• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Tragis Indonesia dari Negara Pengekspor ke Pengimpor Energi

Ali Syarief by Ali Syarief
July 18, 2025
in Economy, Feature
0
Tragis Indonesia dari Negara Pengekspor ke Pengimpor Energi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Indonesia pernah berdiri gagah sebagai negara pengekspor minyak dunia. Tahun 1996-1997, negeri ini mencatatkan sejarah manis dalam peta energi global: lifting minyak nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, dengan konsumsi domestik hanya sekitar 500 ribu barel. Surplus tersebut memungkinkan ekspor sebesar 1 juta barel per hari, dan kontribusi sektor migas terhadap pendapatan negara kala itu mencapai 40 persen. Namun, dua dekade berselang, kejayaan itu tinggal cerita. Kini, Indonesia justru menjadi negara pengimpor minyak dengan jumlah fantastis: 1 juta barel per hari atau setara Rp 500 triliun per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Politeknik Energi dan Mineral Akamigas, dengan nada getir mengungkap kenyataan pahit tersebut. Lifting minyak nasional saat ini hanya menyentuh angka 580 ribu barel per hari—angka yang bahkan belum mencapai separuh dari konsumsi nasional yang sebesar 1,6 juta barel per hari. Fakta ini menandai kegagalan strategis negara dalam menjaga ketahanan energi dan mempertahankan kedaulatan sumber daya alamnya.

Ironi ini bukan sekadar angka dan statistik, melainkan refleksi menyeluruh atas kegagalan kebijakan energi jangka panjang, ketergantungan kronis pada energi fosil tanpa eksplorasi serius pada potensi baru, serta minimnya keberpihakan terhadap teknologi eksplorasi dan putra-putri bangsa yang ahli di bidang energi. Padahal, berdasarkan data Bahlil, Indonesia masih memiliki 39 ribu sumur minyak, tetapi yang berproduksi hanya sekitar 16 ribu sumur, sementara sisanya—sekitar 20 ribu sumur—dibiarkan menganggur, tidak tersentuh atau bahkan belum terdata secara optimal.

Jika memang sumber daya alam belum habis, lantas mengapa lifting tidak kunjung naik? Jawaban dari pertanyaan ini harus diawali dengan kritik atas manajemen energi nasional yang cenderung politis dan transaksional. Banyak potensi minyak yang selama ini tidak tergarap bukan karena tidak ada teknologi, melainkan karena praktik birokrasi, korupsi, dan lemahnya komitmen investasi jangka panjang yang berpihak pada kepentingan nasional.

Pernyataan Bahlil soal “jangan serahkan pengelolaan sumber daya alam kepada orang lain” terdengar heroik, tetapi menjadi kontras dengan kenyataan di lapangan: penguasaan blok-blok migas besar justru lebih banyak dikelola asing atau swasta yang tak selalu berpihak pada kepentingan rakyat. Apakah putra-putri bangsa memang diberi ruang untuk mengambil alih pengelolaan? Ataukah hanya jadi jargon untuk menutupi praktik oligarki yang semakin mengakar?

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah harus berpikir ulang tentang arah strategi energi nasional. Ketahanan energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal keberanian memutus ketergantungan pada pihak asing, revitalisasi sumur tua, memperluas eksplorasi, serta menciptakan ekosistem riset dan pendidikan tinggi energi yang kuat. Semua itu hanya mungkin dilakukan jika ada keberpihakan politik dan keberanian untuk keluar dari paradigma lama yang menempatkan SDA sebagai komoditas ekspor, bukan sebagai alat pembangunan bangsa.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tidak kekurangan orang pintar, dan tidak kekurangan teknologi. Yang kurang adalah niat politik untuk mengubah arah dan menempatkan kedaulatan energi sebagai prioritas nasional. Tragedi dari pengekspor menjadi pengimpor ini seharusnya menjadi peringatan terakhir. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya energi yang kita impor, tetapi juga masa depan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mendagri Lantik Bupati Sambas sebagai Wakil Ketua Umum Apkasi Koordinator Bidang Perekonomian, Ini Sosoknya!

Next Post

Kalimat Tolol di Podium Negara: Antara Kemenyan, Gucci, dan Gagasan Busuk

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Kalimat Tolol di Podium Negara: Antara Kemenyan, Gucci, dan Gagasan Busuk

Kalimat Tolol di Podium Negara: Antara Kemenyan, Gucci, dan Gagasan Busuk

Maliki: Netanyahu Perpanjang Perang Gaza agar Tetap Berkuasa

Netanyahu Umumkan Pendudukan dan Demiliterisasi Wilayah Selatan Suriah

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist