Yerusalem, 18 Juli 2025 — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi mengumumkan rencana pendudukan wilayah selatan Suriah, mencakup area dari Dataran Tinggi Golan hingga Pegunungan Druze di selatan Damaskus. Langkah ini disertai kebijakan demiliterisasi penuh atas wilayah tersebut dengan dalih keamanan nasional dan stabilitas regional.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis malam waktu setempat, Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak dapat lagi menoleransi “ancaman militer dan aktivitas teroris yang terus beroperasi di sepanjang perbatasan utaranya.”
“Kami tidak akan menunggu roket berikutnya mendarat di Galilea. Israel akan mengamankan wilayah perbatasan demi rakyatnya dan demi masa depan kawasan ini,” tegas Netanyahu di Yerusalem.
Pemerintah Israel mengklaim bahwa keberadaan kelompok bersenjata pro-Iran di wilayah selatan Suriah menjadi ancaman langsung yang harus segera dinetralisir. Oleh karena itu, militer Israel disebut telah mulai mempersiapkan operasi darat dengan dukungan penuh dari angkatan udara dan unit intelijen.
Wilayah yang dimaksud mencakup area strategis yang membentang dari Dataran Tinggi Golan — wilayah yang telah dianeksasi Israel sejak 1967 — hingga kawasan Jabal al-Druze, yang dihuni mayoritas warga Druze Suriah. Meskipun tidak dijelaskan detail batas-batas wilayah yang akan diduduki, Netanyahu menegaskan bahwa operasi tersebut akan berlangsung “dalam waktu dekat dan untuk jangka panjang.”
Kecaman dan Kekhawatiran Internasional
Pengumuman ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Pemerintah Suriah melalui Kementerian Luar Negeri di Damaskus mengecam keras langkah tersebut sebagai bentuk agresi dan pelanggaran kedaulatan, serta meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas.
Iran dan Rusia, sekutu utama rezim Bashar al-Assad, juga menyatakan keberatan keras dan memperingatkan akan adanya “resistensi aktif” terhadap kehadiran militer Israel di wilayah Suriah.
Sementara itu, analis geopolitik menilai langkah ini sebagai eskalasi besar yang berpotensi mengguncang stabilitas regional yang sudah rapuh. “Ini bukan hanya tentang Israel dan Suriah. Ini adalah pesan kepada Teheran, Moskow, dan bahkan Washington,” kata Rami Khouri, analis politik Timur Tengah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Amerika Serikat atau Perserikatan Bangsa-Bangsa atas pengumuman tersebut. Namun, situasi di perbatasan Israel-Suriah kini berada dalam siaga tinggi, dengan laporan pergerakan pasukan dan pengerahan alat berat militer dari kedua sisi.

























