• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Face Recognition, Antara Akurasi Lemah dan Turut Campur Buzzer

fusilat by fusilat
April 20, 2022
in Feature
0
Face Recognition Polisi Salah Duga Pengeroyok Ade Armando, Ini Saran Kompolnas

Kabid Humas Polda Metro Jaya memperlihatkan salah seorang pelaku pengeroyokan pegiat media sosial, Ade Armando. /PMJ News/Yeni/

Share on FacebookShare on Twitter

Penggunaan teknologi pengenalan wajah atau face recognition oleh penegak hukum kian mendapat kritik menyusul kesalahan penetapan tersangka dan penyebaran data pribadi di kasus pengeroyokan aktivis politik Ade Armando. Berbagai studi di luar negeri memperkuat bukti keberadaan masalah teknologi ini. Diketahui, Ade dikeroyok oleh sejumlah orang dalam demo mahasiswa di depan Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/4). Beberapa hari setelahnya, Polisi mengungkap sejumlah nama tersangka.

Lewat teknologi face recognition, polisi mengidentifikasi enam orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka, yakni Komarudin, Muhamad Bagja, Dhia Ul Haq, Abdul Latip, Abdul Manaf, serta Ade Purnama.

Belakangan, polisi mengaku keliru menetapkan status tersangka kepada salah satunya Abdul Manaf lantaran keterbatasan teknologi. Sementara, fotonya sudah keburu beredar di media sosial lewat akun-akun diduga buzzer dan menjadi sasaran perundungan warganet.

Pakar Ilmu Komputer Universitas Padjadjaran (UNPAD) Setiawan Hadi menilai mestinya polisi tidak langsung percaya kepada algoritma komputer yang merupakan hasil pengembangan teknologi dari manusia.

“Sebetulnya enggak boleh kita, sekali lagi, kalau kita pakai mesin enggak boleh semata-mata bergantung pada mesin. Kita mesti check and recheck lagi,” ujar dia, kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Kamis (14/4). Ia menjelaskan teknologi face recognition merupakan kecerdasan buatan atau AI yang diajarkan untuk mengidentifikasi individu lewat fitur wajah. Cara kerjanya adalah dengan mengenalkan database wajah kepada algoritma. Mesin akan melacak sampel gambar individu yang hendak diketahui identitasnya.

Algoritma mengenali sampel wajah itu dengan mengidentifikasi fitur wajah seperti mata, hidung, bibir, bentuk wajah sebagai parameter identifikasi.

Menurut Setiawan, face recognition terbilang sering digunakan dalam dunia riset. Namun, tetap ada false positive atau kesalahan dalam mengungkap identitas individu. Pasalnya, ada kemungkinan orang yang mirip dengan sampel gambar pada database, sehingga algoritma salah membaca sampel tersebut.

“Perlu check and recheck dan enggak boleh langsung di-publish. Kalau di-publish kan polisi lain langsung action. Nah ini enggak boleh langsung percaya. Walaupun itu dari pusat biometrik kepolisian,” katanya.

Pakar IT yang juga berfokus pada bidang kecerdasan buatan (AI) itu mengatakan polisi terlalu dini menyimpulkan hasil identifikasi dari teknologi itu. Dia menduga Polisi mendapat tekanan dari masyarakat untuk mengungkapkan identitasnya.

“Polisi terlalu dini [menyimpulkan]. Mungkin tekanan dari masyarakat ingin tahu siapa sih [pelakunya],” ucapnya.

Akun Buzzer
Terpisah, pakar keamanan siber sekaligus pendiri Ethical Hacker Indonesia Teguh Aprianto mengatakan harusnya proses penyelidikan terduga pelaku pengeroyokan tertutup dan tidak semestinya bocor ke pihak manapun.

Dia menduga pihak kepolisian mengerahkan sejumlah pendengung alias buzzer untuk menyebar identitas terduga pelaku lewat akun anonim atau akun tanpa identitas jelas di media sosial.

Dugaan Teguh bukan tanpa alasan. Data yang diambil dari sejumlah akun Twitter terang-terangan mengungkap identitas lengkap pihak yang diduga mengeroyok Ade Armando.

Padahal, kata dia, seharusnya data semacam itu hanya dimiliki oleh pihak berwenang. “Untuk polisi, tolong kebiasaan menyebarkan data pribadi seseorang via akun anonim diakhiri,” ujar Teguh lewat Twitternya.

