• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Memulai Agama dari Akal Waras

Ali Syarief by Ali Syarief
July 18, 2025
in Feature, Spiritual
0
Memulai Agama dari Akal Waras
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Selalu ada yang terdengar gaduh saat seseorang memulai agama. Bukan karena azan yang lantang atau lonceng gereja yang menggema. Tetapi karena pertanyaan yang dibisikkan akal waras: mengapa aku harus percaya ini?

Agama, pada mulanya, bukan kitab. Ia tidak turun dalam bentuk teks. Ia datang sebagai getar yang ganjil dalam tubuh manusia, saat ia merasa sendiri di tengah semesta yang terlalu luas untuk dimengerti. Sebelum Musa membawa loh batu, sebelum Muhammad mendengar ayat pertama, manusia sudah menengadah, menggumam pada langit. Ia bertanya-tanya. Ia mencurigai dirinya fana.

“Segala sesuatu dimulai dari keraguan,” tulis Descartes, yang entah bagaimana, lebih dekat pada kisah para nabi daripada yang kita kira. Karena yang sejati dari iman bukanlah menerima begitu saja, melainkan menggugat, menyelidik, menyiksa akal agar menyerah bukan karena takluk, tapi karena tercerahkan.

Akal sehat—bukan fatwa, bukan jubah panjang, bukan sorban atau salib—adalah gerbang pertama menuju ketuhanan. Tanpa itu, agama menjadi semacam euforia massa, atau kebiasaan turun-temurun yang tak lagi dimaknai. Kita salat seperti mesin, kita bersyukur seperti robot, kita berseru “Allahu Akbar” atau “Hallelujah” sambil membenci sesama manusia.

Goethe pernah berkata, “There is nothing more frightful than ignorance in action.” Dan agama yang dilucuti dari akal sehat akan menjadi justru itu: kebodohan yang bergerak, membakar, dan menghukum.

**

Apa yang waras dari sebuah agama?

Mungkin, yang tidak membuat kita membunuh atas nama surga. Yang tidak menindas perempuan atas nama kesucian. Yang tidak menertawakan orang miskin lalu berkata, “itu takdir.”

Agama yang waras tahu batasnya: bahwa Tuhan tak bisa dipaksakan turun ke bumi untuk membenarkan partai politik, bisnis halal, atau niat merampas. Agama yang waras akan mengatakan: “Jika engkau merasa lebih dekat dengan Tuhan, seharusnya engkau lebih lembut terhadap manusia.”

Bukan hadist, bukan ayat, bukan fatwa. Tetapi kasih sayang yang bisa dirasa oleh siapa pun—bahkan oleh mereka yang tak beragama sekalipun.

**

Akal sehat tidak bisa dibeli di toko kitab. Ia datang setelah kita diam dan mendengar. Ia bertanya: Apakah ini membuatku lebih baik? Apakah ini membuatku lebih manusiawi?

Jika jawabannya tidak, mungkin itu bukan agama. Atau barangkali, kita telah menjalankannya dengan cara yang salah.

Karen Armstrong menulis, “Religion is not about believing things. It’s about what you do with your solitude.” Maka barangkali, memulai agama bukan tentang siapa Tuhanmu, tapi bagaimana engkau memperlakukan yang paling lemah di sekitarmu.

**

Akhirnya, iman yang sehat bukan yang penuh hafalan. Tapi yang memberi ruang bagi akal untuk bertanya, lalu memberi jalan bagi hati untuk berjalan. Tidak semua yang benar harus diteriakkan. Tidak semua yang salah harus dibakar. Dalam agama yang waras, orang boleh berbeda. Karena yang sakral bukan hanya Tuhan, tapi juga kemanusiaan.

Dan mungkin, itulah cara terbaik untuk memulai agama: dari waras. Bukan dari takut, bukan dari warisan, bukan dari kultus. Tapi dari sebuah keberanian untuk bertanya—dan kerendahan hati untuk mendengar jawabannya di dalam sunyi.


“Faith is not certainty. It is the courage to live with mystery.”
— Goenawan Mohamad

“Akal yang sehat adalah nabi dalam diri manusia.”
— Al-Ghazali

“Agama dimulai bukan dari percaya, tapi dari bertanya: apakah ini membuatku lebih mencintai hidup?”
— (ali syarief)


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketololan Strutural – Like Father (Bisa Kalejengking) Like Son (Kemenyan)

Next Post

Keuntungan yang Diterima Amerika Serikat dari Indonesia Setelah Deal Tarif

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Keuntungan yang Diterima Amerika Serikat dari Indonesia Setelah Deal Tarif

Keuntungan yang Diterima Amerika Serikat dari Indonesia Setelah Deal Tarif

Ijazah, dan Sebuah “Agenda Besar”

Tentang Seorang Presiden yang Tak Menjadi Apa-apa

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist