FusilatNews – Dulu, para pejuang kemerdekaan bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga beradu gagasan demi merancang masa depan bangsa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang—nasionalis, Islamis, sosialis—dengan ide-ide yang kerap bertabrakan. Namun, meski perdebatan berlangsung sengit, persaudaraan tetap terjaga.
Bayangkan suasana di sebuah ruang diskusi tahun 1945. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Soekarno, dan Ki Hadjar Dewantara duduk berhadapan, saling mempertahankan pemikiran mereka. Hatta, dengan ketenangannya, menguraikan pentingnya ekonomi berbasis koperasi. Sjahrir menyela, menegaskan bahwa sistem parlementer lebih ideal. Tan Malaka, dengan semangat revolusionernya, mengajukan gagasan perjuangan rakyat bersenjata.
Nada suara meninggi, argumen bertubrukan. Kata-kata tajam terlontar, namun bukan untuk melukai, melainkan untuk mempertajam pemahaman. Ketika perdebatan usai, mereka tak saling membelakangi. Mereka keluar dari ruangan dengan tawa yang lepas, lalu pulang dengan sepeda bocengan. Hatta di depan, Sjahrir di belakang. Tan Malaka membonceng aktivis muda. Sementara Soekarno memilih berjalan sambil menyapa rakyat.
Beginilah para pendiri bangsa: berseteru dalam gagasan, bersatu dalam kebersamaan. Mereka memahami bahwa kemerdekaan bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana tetap bersama dalam perbedaan.
Namun kini, semangat itu seolah menguap dalam atmosfer politik yang sarat dengan kepentingan dan ego kekuasaan. Lihatlah bagaimana wacana pertemuan Prabowo dan Megawati hanya menjadi isapan jempol—tak jelas kapan, bahkan mungkin tak pernah terjadi. Hubungan Jokowi dan Megawati pun membeku dalam ketegangan politik yang tak terhindarkan. Padahal, dulu mereka berdiri di panggung yang sama, mengangkat tangan bersama. Kini, bahkan Idul Fitri yang semestinya menjadi jembatan silaturahmi tak mampu mencairkan kebekuan.
Tak ada lagi adegan naik sepeda bocengan selepas debat panjang. Yang tersisa hanyalah perhitungan politik yang dingin, penuh curiga, dan saling menunggu siapa yang akan tersungkur lebih dulu. Inilah wajah politik hari ini—jauh dari semangat kebersamaan para pendiri bangsa.


























