lahirlah pola, keteraturan, dan pengendalian diri. Dan dalam banyak budaya—termasuk budaya kita—pembentukan jiwa dimulai dari kebiasaan. Dari ritme. Dari jeda. Dari duduk bersila yang lama. Dari sunyi yang tak tergesa.

Apa yang disebut Rocky sebagai “pendisiplinan tubuh”, dalam kenyataan Sekolah Kebangsaan, bisa dibaca lain: sebagai pembentukan karakter lewat ketekunan. Tapi lebih dari itu, sebagai proses rehabilitasi. Karena anak-anak yang masuk ke Sekolah Kebangsaan bukan anak-anak biasa. Mereka disebut “anak-anak nakal” oleh masyarakat. Anak-anak yang mungkin pernah terlibat tawuran, mencuri, atau sekadar putus sekolah karena tak kuat dengan sistem. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat kembali. Tempat memulihkan rasa percaya diri. Tempat membangun ulang jembatan dengan dunia.

Saya tahu, ini bukan disiplin Prancis ala Foucault. Ini juga bukan sekolah militer. Ini bukan barak dengan teriakan komandan. Tapi juga bukan karnaval intelektual seperti yang dibayangkan Rocky.

Dedi Mulyadi, dengan segala kontroversinya, sedang menegaskan: bahwa pendidikan tak cukup hanya membentuk pikiran, tapi juga tubuh. Dan lebih dari itu: membentuk kebiasaan. Mengubah cara hidup. Menanamkan rasa tanggung jawab yang konkret—bukan hanya konsep-konsep abstrak tentang republik dan filsafat kemerdekaan.

Kita bisa menarik perspektif dari Paulo Freire. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik model pendidikan gaya bank, di mana murid dianggap wadah kosong yang harus diisi. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah proses pembebasan, di mana subjek—yakni peserta didik—harus dilibatkan secara sadar dan aktif. Tapi Freire juga percaya bahwa pembebasan tidak mungkin terjadi tanpa kesadaran yang dibentuk lewat praksis: refleksi dan aksi.

Sekolah Kebangsaan, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah praksis. Anak-anak tidak hanya diajak berpikir, tapi juga diajak hidup secara lebih teratur, lebih bersih, lebih peduli. Mereka menyapu lantai, menyusun sepatu, bangun pagi tepat waktu. Itu bukan indoktrinasi. Itu adalah latihan menjadi warga. Karena sebelum bisa bicara tentang demokrasi, seseorang harus bisa mengatur dirinya sendiri.

Tentu, kita boleh curiga pada kekuasaan. Kita harus. Tapi jangan cepat menganggap semua bentuk pengaturan sebagai upaya dominasi. Kadang, kekuasaan bekerja dalam bentuk yang lebih halus: sebagai panggilan. Sebagai teladan. Sebagai laku hidup yang bisa ditiru.

Saya teringat pepatah Latin yang sering dikutip para pendidik klasik: Mens sana in corpore sano—jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat. Bukan sebaliknya. Dalam banyak kebudayaan Timur, guru tak mengajar lewat ceramah. Ia mengajar lewat cara duduk, cara menyapu lantai, cara menyusun sandal.

Disiplin tubuh, dengan demikian, bukan penindasan, melainkan metode. Bukan dominasi, tapi jalan sunyi menuju pemahaman. Ia melatih kita menahan lapar, menahan marah, menahan keinginan untuk segera menghakimi. Dan siapa tahu, dari kebiasaan itu, lahir keberanian untuk berpikir dengan jernih.

Saya paham Rocky ingin sekolah yang melahirkan pemikir. Tapi apakah pemikir harus selalu liar? Apakah kreativitas lahir dari kekacauan, dari tubuh yang tak kenal aturan, dari ruang belajar yang tanpa batas? Atau justru pemikir lahir dari kebiasaan diam, dari ritual harian yang melatih kesadaran?

Goethe menulis puisi-puisinya yang agung bukan di tengah keributan. Tapi dalam keteraturan. Immanuel Kant berjalan kaki setiap pagi pada jam yang sama, seperti jarum jam kota. Dan dari tubuh yang teratur itu, lahirlah gagasan yang mengguncang dunia.

Sekolah Kebangsaan bukan utopia. Mungkin juga bukan solusi jangka panjang. Tapi ia adalah ikhtiar untuk membawa kembali rasa hormat kepada kebiasaan baik. Dalam dunia yang kian riuh, kian sinis, kian dangkal, barangkali kita memang perlu kembali ke hal-hal dasar. Seperti menyapu halaman, mencuci piring sendiri, atau sekadar berdiri tegak saat bendera dinaikkan.

Bagi Rocky, itu mungkin pertunjukan. Visualisasi. Spektakel.

Tapi bagi saya, itu bisa jadi jalan pulang.

Saya tak hendak membela Dedi Mulyadi sepenuhnya. Ia juga bagian dari dunia politik, dengan segala godaannya. Tapi ia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang debat dan bacaan. Tapi juga tentang laku. Tentang habitus. Tentang cara berjalan dan cara memandang orang lain.

Jika tubuh telah terdidik, barangkali pikiran akan menyusul. Sebab tubuh yang tahu malu, tubuh yang tahu rasa, tak akan mudah menindas. Tak akan gampang mencuri. Tak akan cepat marah di media sosial.

Di masa ketika kata-kata begitu murah, dan kemarahan begitu mudah, kita perlu pendidikan yang mendalam. Dan dalam. Pendidikan yang tak hanya bicara soal “apa itu keadilan”, tapi juga membuat kita mengantri dengan sabar. Yang tak hanya mengutuk korupsi, tapi juga mengajarkan mencuci kamar mandi dengan tangan sendiri.

Disiplin tubuh adalah pendahulu dari disiplin berpikir. Ia bukan bentuk perbudakan, tapi prasyarat bagi kebebasan.

Saya kira itu yang terlupakan oleh Rocky. Atau barangkali, sengaja disarkasikan olehnya. Tapi saya memilih percaya, bahwa tubuh bukan sekadar wadah. Ia adalah sekolah pertama. Ia adalah medan tafsir yang diam. Dan kadang, diam itulah yang paling keras berbicara.===

Cimahi, 30 Mei 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Seperempat Dari Total Jemaah Haji Indonesia Didominasi Lansia

Next Post

Tingkat Kepuasan Publik Gubernur Jawa Barat Tertinggi di Pulau Jawa

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan
Birokrasi

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Next Post
Rencana Gubernur Jabar Cabut Sertifikat Tanah dan  Bangunan di Bantaran Sungai Bakal Terkendala Mekanisme  dan Aturan Berlaku.

Tingkat Kepuasan Publik Gubernur Jawa Barat Tertinggi di Pulau Jawa

Ketua Umum PPWI Desak Polisi Tuntaskan Kasus Dugaan Penggelapan Asal-Usul Anak: “Jangan Korbankan Masa Depan Sang Anak”

Ketua Umum PPWI Desak Polisi Tuntaskan Kasus Dugaan Penggelapan Asal-Usul Anak: “Jangan Korbankan Masa Depan Sang Anak”

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...