• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Kalimat Tolol di Podium Negara: Antara Kemenyan, Gucci, dan Gagasan Busuk

Ali Syarief by Ali Syarief
July 18, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Kalimat Tolol di Podium Negara: Antara Kemenyan, Gucci, dan Gagasan Busuk
Share on FacebookShare on Twitter

Di suatu siang yang cerah, ketika langit tak terlalu biru dan isi kepala pejabat tak terlalu penuh, muncullah satu pernyataan dari seorang putra mahkota. Namanya Gibran Rakabuming Raka—anak raja yang sudah naik pangkat jadi wakil raja, entah karena prestasi atau karena garis keturunan yang mengalir seperti arus sungai Bengawan Solo di musim kemarau.

Kata Gibran, “Kemenyan itu sama berharganya dengan nikel.” Sebuah pernyataan yang begitu ringan diucapkan, seakan-akan logika itu cuma pelengkap penderita dalam kalimat ekonomi.

Mari kita bedah pernyataan ini seperti dokter forensik yang membelah mayat ide: kemenyan, saudara-saudara, adalah getah wangi dari pohon Styrax benzoin yang biasa dibakar di acara ruqyah, hajatan mistik, atau di pojok-pojok pasar kembang. Ia memang harum. Tapi menyamakan nilainya dengan nikel? Ini seperti menyamakan sandal jepit dengan sepatu kulit Italia, hanya karena sama-sama dipakai di kaki.

Yang lebih menyedihkan: pernyataan itu tidak datang dari ibu-ibu arisan, bukan pula dari penggila terapi aroma. Melainkan dari seorang wakil presiden terpilih, yang konon disiapkan untuk menjadi masa depan republik. Masa depan macam apa? Masa depan beraroma kemenyan?

Secara ekonomi, data tak pernah bohong. Ekspor nikel Indonesia mencapai lebih dari 30 miliar dolar per tahun, sedang ekspor kemenyan? Bahkan kalau semua kemenyan se-Indonesia dibakar bersamaan hingga mengharumkan langit Mekah dan Paris, nilainya tak akan menyentuh kuku jempol ekspor nikel. Tapi angka dan logika rupanya sudah tak penting di zaman ini. Yang penting: viral.

Kalau dalam benak Gibran, kemenyan punya nilai karena dipakai dalam parfum Gucci dan Louis Vuitton, itu menunjukkan betapa ekonominya dibentuk dari majalah lifestyle dan bukan dari buku laporan APBN. Padahal kemenyan hanya satu dari sekian banyak bahan aroma, bukan komoditas utama. Sama seperti menyebut “daun salam lebih bernilai dari beras karena dipakai di nasi goreng restoran bintang lima.” Mau ketawa, tapi ini nyata.

Kita seakan kembali ke zaman ketika kebodohan diberi mikrofon, dan dibungkus dengan retorika pseudo-intelektual. Bedanya, dulu orang bodoh malu. Sekarang, orang bodoh difasilitasi, diberi podium, lalu diapit ajudan.

Lebih celaka lagi, pernyataan ini dilontarkan saat pembekalan program pemerintah—artinya ini bukan sekadar celoteh di warung kopi. Ini nasihat negara. Maka wajar jika kita sebagai rakyat, yang masih mampu membedakan antara bumbu dapur dan bahan tambang, mulai bertanya-tanya: negara ini sedang dibawa ke mana? Ke masa depan digital? Atau kembali ke zaman kemenyan?

Saya tak anti kemenyan. Tapi mari kita kembalikan ia ke tempatnya: di altar doa, bukan di rapat ekonomi nasional. Bila negara ini mulai meletakkan harapan ekspor pada aroma mistis, maka sebaiknya kita mulai pasang dupa di Gedung DPR. Barangkali yang kita butuhkan bukan lagi kebijakan, tapi pemanggilan roh nenek moyang agar turun tangan.

Dan jika ini semua hanya bentuk kelakar, maka terlalu mahal biaya guyonan seorang pejabat. Sebab di republik ini, satu kebodohan pemimpin bisa menguap menjadi kebijakan yang menyengsarakan berjuta rakyat. Kita bukan lagi sedang mengendus kemenyan—kita sedang menghirup ketololan yang tercium sampai ke masa depan.


Penutup:

Gibran bukan sedang berdialog, ia sedang bermonolog dengan akalnya sendiri. Dan di tengah dunia yang makin kompleks, kita tak butuh pemimpin yang mabuk euforia atau kesurupan simbolisme. Kita butuh mereka yang sadar data, paham konteks, dan tahu kapan diam lebih baik daripada menyamakan kemenyan dengan nikel.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tragis Indonesia dari Negara Pengekspor ke Pengimpor Energi

Next Post

Netanyahu Umumkan Pendudukan dan Demiliterisasi Wilayah Selatan Suriah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Maliki: Netanyahu Perpanjang Perang Gaza agar Tetap Berkuasa

Netanyahu Umumkan Pendudukan dan Demiliterisasi Wilayah Selatan Suriah

Ketololan Strutural – Like Father (Bisa Kalejengking) Like Son (Kemenyan)

Ketololan Strutural - Like Father (Bisa Kalejengking) Like Son (Kemenyan)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...