Daftar akun penyebar identitas terduga penyerang AA yang bersumber dari face recognition milik polisi:

18:21 @mahasiswigenz
18:22 @tioharimurtie
18:30 @ZonaHitamQ
18:31 @P3nj3l4j4h_id
18:41 @Paltiwest
18:46 @jimmy_atp
18:55 @gemanawacita
18:57 @jogoboyo88
19:16 @husinshihab pic.twitter.com/XQUWKZB7MP

— Teguh Aprianto (@secgron) April 15, 2022

Sejauh ini belum ada pernyataan lanjutan dari kepolisian ihwal akun-akun penyebar identitas pengeroyok itu. Polisi hanya mengakui meleset dalam mengidentifikasi Abdul Manaf.

“Karena orang yang kita duga pelaku itu menggunakan topi, sehingga begitu topinya dibuka tingkat akurasinya tidak 100 persen. Jadi Abdul Manaf bisa dikatakan bukan sebagai pelaku,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan, Rabu (13/4)

Pengalaman Berbagai Negara Beri Bukti

Face Recognition juga sudah lebih dulu memicu polemik di berbagai negara karena, salah satunya, terkait pengekangan kebebasan berpendapat. Misalnya, pemantauan dan penangkapan demonstran gerakan pro-demokrasi di Hong Kong oleh pemerintah China.
Perdebatan terhadap face recognition pada dasarnya terkait beberapa hal. Pertama, masalah privasi.

Contohnya, ketika seseorang masuk ke sebagian besar toko ritel, kamera keamanan dipasang di lokasi itu untuk mencegah pencurian. Namun, kamera tersebut bisa mengambil data wajah pengunjung untuk database toko.

Dikutip dari Forbes, hingga kini belum ada aturan yang transparan ihwal bagaimana data pengenalan wajah dapat digunakan dan bagaimana data tersebut dibagikan. Lagi-lagi privasi warga jadi korban.

Padahal, privasi adalah hak fundamental di dunia digital dan dunia fisik. Tanpa perlindungan itu, warga hanya akan jadi objek pengekangan hak secara tak tepat sasaran.

Kedua, masalah akurasi. Hasil studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan bahwa Rekognition, teknologi pengenalan wajah produk Amazon yang dipakai polisi di AS, bermasalah dalam mengenali wajah warga Afro-Amerika. Hasil Senada ditemukan dalam penelitian Institut Nasional Standars dan Teknologi (NIST) AS terhadap 189 algoritma dari 99 pengembang, termasuk Intel, Microsoft, Toshiba, dan perusahaan China Tencent dan DiDi Chuxing.

Algoritma dalam studi NIST diuji pada dua jenis kesalahan, yaitu positif palsu, di mana perangkat lunak salah menganggap foto dua individu yang berbeda menunjukkan orang yang sama; dan negatif palsu, di mana perangkat lunak gagal mencocokkan dua foto yang menunjukkan orang yang sama. Bahwa, perbedaan wajah berdasarkan demografi memberi akurasi hasil yang berlainan.

Kasus terbaru adalah penyelidikan oleh dua Anggota DPR AS terhadap ID.me, sebuah perusahaan menyediakan layanan face recognition untuk memverifikasi identitas bagi sejumlah lembaga negara bagian dan federal, terkait masalah privasi dan keamanannya.

Melihat gambaran hasil studi dan contoh kasus di atas, patut dipertanyakan masa depan teknologi pengenalan wajah di ranah penegakan hukum dan pemerintahan. Selain berpotensi penyebaran data pribadi tak sesuai kewenangannya, ada pula risiko kriminalisasi.

Sumber

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sejarah Kebudayaan Islam Masuk ke Indonesia pada Abad ke-7

Next Post

Rencana Indonesia Beli Minyak di Rusia Jadi sorotan Dunia, Kondisi Ekonomi RI yang Memburuk Ini Jadi Pemicunya, Bank Dunia Ungkap Hal Ini

fusilat

fusilat

Related Posts

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?
Feature

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam
Crime

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah
Economy

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
Next Post
Rencana Indonesia Beli Minyak di Rusia Jadi sorotan Dunia, Kondisi Ekonomi RI yang Memburuk Ini Jadi Pemicunya, Bank Dunia Ungkap Hal Ini

Rencana Indonesia Beli Minyak di Rusia Jadi sorotan Dunia, Kondisi Ekonomi RI yang Memburuk Ini Jadi Pemicunya, Bank Dunia Ungkap Hal Ini

Harga Jagung Naik, Siap-siap Harga Ayam & Telur Bakal Naik Juga

Harga Jagung Naik, Siap-siap Harga Ayam & Telur Bakal Naik Juga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi
News

Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi

by Karyudi Sutajah Putra
January 24, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews -  - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamenham) Mugiyanto Sipin menyampaikan inisiasi pendanaan untuk Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) atau...

Read more
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

January 21, 2026
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

January 25, 2026
DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

January 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist