Fusilatnews – Ketika Menteri Investasi Rosan Roeslani berbicara tentang sulitnya menarik investor ke Indonesia, banyak kepala mengangguk. Ia memang tidak salah: menanamkan modal di negeri ini bukan perkara mudah. Namun, ketika Rosan menyinggung rendahnya kualitas tenaga kerja sebagai biang keladi, di situlah letak sesat pikir yang sudah menahun.
Masalah utama investasi di Indonesia bukan pada buruh, tapi pada birokrasi—labirin administratif yang memerangkap niat baik dan membunuh efisiensi. Dari izin industri yang berliku, urusan pendirian ormas yang berbelit, hingga sertifikasi halal yang tak kunjung rampung, semua membutuhkan waktu panjang, biaya tinggi, dan segudang tanda tangan. Sering kali, bukan karena aturannya kurang, tapi karena terlalu banyak.
Investor asing tahu betul reputasi Indonesia dalam hal ini. Untuk mendirikan pabrik saja, mereka harus menyiapkan energi lebih besar untuk mengurus dokumen daripada membangun fondasi bangunan. Ada yang menyerah di tengah jalan, ada pula yang akhirnya mencari jalan pintas—yang artinya uang pelicin, bukan efisiensi.
Bandingkan dengan Vietnam. Negara yang dulu tertinggal kini berlari kencang karena tahu di mana letak remnya. Pemerintahnya memangkas prosedur izin, menghapus pungutan liar, dan menyiapkan kawasan industri yang siap pakai. Tak perlu surat berlembar-lembar, cukup satu pintu: datang, daftar, mulai bangun. Tak heran raksasa teknologi dan manufaktur berbondong-bondong datang ke Hanoi dan Ho Chi Minh City.
Sementara kita, masih terjebak dalam euforia regulasi. Setiap kementerian ingin punya wewenang, setiap daerah merasa perlu ikut menandatangani. Akibatnya, izin kecil bisa tersandera berbulan-bulan. Banyak pelaku usaha kecil menyerah bukan karena kehabisan modal, tapi kehabisan napas menghadapi meja birokrat yang tak kunjung selesai memeriksa.
Maka benar kata orang: di Indonesia, modal utama bukan uang, melainkan kesabaran. Para investor yang tetap bertahan di sini pantas disebut pejuang. Mereka tak hanya melawan risiko bisnis, tapi juga menghadapi sistem yang lebih gemar mempersulit daripada melayani.
Dan selama itu belum berubah, Rosan boleh berbicara di banyak forum, tapi gaungnya akan berhenti di dinding-dinding kantor pemerintah sendiri—tempat di mana ide besar sering mati oleh stempel kecil.

























