Fusilatnews – Tak semua dosa datang dengan suara keras. Kadang, ia datang sebagai bisikan. Sebuah grup WhatsApp, diberi nama “Mas Menteri Core Team”, telah hidup sebelum sumpah jabatan diucap. Di dalamnya, para teknokrat muda bicara tentang masa depan pendidikan—dan mungkin tentang masa depan kekuasaan. Nadiem Anwar Makarim, lulusan Harvard yang menjadi simbol “revolusi teknologi”, tak hanya menyusun gagasan di atas panggung TEDx, tapi juga dalam diam, dalam rapat-rapat sunyi yang tak tercatat, kecuali dalam log Zoom dan dokumen penyidik.
Kita tahu kisahnya dari fragmen—dari kabar resmi yang nyaris tak berkata, dan dari saksi-saksi yang mulutnya baru terbuka setelah penyidikan dimulai. Bahwa ia, sang menteri muda, pernah memimpin rapat 6 Mei 2020. Bahwa ia memerintahkan agar Chromebook digunakan dalam program pengadaan TIK senilai hampir Rp 10 triliun. Bahwa Google, raksasa teknologi dari tanah jauh, hadir dalam pertemuan. Bahwa Gojek—anak kandungnya yang dulu—pernah menerima dana dari Google juga. Dan bahwa semua itu, hari ini, sedang ditelaah: apakah itu sekadar jejak kebetulan, atau pola yang disengaja?
Nadiem, seperti tokoh dalam lakon-lakon post-modern, hadir sebagai metafora zaman. Ia datang bukan dari rahim partai, tapi dari semangat zaman yang memuja inovasi. Ia bicara tentang “merdeka belajar”, tentang fleksibilitas, tentang revolusi digital. Tapi kini, yang hadir bukanlah revolusi, melainkan kerugian negara senilai Rp 1,9 triliun, dan sejumlah pejabat yang ditetapkan sebagai tersangka—termasuk mantan staf khususnya.
Pertanyaannya kini menggantung: apakah Nadiem akan menyusul?
Kejaksaan Agung mengatakan belum. Ia masih saksi. Tapi dua kali dipanggil, dua kali diperiksa, dan namanya disebut di berbagai berita dengan nada yang makin berat. Ia bukan hanya saksi teknis, ia adalah pemegang keputusan—yang pada akhirnya tak bisa lepas dari tanggung jawab politik dan etik. Bukankah dalam demokrasi, tanggung jawab bukan sekadar soal hukum, tapi juga soal nurani?
Tapi zaman ini bukan zaman yang peka terhadap nurani. Ia lebih tunduk pada siasat, pada persepsi, dan pada siapa yang berkuasa. Jika dalam kasus lain, seorang pejabat bisa dipenjara karena tanda tangan semata, mengapa seorang menteri bisa bebas dari semua ketika ia adalah inisiator—atau setidaknya, inspirator utama—pengadaan barang yang mubazir di tangan guru dan siswa di pelosok?
Goenawan Mohamad pernah menulis, bahwa kekuasaan adalah “suatu kisah yang tak pernah selesai.” Ia datang dengan janji, dan berakhir dengan ingkar. Ia sering membentuk tokoh-tokoh yang pada awalnya kita kagumi, dan kemudian kita pertanyakan. Nadiem Makarim barangkali adalah salah satu dari tokoh itu. Ia datang dengan cahaya, dan kini dikelilingi bayangan.
Apakah ia akan dipenjara? Mungkin tidak sekarang. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk mencatat. Ia menyimpan jejak, seperti rapat Zoom yang disimpan server, seperti grup WhatsApp yang tak bisa dihapus sepenuhnya. Dan barangkali, seperti kata Milan Kundera, yang lebih menyakitkan dari hukuman adalah dilupakan sejarah—sebagai seseorang yang sempat diberi kesempatan, lalu gagal menjaganya.
























