• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Etanol Bahlul: Bahan Bakar yang Tak Punya Bahan

Ali Syarief by Ali Syarief
October 13, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Pemerintah: Siap-Siap Kalau Kenaikan Harga BBM Terjadi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Ketika pemerintah mengumumkan rencana mencampur 10 persen etanol dalam bahan bakar nasional, publik mungkin mengira Indonesia sedang melangkah menuju era energi hijau seperti Brasil. Di negeri samba itu, etanol bukan sekadar bahan bakar alternatif—ia adalah simbol kemandirian energi. Tapi di Indonesia, ide yang terdengar cemerlang itu justru menyisakan satu pertanyaan mendasar: etanolnya dari mana?

Di atas kertas, kebijakan ini tampak futuristik dan ramah lingkungan. Namun di lapangan, produksi etanol nasional belum mencapai satu juta liter per hari. Padahal untuk memenuhi kebutuhan campuran 10 persen saja, Indonesia butuh kapasitas industri yang jauh lebih besar—setidaknya empat sampai lima kali lipat dari kemampuan saat ini. Dengan kata lain, sebelum bicara tentang “bahan bakar hijau”, seharusnya kita bicara dulu tentang “bahan mentahnya”.

Inilah masalah klasik negeri ini: kebijakan melompat tanpa pijakan. Rencana sudah diumumkan dengan gegap gempita, konferensi pers disiarkan di mana-mana, tapi kesiapan di lapangan nihil. Dari hulu ke hilir, rantai produksinya belum ada yang siap. Tidak ada jaminan pasokan tebu, tidak ada kepastian harga bagi petani, dan tidak ada insentif bagi industri untuk membangun pabrik pengolahan etanol dalam skala besar.

Ironisnya, kebijakan seperti ini justru lahir di tangan seorang menteri yang dikenal gesit dan piawai berbicara: Bahlil Lahadalia. Ia sering tampil sebagai wajah optimisme pemerintah dalam pembangunan ekonomi. Dalam berbagai forum, ia menegaskan bahwa Indonesia harus berdikari dalam energi, tidak terus bergantung pada impor. Namun, dalam kasus etanol ini, semangat kemandirian justru berbalik menjadi cermin dari kerapuhan perencanaan.

Bahlil bukan orang bodoh—ia cerdas, lincah, dan tahu bagaimana menjual ide. Tapi di balik karismanya, ada kecenderungan untuk melompat lebih cepat dari logika. Ia terbiasa menjawab kritik dengan narasi besar: “Kita sedang menuju kemandirian energi”, atau “kita sedang membangun industri hijau”. Namun narasi sebesar apa pun tak akan menutupi fakta bahwa bahan bakar tanpa bahan baku hanyalah ilusi industri.

Masalahnya bukan sekadar soal teknis produksi. Di balik kebijakan energi “hijau” ini, ada aroma politik ekonomi yang kental. Etanol diposisikan sebagai proyek strategis nasional, yang otomatis membuka ruang bagi investasi besar. Di sinilah peran Bahlil menjadi kunci: ia bukan sekadar menteri, tapi sekaligus “penghubung” antara pengambil kebijakan dan investor. Setiap program baru, termasuk etanol, adalah panggung baru bagi masuknya modal asing—entah dari Uni Emirat Arab, Cina, atau konsorsium lokal yang dekat dengan kekuasaan.

Pemerintah tampaknya terjebak pada logika pembangunan instan: cukup datangkan investor, bangun pabrik, lalu klaim sebagai keberhasilan transformasi hijau. Padahal, jika bahan bakunya tetap impor, maka yang disebut “kemandirian energi” itu hanyalah slogan kosong. Indonesia bisa saja memproduksi etanol, tapi jika tebu dan jagungnya tidak berasal dari petani lokal, yang berdikari bukan bangsa ini—melainkan para investor yang pandai memanfaatkan celah kebijakan.

Seharusnya, sebelum bicara tentang etanol, pemerintah menyiapkan dulu ekosistemnya: dari hulu pertanian tebu, insentif bagi petani, infrastruktur logistik, hingga kebijakan harga yang menarik bagi investor dalam negeri. Tanpa itu semua, program etanol hanya akan menambah daftar panjang kebijakan yang berhenti di tataran wacana—seperti biodiesel, hilirisasi nikel, atau mobil listrik yang belum juga menjangkau rakyat kebanyakan.

Kita tentu ingin melihat Indonesia mandiri energi seperti Brasil, bukan menjadi penonton dalam drama energi global. Tapi untuk itu, kita butuh menteri yang bukan hanya pandai berbicara, melainkan juga mampu menghitung sampai ke akar persoalan. Karena dalam dunia energi, “lupa menghitung” bisa berarti “membuang triliunan rupiah subsidi”. Dan jika kesalahan itu terjadi, rakyatlah yang menanggung biayanya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Nadiem Makarim Tersandung Sistem yang Tak Bisa Diselamatkan

Next Post

Rosan Salah Bidik – Birokrasi yang Tak Ramah Investor

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah
Feature

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
Next Post
Pengurus Lengkap Danantara Dijadwalkan Diumumkan Siang Ini

Rosan Salah Bidik - Birokrasi yang Tak Ramah Investor

Pengakuan Jujur Menteri Pertanian

Nilai Tukar Petani yang Tak Nyata

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist