• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dua Rezim, Satu Watak: Membedah Otoritarianisme Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila

fusilat by fusilat
November 17, 2025
in Feature, Politik
0
Dua Rezim, Satu Watak: Membedah Otoritarianisme Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Indonesia pernah berada di bawah dua rezim yang lahir dari konteks sejarah berbeda, dengan gaya politik dan retorika yang tak serupa. Namun keduanya—Demokrasi Terpimpin era Soekarno dan Demokrasi Pancasila era Soeharto—bertumpu pada fondasi konstitusional yang sama: pemanfaatan UUD 1945 sebagai instrumen legitimasi kekuasaan yang nyaris tanpa batas. Ketiadaan mekanisme pembatasan kekuasaan membuat demokrasi mudah meluncur ke arah otoritarianisme, bahkan represivitas yang terstruktur.


Soekarno dan Demokrasi Terpimpin: Ketika Negara Menyatu dengan Presiden

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kerap dianggap sebagai solusi atas kebuntuan politik. Namun dalam kenyataannya, dekrit tersebut membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaan presiden secara total. UUD 1945 menjadi perangkat untuk memusatkan kekuasaan, bukan menjaga keseimbangan di antara lembaga negara.

Beberapa kebijakan Soekarno menunjukkan arah itu dengan jelas:

Pertama, produksi regulasi melalui Penetapan Presiden tanpa keterlibatan DPR, menjadikan presiden sebagai aktor tunggal yang sekaligus membuat dan melaksanakan hukum.

Kedua, pengangkatan Manifesto Politik sebagai GBHN memperkuat dominasi wacana negara yang disusun langsung oleh presiden.

Ketiga, para pemimpin lembaga tinggi negara dijadikan menteri, mengembalikan seluruh rantai komando politik ke tangan presiden.

Keempat, pembubaran DPR hasil Pemilu 1955—parlemen paling representatif sepanjang sejarah Indonesia—dan pembentukannya kembali sebagai DPR-GR yang keanggotaannya bergantung sepenuhnya pada penunjukan presiden.

Kelima, penerimaan pengangkatan sebagai Presiden seumur hidup, yang secara formal menghapus konsep mandat rakyat dalam pergantian kepemimpinan nasional.

Dalam bangunan politik seperti ini, demokrasi hanya menjadi ornamen. Oposisi dibungkam, hukum dilemahkan, dan MPR lebih berfungsi sebagai perpanjangan tangan presiden ketimbang sebagai representasi rakyat. Demokrasi Terpimpin pada akhirnya bukanlah demokrasi yang dipimpin, melainkan kekuasaan yang dipertuan agungkan.


Soeharto dan Demokrasi Pancasila: Otoritarianisme Berbungkus Prosedur

Jika Soekarno membangun otoritarianisme melalui simbol dan retorika revolusioner, Soeharto melakukannya melalui birokrasi, militer, dan prosedur administratif yang dirancang sedemikian rupa. Orde Baru menciptakan kesan bahwa demokrasi berjalan, padahal seluruh mekanismenya dikendalikan secara sistematis.

Akar persoalannya tetap sama: UUD 1945 menyediakan ruang kekuasaan presiden yang terlalu luas, dan Soeharto memanfaatkannya secara optimal.

Pertama, Pasal 1 ayat (2) memungkinkan Soeharto mengendalikan MPR melalui Golkar, ABRI, serta utusan daerah dan golongan yang ditunjuk. Dengan komposisi ini, MPR kehilangan fungsi pengawasan dan berubah menjadi lembaga pengesah kehendak eksekutif.

Kedua, absennya batas masa jabatan presiden membuat Soeharto dapat terus “dipilih” kembali. Pemilu berlangsung setiap lima tahun, tetapi hasilnya dapat ditebak: Golkar selalu menang telak, ABRI menjaga stabilitas, dan Soeharto terpilih aklamatif sebagai presiden.

Ketiga, pembonsaian lembaga negara menjadikan DPR sebatas mesin pengesah rancangan undang-undang pemerintah. Sementara itu, kekuasaan kehakiman disubordinasikan hingga hukum lebih tunduk pada kekuasaan ketimbang mengawasinya.

Keempat, pembatasan hak politik dan ruang sipil mengunci demokrasi: asas tunggal Pancasila, pembatasan organisasi, intervensi negara atas kampus, media, dan kehidupan sosial. Kritik politik dibalas dengan intimidasi, penahanan, bahkan penghilangan.

Kelima, Dwi Fungsi ABRI menjadikan militer bukan hanya aparat keamanan, tetapi juga aktor utama dalam pengelolaan pemerintahan. Ratusan posisi sipil diisi militer, menciptakan alur kontrol politik yang terpusat dan rapi.

Dalam kondisi seperti itu, korupsi, kolusi, dan nepotisme tumbuh subur. Kekuasaan tanpa pengawasan selalu bertransformasi menjadi arena ekonomi bagi para elite.


Dua Era, Dua Presiden, Satu Pola Otoritarianisme

Membandingkan Soekarno dan Soeharto hanya dari gaya retorika adalah kekeliruan. Yang lebih penting adalah melihat pola kekuasaan yang dihasilkan oleh struktur konstitusi yang sama:

  • Pemimpin menguasai legislatif, baik melalui pembubaran maupun rekayasa komposisi.
  • Kekuasaan kehakiman dilemahkan sehingga tidak dapat membatasi eksekutif.
  • Kebebasan politik dipersempit dan kritik diperlakukan sebagai ancaman negara.
  • Tafsir terhadap konstitusi dimonopoli penguasa, menjadikan UUD alat pembenaran, bukan pedoman demokrasi.

Dua rezim ini memperlihatkan satu pelajaran penting: tanpa pembatasan kekuasaan, tanpa peradilan independen, dan tanpa jaminan partisipasi rakyat, demokrasi mudah berubah menjadi label kosong yang membenarkan kekuasaan absolut.

Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila adalah dua wajah dari masalah yang sama: konstitusi yang tidak melindungi rakyat dari pemerintahannya sendiri.
Sejarah keduanya bukan sekadar arsip kelam masa lalu, tetapi peringatan keras bagi masa kini:
otoritarianisme lahir bukan karena kuatnya seorang pemimpin, tetapi karena lemahnya sistem yang memungkinkan kekuasaan bekerja tanpa kontrol.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gibran Tidak Bakal Menjadi Presiden RI?

Next Post

DHL Tak Setali Tiga Uang dengan Jimly Asshiddiqie dan Mahfud Md

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Prof Jimly Tanggapi Tudingan Mahfud, MKMK Bisa Dibeli, Tidak Beradab

DHL Tak Setali Tiga Uang dengan Jimly Asshiddiqie dan Mahfud Md

Jokowi-Aguan Punya Hidden Agenda dalam PSN PIK 2 untuk Kuasai Aset Negara Secara Ilegal

Penyelidikan Korupsi Proyek Kereta Cepat Whoosh Diduga untuk Lindungi Jokowi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...