Fusilatnews – Joko Widodo. Delapan tahun di Solo, dua tahun di Jakarta, sepuluh tahun di Istana.
Seorang pria dari pinggir Bengawan Solo, yang konon membawa kesederhanaan sebagai kredensial, dan rakyat kecil sebagai kredo kekuasaan.
Pengalaman itu lengkap. Walikota. Gubernur. Presiden.
Dan kita kira pengalaman itu adalah guru terbaik.
Tapi siapa sangka, kadang-kadang pengalaman bukanlah jalan menuju kebijaksanaan, melainkan lorong panjang menuju kekacauan yang terencana.
Ia telah melintasi waktu, tapi tak menghasilkan arah.
Ia telah melewati jabatan, tapi tak melahirkan gagasan.
Ia telah membangun jalan tol, tapi tak tahu jalan keadilan.
Ia telah menanam ribuan pohon beton, tapi membiarkan hutan hukum ditebangi oleh kekuasaan.
Jokowi tak pernah kekurangan panggung.
Ia punya 34 provinsi untuk dikunjungi, 34 kementerian untuk digerakkan, miliaran dana rakyat untuk dialirkan, dan ribuan pasukan untuk menjaga wibawa kekuasaannya.
Namun dari panggung yang luas itu, ia lebih sering bicara tentang proyek—bukan rakyat. Tentang Ibu Kota baru, bukan ibu-ibu miskin di kota-kota lama. Tentang bendungan, bukan tentang pengangguran. Tentang investasi, bukan tentang integritas.
Ia punya semua yang dibutuhkan untuk mengubah negeri ini:
Waktu. Kuasa. Mayoritas.
Tapi seperti orang yang diberi pena emas dan memilih mencoretkan puisi murahan, ia lebih tertarik membangun warisan fisik daripada menciptakan kemajuan batin.
Kita tak kekurangan harapan saat ia datang.
Orang-orang menyebutnya “man of the people”—orang dari rakyat, untuk rakyat.
Tapi sepuluh tahun berlalu, rakyat itu justru makin jauh:
Harga pangan melambung. Keadilan terjun bebas. Pendidikan kehilangan arah. Petani kehilangan sawah. Pegiat demokrasi kehilangan suara.
Ia tidak memperkuat hukum, ia justru merundukkannya.
Ia tidak membangun sistem meritokrasi, ia menata kroni-kroninya.
Ia tidak menjunjung konstitusi, ia justru menjahit ulangnya demi anak sendiri.
Apa yang tersisa dari dua dekade kekuasaannya?
Satu Ibu Kota baru yang belum jadi,
dan satu negara lama yang nyaris rusak.
Ia memang telah menjadi presiden sepuluh tahun.
Tapi sepuluh tahun bukanlah ukuran kejayaan,
kalau selama itu negeri ini justru kehilangan arah, kehilangan akal sehat, dan kehilangan harapan.
Goethe pernah berkata, “Tidak ada yang lebih menyesatkan daripada seorang pemimpin yang tak tahu arah, tapi percaya diri seperti nabi.”
Mungkin kita sedang hidup di masa itu.
Masa di mana seorang pemimpin membanggakan jalan tol, ketika rakyat kelelahan berjalan kaki menuju rumah sakit.
Masa di mana pembangunan dipuja-puja, ketika nurani ditinggalkan.
Masa di mana yang memerintah tak lagi tahu,
untuk siapa sebetulnya ia berkuasa.
Jokowi adalah kisah tentang kesempatan yang diabaikan.
Tentang pengalaman yang tak berbuah.
Tentang rakyat yang percaya, lalu kecewa, lalu kehilangan kata-kata.
Dan sejarah akan menuliskannya bukan sebagai pemimpin besar,
tapi sebagai pelajaran pahit:
bahwa dari Solo hingga Istana, kekuasaan bisa menjelma jadi labirin—bukan karena terlalu rumit,
tapi karena tak pernah tahu ke mana seharusnya ia diarahkan.


























