FusilatNews – Penahanan Hasto Kristiyanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan keterlibatan dalam skandal suap pengurusan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI 2019–2024 mengguncang internal PDI Perjuangan. Sebagai salah satu kunci dalam struktur kepengurusan partai, posisi Sekretaris Jenderal PDIP kini menjadi sorotan utama. Sejumlah nama mulai disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk menggantikan Hasto, termasuk Ketua DPP PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul dan Wakil Gubernur Jakarta sekaligus Ketua DPP PDIP, Rano Karno.
Manuver politik mulai tampak dengan kedatangan Bambang Pacul dan Rano Karno ke kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, pada Senin (24/2/2025). Keduanya tiba dalam selang waktu yang tidak terlalu lama dan kompak mengenakan seragam merah khas partai. Namun, tidak ada pernyataan yang mereka berikan kepada media sebelum memasuki rumah Megawati, semakin memperkuat spekulasi bahwa pertemuan ini membahas strategi suksesi posisi Sekjen.
Bambang Pacul: Kader Loyal dan Pemegang Kunci Fraksi
Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul bukan sosok asing dalam dinamika internal PDIP. Sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP, ia memiliki kendali atas strategi pemenangan partai di berbagai ajang elektoral. Kepiawaiannya dalam membangun konsolidasi di internal partai menjadikannya salah satu figur kuat untuk menduduki kursi Sekjen.
Selain itu, kedekatannya dengan Megawati dan rekam jejaknya dalam mendisiplinkan kader PDIP di parlemen juga menjadi nilai tambah. Jika Megawati menginginkan sosok dengan loyalitas tinggi serta memiliki pengalaman dalam mengelola fraksi, maka Bambang Pacul adalah pilihan yang logis.
Rano Karno: Figur Populer dengan Jaringan Luas
Di sisi lain, Rano Karno merupakan sosok yang dikenal luas oleh masyarakat, tidak hanya sebagai politisi tetapi juga sebagai figur publik dengan rekam jejak di dunia seni dan pemerintahan. Sebagai mantan Gubernur Banten dan kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta, Rano memiliki pengalaman eksekutif yang dapat menjadi modal penting dalam mengelola dinamika internal PDIP.
Namun, tantangan bagi Rano adalah kurangnya pengalaman dalam urusan strategi partai dan konsolidasi struktural di akar rumput. Jika PDIP menginginkan wajah baru yang lebih komunikatif dan memiliki daya tarik publik yang kuat, maka Rano Karno bisa menjadi pilihan.
Sinyal dan Teka-Teki di Teuku Umar
Pertemuan para elite PDIP dengan Megawati sejak penahanan Hasto menunjukkan bahwa partai tengah melakukan kalkulasi matang untuk menentukan suksesor yang tepat. Selain Bambang Pacul dan Rano Karno, tidak tertutup kemungkinan munculnya nama-nama lain yang memiliki kedekatan dengan Megawati dan mampu mengelola mesin partai dengan baik.
Bagi PDIP, posisi Sekjen bukan sekadar jabatan administratif, tetapi juga motor utama dalam menjaga soliditas partai dan mengawal kebijakan Ketua Umum. Dalam konteks ini, siapapun yang akan menggantikan Hasto harus mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik, terlebih menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks menjelang Pemilu 2029.
Dengan berbagai manuver yang tengah berlangsung, keputusan akhir tetap berada di tangan Megawati. Apakah ia akan memilih figur yang telah teruji dalam struktur partai seperti Bambang Pacul, atau memberikan kesempatan kepada sosok baru dengan daya tarik publik seperti Rano Karno? Ataukah ada kandidat lain yang diam-diam disiapkan untuk menduduki posisi strategis ini? Semua ini masih menjadi teka-teki yang menarik untuk dicermati dalam waktu dekat.


























