Oleh: Jaya Suprana Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
LUBUK sanubari niscaya bergetar ketika menyimak video rekaman diskursus seru Tanto Mendut versus Cak Nun tentang fenomena bangsa yang paling gemar bicara tentang Firaun ternyata bukan Mesir atau Israel atau Perancis, tetapi Indonesia. Masalah menjadi makin menarik karena ternyata bangsa Indonesia paling banyak bicara tentang Firaun justru akibat sama sekali tidak tahu menahu tentang Firaun sebab Firaun memang tidak pernah berkuasa di Indonesia maupun Nusantara yang secara geografis terletak nun jauh sekitar sepuluh ribu kilometer dari Mesir. Bangsa Nusantara tidak pernah seperti bangsa Yahudi diperbudak oleh Firaun.
Bangsa Nusantara tidak pernah dipimpin oleh Napoleon yang sempat menugaskan Jean-Francois Champollion untuk menerjemahkan aksara hiroglif bahasa Mesir Kuno ke dalam bahasa Perancis. Menurut Tanto Mendut akibat sebenarnya sama sekali tidak tahu-menahu tentang Firaun maka bangsa Indonesia justru makin seru dalam kebingungan tatkala bicara tentang sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak tahu-menahu. Apalagi semua fakta itu disampaikan oleh Tanto Mendut dalam gaya dan tata bahasa yang tersohor sulit dipahami akibat seru lincah loncat ke sana ke mari tanpa aturan kecuali aturan tanpa aturan.
Pada prinsipnya Tanto Mendut dan Cak Nun benar banget bahwasanya segenap informasi tentang sejarah apalagi prasejarah sebenarnya kita hanya tahu bukan secara benar-benar tahu sendiri, namun sekadar tahu dari apa kata orang lain terutama mereka yang disebut sebagai sejarawan dan/atau arkeolog. Maka wajar bahwa bangsa Indonesia gemar bicara tentang firaun bukan berdasar pengalaman maupun pengetahuan berdasar kesadaran diri sendiri, namun sekadar tahu berdasar apa kata orang lain terutama hasil penelitian para beliau yang disebut sejarawan dan/atau arkeolog belaka.
Pada hakikatnya Tanto Mendut dan Cak Nun mengajak kita semua untuk mulai berpikir kritis dan skeptis terhadap apapun yang diinformasikan oleh media massa apalagi media sosial di mana telah terjadi proses demokratisasi pemberitaan sehingga siapa saja bisa bikin berita gaya gue-mau-gini-lu-mau-apa. Kerajaan Belanda melalui VOC sudah berhasil selama ratusan tahun mencuci otak para warga Hindia-Belanda untuk ikhlas percaya apapun kata ilmuwan Belanda dan Eropa sebagai yang pasti benar adanya agar Hindia-Belanda lebih mudah dijajah. Mumpung Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan sejak 17 Agustus 1945, maka sudah tiba saatnya kini bangsa Indonesia bersikap lebih kritis dan skeptis terhadap apapun yang diinformasikan maupun diajarkan oleh bangsa asing demi berjuang menegakkan pilar-pilar kedaulatan peradaban Indonesia sebagai kubu utama pertahanan dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. MERDEKA!
Dikutip Kompas.com, Selasa 14 Maret 2023




















