Fusilatnews – Di negeri yang katanya kaya akan akal budi, ternyata akal sehat menjadi barang mewah. Dulu kala, kata orang tua-tua, kalau hidupmu mau panjang, jauhilah dua hal: racun dan kebodohan. Tapi hari ini, racun malah dijadikan obat, dan kebodohan dijadikan jabatan.
Lihatlah Bapak Presiden kita yang mulia, yang hobi menebar istilah tanpa substansi. Di satu pidato kenegaraan, beliau menyebut bangsa ini harus bisa seperti kalajengking. Serius. Kalajengking. Binatang yang kalau disengat dirinya sendiri bisa tewas. Bukan Garuda, bukan Harimau Asia, tapi kalajengking. Alasannya? Racun kalajengking mahal harganya. Sayang beliau tidak tambahkan: tapi untuk mengekstraknya perlu otak, bukan sekadar niat.
Sebentar. Kita belum selesai tertawa. Belum sempat logika publik mencerna makna kalajengking sebagai simbol kenegaraan, datanglah sang putra mahkota—anak biologis sekaligus anak politis dari kalajengking itu sendiri—Gibran Rakabuming Raka. Dengan bangga, ia menyampaikan di forum internasional: “Kemenyan lebih bernilai dari nikel.”
Ah, sungguh pernyataan yang membuat para ekonom jungkir balik dan dukun-dukun merasa diakui secara global. Kini, kita tahu bahwa masa depan Indonesia bukan di hilirisasi tambang, bukan di teknologi baterai, tapi di pasar kemenyan dan dupa.
Mungkin sebentar lagi kita akan ekspor “wewangian spiritual” ke Tesla, atau Elon Musk akan membatalkan pabrik baterainya karena terlalu tergoda aroma mistis Nusantara. Siapa tahu?
Tapi jangan salah sangka. Ini bukan kebodohan individual. Ini ketololan struktural. Turun-temurun. Dari bapak ke anak, dari podium ke panggung politik. Mereka tidak sedang bicara untuk menjelaskan. Mereka sedang bicara untuk memerintah realitas agar ikut dalam khayal mereka.
Sebagaimana Mahbub Djunaidi pernah menyindir, “Di negeri ini, pejabat lebih pandai membuat kata-kata daripada membuat makna.” Maka jadilah kita rakyat ini menebak-nebak, apakah ‘kalajengking’ itu metafora atau metafisik. Apakah ‘kemenyan’ itu data atau dogma.
Yang lebih menyedihkan, ketololan ini bukan hanya diwariskan secara biologis, tapi juga lewat birokrasi, lewat partai, lewat panggung-panggung kampanye, dan—yang paling menyedihkan—lewat diamnya kita semua yang merasa ini biasa-biasa saja.
Kita sudah tidak hanya memaklumi ketololan. Kita sedang menginstitusikannya.
Jadi, kalau anak cucu nanti bertanya, “Kenapa bangsa ini tidak maju-maju?” Jawablah dengan jujur: karena kita terlalu sering tertawa atas kebodohan orang-orang yang seharusnya kita lawan.
























