Di suatu masa, sebuah nama bisa jadi kutuk; di masa lain, bisa jadi cahaya.
Fusilatnews – Di New York, nama itu disambut. Zohran Mamdani. Nama yang dalam telinga Amerika—yang pernah begitu curiga terhadap Islam dan dunia Timur—mengandung gema yang asing. Tapi justru dalam keasingannya, nama itu menemukan rumah. Ia terpilih bukan meski ia seorang Muslim imigran, tapi justru karena ia membawa suara-suara yang tak pernah cukup keras didengar: tentang sewa rumah yang tak manusiawi, penitipan anak yang membuat warga kota harus memilih antara kerja dan keluarga, dan tentang kota yang makin mahal tapi makin tak ramah.
Sementara itu, di Jakarta, kita mengenal nama lain: Anies Rasyid Baswedan. Cerdas, santun, modern, religius. Ia juga, seperti Zohran, lahir dari sejarah dan pemikiran. Ia cucu dari Abdurrahman Baswedan (AR Baswedan), jurnalis, pejuang kemerdekaan, diplomat yang ikut menancapkan bendera merah putih dalam sidang-sidang dunia.
Namun sejarah tak selalu adil pada para pewarisnya. Jika Mamdani dirayakan di New York, Anies justru pernah digiring menjadi musuh bersama. Ia tak hanya ditantang oleh lawan-lawan politiknya, tapi oleh arus bawah yang mengusung satu kalimat beracun: “jangan pilih yang Arab.”
Di tahun 2017, Jakarta menjadi panggung dari sejarah kecil yang getir. Sebuah Pilkada yang tampaknya demokratis, tapi di bawahnya menyimpan ketakutan lama: keturunan asing, agama mayoritas, dan luka kolonial yang tak selesai. Anies, dalam narasi itu, digambarkan bukan sebagai intelektual, bukan sebagai mantan rektor, bukan sebagai cucu pejuang. Ia hanya disebut satu hal: keturunan Arab.
Dan itu dianggap cukup untuk membuatnya dicurigai. Dalam sejarah kita, selalu ada “yang bukan kita”. Dulu disebut “Timur Asing”. Kini, cukup dengan satu potongan nama: Baswedan.
Di Amerika, tanah yang konon keras dan dingin, ternyata lebih mampu menampung perbedaan. Mamdani, yang lahir di Uganda, berdarah India, seorang Muslim, dan menyebut dirinya sosialis, kini hampir dipastikan menjadi Wali Kota New York. Ia mengalahkan Andrew Cuomo, nama besar, anak dari dinasti politik, mantan gubernur yang mencoba kembali.
Ada ironi di sini. Negeri yang pernah menolak pemimpin berkulit hitam, kini telah melampaui satu tahap lain: menerima pemimpin Muslim yang terang-terangan menantang sistem yang mapan. Tapi negeri kita sendiri, yang memproklamasikan kebhinekaan dan Pancasila, kadang masih terjerat pada garis darah.
Amerika bukan tanpa dosa. Mereka punya sejarah panjang rasisme, diskriminasi, dan politik eksklusi. Tapi demokrasi mereka—betapapun retaknya—masih punya ruang untuk memperbaiki diri. Indonesia, sayangnya, kadang seperti menutup ruang itu, dan lebih suka memelihara luka agar bisa terus dijadikan alat kampanye.
Mamdani menang dengan mengusung isu keseharian: biaya sewa, akses bus gratis, penitipan anak. Isu-isu yang menyentuh dasar dari kehidupan kota. Ia tidak menawarkan identitasnya sebagai bendera, tapi sebagai jembatan. Anies pun demikian. Ia bicara tentang pendidikan, reformasi birokrasi, tata kota. Tapi yang dibicarakan bukan yang diingat. Yang diingat adalah nama belakangnya.
Kita pernah punya nama-nama besar yang membawa keindonesiaan dari berbagai penjuru: Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Tjokroaminoto, AR Baswedan, sampai John Lie. Tapi nama-nama itu kini nyaris hanya jadi jalan di atas aspal, bukan percakapan di ruang publik.
Zohran Mamdani adalah bukti bahwa demokrasi bisa tumbuh lewat ingatan yang tidak sempit. Bahwa keberagaman bukan hanya simbol dalam lambang negara, tapi kenyataan dalam kotak suara. Ia adalah bukti bahwa pemilih bisa mendengar suara, bukan hanya melihat rupa.
Dan Anies Baswedan, barangkali, adalah pengingat bahwa kita belum selesai berdamai dengan siapa diri kita. Selama identitas masih dianggap ancaman, maka pemimpin yang datang dari luar lingkar mayoritas akan terus ditolak, secerdas apa pun ia, sebersih apa pun rekam jejaknya.
Dari New York ke Jakarta, dari Mamdani ke Anies, kita melihat bayangan dua kota yang saling bercermin. Satu sedang melampaui trauma identitasnya. Yang satu, masih menjadikannya alat untuk meminggirkan.
Tapi sejarah selalu bergerak. Dan kadang, yang hari ini ditolak, besok bisa jadi harapan.























