FusilatNews- Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi mengungkapkan Perbedaan Di era Soekarno dan Joko Widodo, terjadi perbedaan besar dalam penanganan kasus pembunuhan yang melibatkan perwira. Di era Sukarno terbilang cepat sedangkan Jokowi lambat. Padahal di baliknya ada Partai raksasa PKI
“30 SEPTEMBER 1965 pd era Sukarno prajurit Cakrabirawa bunuh 6 Jenderal. Para pekaku lekas digulung, padahal di baliknya ada patai raksasa PKI namanya.” Ungkap Adie dikutip dari unggahan twitternya, @AdhieMassardi (30/9/2022).
Sementara di era Jokowi, kasus pembunuhan ini dilakukan oleh seorang polisi berpangkat jenderal bintang dua. Dan yang terbunuh adalah prajurit berpangkat brigadir. Namun, kasus pembunuhan yang terjadi pada bulan Juli lalu ini tidak kunjung usai.
“Pada era Widodo logika kebalik. Jenderal yg bunuh prajurit Brigadir J. Ber-bulan2 pelakunya gak jelas. Se-NKRI pening. Gak lucu” Lanjutnya
Sebelumnya Kasus Pembunuhan berencana Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat yang menarik perhatian public kasusnya berlarut larut. Kini Polri menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut. Yakni Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer atau Bharada E, Bripka Ricky, Putri Candrawathi, dan Kuat Ma’ruf.
Ferdy Sambo dkk dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 juncto 56 KUHP. Mereka terancam hukuman mati.
Ferdy Sambo diduga memerintahkan Bharada Richard Eliezer untuk menembak Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat. Ferdy Sambo juga diduga merancang skenario seolah Brigadir Yosua tewas dalam baku tembak dengan Bharada Eliezer di rumah dinasnya pada Jumat (8/7).
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News

























