ACEH JAYA,Fusilatnews, 23 Maret (Reuters) – Reuteurs memberitakan bahwa Otoritas Indonesia telah menemukan dua jenazah dari pantai Aceh Barat pada hari Sabtu setelah sebuah kapal yang membawa migran Rohingya terbalik di lepas pantai awal pekan ini. Nelayan setempat melaporkan beberapa korban tenggelam lainnya terdampar di sepanjang pantai barat provinsi Aceh, di pulau Sumatra, Indonesia.
Lebih dari 70 orang Rohingya diduga tewas atau hilang dalam insiden tersebut, demikian yang diungkapkan badan pengungsi PBB (UNHCR) pada hari Jumat. Sebanyak 75 orang berhasil diselamatkan.
“Kami telah mengevakuasi dua jenazah dari pantai. Kami telah mengidentifikasi keduanya sebagai perempuan,” kata Mirza Saprinadi, kepala operasi nasional Badan SAR Indonesia. Petugas imigrasi telah mengonfirmasi bahwa para korban adalah warga Rohingya.
Selama bertahun-tahun, warga Rohingya meninggalkan Myanmar karena penindasan yang mereka alami. Mereka sering kali ditolak kewarganegaraannya dan menjadi sasaran pelecehan di negara asal mereka. Lebih dari 2.300 orang Rohingya tiba di Indonesia tahun lalu, menurut data UNHCR, jumlah yang melampaui tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2023, jumlah korban jiwa Rohingya yang tewas atau hilang mencapai 569 orang saat mereka mencoba melarikan diri dari Myanmar atau Bangladesh, menurut UNHCR, angka tertinggi sejak tahun 2014.
Sementara itu, di Laut Cina Selatan, Penjaga Pantai Tiongkok menembakkan meriam air ke kapal-kapal Filipina di perairan yang disengketakan, sebuah tindakan yang dianggap tidak bertanggung jawab dan provokatif oleh pihak Filipina.
Kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari penjaga pantai Filipina yang berpatroli di perairan teritorial yang disengketakan, menyebabkan tegangnya hubungan antara kedua negara di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan kompleksitas politik dan kemanusiaan yang terus berlangsung di wilayah Asia Tenggara, di mana konflik dan krisis kemanusiaan seringkali terjadi.

























