Kalau bukan karena politik, mustahil ada kiai NU nyasar ke pintu rumah Netanyahu. Kecuali mungkin kalau Google Maps-nya disetel pakai logika PBB: belok kanan sedikit ke Yerusalem Timur, lalu lurus terus menabrak moralitas sejarah.
Tapi tenang, ini bukan ziarah kubur ke nisan Palestina yang makin hari makin kabur. Ini kunjungan “keagamaan,” kata mereka, sambil membawa kopiah dan bahasa Inggris patah-patah yang sudah cukup bikin tentara Israel senyum-senyum sambil mengecek senapan.
Politik kadang seperti sarung: longgar, fleksibel, bisa dipakai ke masjid, bisa juga ke pasar, bahkan bisa juga ke parlemen. Tapi begitu dipakai untuk menutupi kepentingan, ia bukan lagi kain suci, melainkan kamuflase. Dan di sinilah saya ingin mengajak para pembaca untuk ngopi sejenak, sebelum darah tinggi naik karena melihat foto-foto tokoh Nahdliyin bersalaman hangat dengan Bapak Blokade Gaza.
Apa yang dicari? Perdamaian? Dialog lintas agama? Atau cukup sekadar mencari tempat selfie paling absurd dalam sejarah ormas Islam Indonesia?
Mari kita buka lembar tafsir politik.
Kunjungan ini, katanya, adalah bagian dari diplomasi kebudayaan. Tapi bukankah diplomasi semacam ini semestinya menyentuh akar penderitaan? Ke mana suara untuk rakyat Palestina yang terjajah, yang bahkan tak bisa menggelar haul untuk para syuhada karena bom bisa datang kapan saja?
Atau barangkali para tokoh ini sedang membangun diplomasi gaya “ngopi bareng”: duduk, senyum, lalu pulang dengan oleh-oleh cerita yang bisa dijual ke publik, bahwa mereka telah “bertemu tokoh penting dunia”. Padahal yang mereka temui bukan tokoh agama, bukan juga pemimpin spiritual, tapi arsitek utama dari penderitaan panjang yang, sialnya, malah makin disahkan lewat jabat tangan orang-orang berbaju putih.
Politik Indonesia kadang seperti wayang: dalangnya di Jakarta, tapi penontonnya bisa di Gaza. Dan ketika para tokoh agama main ke rumah penjajah, jangan heran kalau rakyat bertanya-tanya: ini santri siapa? Ini ustaz dari kampung mana yang menganggap pembantaian bisa dimaafkan demi dialog?
Kita semua tahu bahwa NU adalah ormas besar dengan sejarah panjang melawan kolonialisme dan ketidakadilan. Tapi dalam episode ini, yang tampil ke panggung bukanlah spirit Hadratussyekh, melainkan peran figuran yang salah kostum dalam lakon tragedi Timur Tengah.
Sebab itulah, kita perlu jujur: kunjungan ini bukan sekadar kunjungan. Ia adalah pesan. Pesan kepada dunia bahwa sebagian elite Islam di Indonesia bisa diajak berkompromi, asal diajak jalan-jalan ke tanah suci, ditawari makan malam dan disorot kamera.
Tapi hati-hati. Di balik lensa itu ada luka-luka yang tak bisa disembuhkan oleh selfie, tak bisa dihapus oleh klarifikasi.
Dan ketika seorang tokoh bersarung menyambangi Netanyahu tanpa membawa kecaman, maka itu bukan lagi diplomasi. Itu semacam keblinger-an politis yang mencoba disamarkan dengan bumbu toleransi.
Akhir kata, saya tak tahu siapa penjahit skenario ini. Tapi yang jelas, sarung yang kita kenakan tak seharusnya dipakai menutupi aib semacam ini.
Wallahu a’lam, tapi akal sehat tetap wajib dipakai, meski dalam kondisi darurat selfie.


























