“Meski akan ada tantangan-tantangan di depan, kita berharap bahwa dengan strategi tepat dan investasi bijak, kinerja investasi kita dapat menjadi lebih baik di tahun mendatang,” tegas Handayani dalam acara Market Outlook bertajuk “Strategi Investasi Memasuki Tahun Politik” yang diselenggarakan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan entitas asosiasi PT Danareksa (Persero), di Jakarta, Rabu (6/9/2023).
Jakarta – Fusilatnews – Ditengah mulai memanasnya suhu politik dan meroketnya harga beras, memasuki semester II 2023 kinerja makro-ekonomi Indonesia diproyeksi masih tangguh. Data menunjukkan nilai transaksi di pasar modal cenderung meningkat didorong capital inflow
Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani, mengungkapkan bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia melalui kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) terus tumbuh kuat di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya harga beras. Didukung oleh implementasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mempertahankan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) untuk mempertahankan inflasi agar terus terkendali di angka 3%.
“Meski akan ada tantangan-tantangan di depan, kita berharap bahwa dengan strategi tepat dan investasi bijak, kinerja investasi kita dapat menjadi lebih baik di tahun mendatang,” tegas Handayani dalam acara Market Outlook bertajuk “Strategi Investasi Memasuki Tahun Politik” yang diselenggarakan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan entitas asosiasi PT Danareksa (Persero), di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (6/9/2023).
Ia menambahkan bahwa BRI sebagai induk usaha BRI Danareksa akan memberikan dukungan dengan mendorong literasi dan edukasi, serta memperbanyak acara memperkenalkan produk pasar modal secara luas kepada masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama Chief Economist & Macro Strategy BRI Danareksa Helmy Kristanto menjelaskan bahwa dengan berlanjutnya tren disinflasi dan semakin banyak bank sentral di dunia menahan kenaikan suku bunga, fokus utama akan tertuju pada pertumbuhan ekonomi. Dari dalam negeri, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga sampai dengan akhir tahun ini. “Pada periode pemilu hal ini akan mendukung konsumsi domestik, secara historis cenderung positif untuk pasar ekuitas dengan masuknya investor asing,” jelas Helmy.
Pengamat politik Burhanudin Muhtadi menilai bahwa meski terjadi perlambatan ekonomi, tetapi Indonesia dianggap masih tangguh dibandingkan ekonomi global dan beberapa negara tetangga di tengah sentimen tahun politik yang membayangi. Ia mengatakan pada dasarnya pasar akan cenderung wait and see. Setelah pemilu selesai, perekonomian akan kembali normal siapa pun yang terpilih.
Sementara Hans Kwee yang dikenal sebagai seorang trader profesional mengatakan secara historis indeks harga saham gabungan (IHSG) akan menunjukkan tren positif selama periode pemilu. “Selama bulan dan tahun penyelenggaraan pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilihan presiden, IHSG menunjukkan tren kenaikan,” kata dia.
Hal ini juga diikuti peningkatan jumlah uang beredar di masyarakat, yang dapat berasal dari berbagai program seperti bantuan langsung tunai (BLT) atau program keluarga harapan (PKH). Dengan kondisi ini, sektor saham di Bursa Efek Indonesia yang terdorong adalah sektor konsumen dan sektor keuangan.
























