• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Tentang Seorang Presiden yang Tak Menjadi Apa-apa

Ali Syarief by Ali Syarief
July 18, 2025
in Aya Aya Wae, Feature, Tokoh/Figur
0
Ijazah, dan Sebuah “Agenda Besar”
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Joko Widodo. Delapan tahun di Solo, dua tahun di Jakarta, sepuluh tahun di Istana.
Seorang pria dari pinggir Bengawan Solo, yang konon membawa kesederhanaan sebagai kredensial, dan rakyat kecil sebagai kredo kekuasaan.

Pengalaman itu lengkap. Walikota. Gubernur. Presiden.
Dan kita kira pengalaman itu adalah guru terbaik.
Tapi siapa sangka, kadang-kadang pengalaman bukanlah jalan menuju kebijaksanaan, melainkan lorong panjang menuju kekacauan yang terencana.

Ia telah melintasi waktu, tapi tak menghasilkan arah.
Ia telah melewati jabatan, tapi tak melahirkan gagasan.
Ia telah membangun jalan tol, tapi tak tahu jalan keadilan.
Ia telah menanam ribuan pohon beton, tapi membiarkan hutan hukum ditebangi oleh kekuasaan.

Jokowi tak pernah kekurangan panggung.
Ia punya 34 provinsi untuk dikunjungi, 34 kementerian untuk digerakkan, miliaran dana rakyat untuk dialirkan, dan ribuan pasukan untuk menjaga wibawa kekuasaannya.
Namun dari panggung yang luas itu, ia lebih sering bicara tentang proyek—bukan rakyat. Tentang Ibu Kota baru, bukan ibu-ibu miskin di kota-kota lama. Tentang bendungan, bukan tentang pengangguran. Tentang investasi, bukan tentang integritas.

Ia punya semua yang dibutuhkan untuk mengubah negeri ini:
Waktu. Kuasa. Mayoritas.
Tapi seperti orang yang diberi pena emas dan memilih mencoretkan puisi murahan, ia lebih tertarik membangun warisan fisik daripada menciptakan kemajuan batin.


Kita tak kekurangan harapan saat ia datang.
Orang-orang menyebutnya “man of the people”—orang dari rakyat, untuk rakyat.
Tapi sepuluh tahun berlalu, rakyat itu justru makin jauh:
Harga pangan melambung. Keadilan terjun bebas. Pendidikan kehilangan arah. Petani kehilangan sawah. Pegiat demokrasi kehilangan suara.

Ia tidak memperkuat hukum, ia justru merundukkannya.
Ia tidak membangun sistem meritokrasi, ia menata kroni-kroninya.
Ia tidak menjunjung konstitusi, ia justru menjahit ulangnya demi anak sendiri.


Apa yang tersisa dari dua dekade kekuasaannya?

Satu Ibu Kota baru yang belum jadi,
dan satu negara lama yang nyaris rusak.

Ia memang telah menjadi presiden sepuluh tahun.
Tapi sepuluh tahun bukanlah ukuran kejayaan,
kalau selama itu negeri ini justru kehilangan arah, kehilangan akal sehat, dan kehilangan harapan.


Goethe pernah berkata, “Tidak ada yang lebih menyesatkan daripada seorang pemimpin yang tak tahu arah, tapi percaya diri seperti nabi.”
Mungkin kita sedang hidup di masa itu.
Masa di mana seorang pemimpin membanggakan jalan tol, ketika rakyat kelelahan berjalan kaki menuju rumah sakit.
Masa di mana pembangunan dipuja-puja, ketika nurani ditinggalkan.
Masa di mana yang memerintah tak lagi tahu,
untuk siapa sebetulnya ia berkuasa.

Jokowi adalah kisah tentang kesempatan yang diabaikan.
Tentang pengalaman yang tak berbuah.
Tentang rakyat yang percaya, lalu kecewa, lalu kehilangan kata-kata.

Dan sejarah akan menuliskannya bukan sebagai pemimpin besar,
tapi sebagai pelajaran pahit:
bahwa dari Solo hingga Istana, kekuasaan bisa menjelma jadi labirin—bukan karena terlalu rumit,
tapi karena tak pernah tahu ke mana seharusnya ia diarahkan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Keuntungan yang Diterima Amerika Serikat dari Indonesia Setelah Deal Tarif

Next Post

Negara Dijadikan Mertua: Ketika Pernikahan Jadi Panggung Kekuasaan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026
Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah
Feature

Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

June 13, 2026
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Next Post
Negara Dijadikan Mertua: Ketika Pernikahan Jadi Panggung Kekuasaan

Negara Dijadikan Mertua: Ketika Pernikahan Jadi Panggung Kekuasaan

Jokowi yang Harus Membuktikan Ijazahnya: Analisis Hukum Pembuktian Atas Pernyataan Nilai IPK, Jurusan dan Pembimbing Skripsi

Jokowi yang Harus Membuktikan Ijazahnya: Analisis Hukum Pembuktian Atas Pernyataan Nilai IPK, Jurusan dan Pembimbing Skripsi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa
Birokrasi

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

by Karyudi Sutajah Putra
June 13, 2026
0

Jakarta - FuilatNews.--, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dimobilisasi untuk menghadapi aksi demonstrasi mahasiswa di beberapa titik di Jakarta. Sehari sebelumnya,...

Read more
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026
Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

June 13, 2026
Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

Jika Korupsi Bisa Diselesaikan dalam Waktu Singkat, Mengapa Prabowo Minta Dua Periode? Tanya Fahri Hamzah

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Rakyat Hendak Dibenturkan

June 13, 2026
Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

Gelombang Mahasiswa Melawan Prabowo: Ketika Kesabaran Publik Mulai Habis

June 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist