• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Fenomena Nikita Mirzani dan Konstruksi Sosial Keperempuanan di Indonesia

fusilat by fusilat
February 25, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Dr. Novita Sari Yahya 

Kontroversi yang melingkupi Nikita Mirzani telah menjadi bahan pergunjingan publik di Indonesia. Perseteruannya dengan putrinya, Loly, bahkan menjadi analisis hingga parodi di media sosial seperti TikTok. Berbagai komentar netizen bermunculan, mulai dari nasihat, hujatan, hingga rasa keprihatinan. Figur Nikita yang tampil dengan gaya arogan, bahasa kasar, dandanan seksi, serta gaya hidup hedonis dan penuh flexing bertolak belakang dengan konstruksi perempuan ideal yang selama ini didikte oleh budaya patriarki dan ideologi gender di Indonesia.

Sebagai seorang perempuan yang telah menikah empat kali dengan tiga anak dari ayah yang berbeda, serta kehidupan malam yang kerap dikaitkan dengannya, Nikita jelas bukan sosok yang masuk dalam kategori perempuan baik-baik menurut standar masyarakat patriarkal. Dalam budaya yang masih kental dengan nilai-nilai patriarki, perempuan yang menikah lebih dari sekali sering kali dianggap menyimpang dari norma, terlebih jika ia tidak tunduk pada suami atau menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang konvensional.

Ibuisme Negara dan Konstruksi Perempuan Ideal

Di era Orde Baru, negara membentuk dan melanggengkan ideologi gender yang dikenal sebagai “ibuisme negara.” Ibuisme negara adalah konsep yang menempatkan perempuan dalam peran ideal sebagai istri yang mendukung suami, ibu yang bertanggung jawab atas anak-anaknya, serta aktor domestik yang menyiapkan generasi penerus bangsa. Konsep ini adalah alat negara untuk mengendalikan perempuan dan membungkam gerakan perempuan progresif.

Langenberg (1986) menjelaskan bahwa sistem sosial Indonesia sangat dipengaruhi oleh konsep “bapakisme,” di mana setiap hubungan sosial memiliki struktur patron-klien dengan laki-laki sebagai patron atau pemimpin tertinggi. Bapak-ibuisme dalam praktiknya merupakan perpaduan antara kapitalisme dan feodalisme Jawa, yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat di dalam keluarga dan masyarakat. Dalam sistem ini, perempuan miskin dan single parent berada di posisi paling rentan, menghadapi stereotip, diskriminasi, dan marginalisasi.

Namun, meskipun negara berupaya membentuk perempuan ideal melalui ibuisme, pada kenyataannya banyak penyimpangan terjadi. Fenomena perempuan sebagai istri simpanan atau dinikahi secara siri oleh pejabat Orde Baru telah menjadi rahasia umum. Kasus Machicha Mochtar, istri siri Moerdiono yang anaknya tidak diakui, menunjukkan bahwa di balik wajah resmi ibuisme, terdapat praktik ketidakadilan yang melanggengkan ketimpangan gender.

Nikita Mirzani: Antitesis Ibuisme Negara

Dalam konteks ini, Nikita Mirzani menjadi simbol perlawanan terhadap konstruksi ibuisme negara. Sebagai seorang single mother dengan tiga anak, ia mampu menghidupi dirinya dengan kemewahan, meskipun sumber kekayaannya kerap dipertanyakan. Kehidupannya yang bebas, keras, dan penuh kontroversi menantang citra perempuan ideal yang dikonstruksi oleh negara.

Namun, fenomena seperti Nikita bukanlah hal baru. Sejarah telah mencatat bahwa ketika negara berusaha mengendalikan perempuan tanpa membangun kesetaraan gender yang sesungguhnya, akan muncul bentuk-bentuk perlawanan atau penyimpangan. Sayangnya, negara lebih fokus pada pengendalian perempuan daripada mendidik laki-laki untuk menjadi lebih humanis dan egaliter. Akibatnya, relasi kuasa dalam masyarakat tetap timpang, di mana laki-laki terus ditempatkan sebagai pusat kekuasaan sementara perempuan harus menyesuaikan diri dalam batasan yang telah ditentukan.

Nikita sendiri pernah menikah dengan Dipo Latief, anak seorang pejabat tinggi Orde Baru, tetapi pernikahannya tidak diakui oleh keluarga Dipo. Hal ini mencerminkan standar ganda dalam masyarakat, di mana seorang pria bisa bebas berhubungan dengan perempuan mana pun, tetapi tidak semua perempuan dianggap layak menjadi bagian dari keluarga “terhormat.” Pernyataan Nikita, “Gue janda anak tiga tapi berhasil mendapatkan warisan dan melahirkan anak keturunan keluarga pejabat Orba,” menjadi tamparan bagi hipokrisi sosial di Indonesia.

Pendidikan Perempuan, Bukan Pengendalian

Salah satu kritik utama terhadap ibuisme negara adalah bahwa ia lebih menekankan kontrol terhadap perempuan daripada memberikan pendidikan yang membebaskan mereka. Ketimpangan ini menciptakan relasi kuasa yang membuat laki-laki Indonesia cenderung ego-sentris dan sok kuasa, sebagaimana yang dipotret oleh Mochtar Lubis dalam tulisannya tentang sifat manusia Indonesia.

Fenomena Nikita Mirzani juga mencerminkan sisi kemunafikan masyarakat. Di satu sisi, ia dihujat karena dianggap tidak merepresentasikan perempuan baik-baik, tetapi di sisi lain, gaya hidupnya yang bebas, hedonis, dan penuh kontroversi justru menarik perhatian dan bahkan dikagumi oleh sebagian masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam masyarakat masih terdapat ketegangan antara nilai-nilai konservatif dan realitas sosial yang terus berubah.

Sebagai solusi, penting bagi negara untuk mulai berinvestasi dalam pendidikan karakter bagi individu dalam keluarga sejak dini. Pendidikan tentang kesetaraan gender, peran ayah dan ibu yang adil dalam keluarga, serta nilai-nilai moral yang tidak bias gender harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Perempuan tidak perlu dikontrol melalui ideologi gender yang mengekang, tetapi diberikan kesempatan untuk berkembang dan berdaya secara mandiri.

Kesimpulan

Nikita Mirzani adalah fenomena sosial yang mencerminkan wajah kontradiktif masyarakat Indonesia. Ia adalah cerminan dari resistensi terhadap konstruksi perempuan ideal yang dipaksakan oleh negara melalui ibuisme, sekaligus menjadi bukti dari kemunafikan sosial yang masih mengakar. Kontroversinya mengungkap bahwa meskipun perempuan terus dikontrol melalui norma-norma ketat, realitas kehidupan menunjukkan adanya celah yang memungkinkan perlawanan dan penyimpangan.

Jika Indonesia ingin keluar dari bayang-bayang feodalisme gender dan relasi kuasa yang timpang, maka solusi bukanlah dengan membentuk perempuan sesuai standar ideal patriarkal, melainkan dengan memberikan pendidikan yang membebaskan baik bagi perempuan maupun laki-laki. Dengan demikian, keadilan gender dapat tercapai bukan karena pengendalian, tetapi karena kesadaran dan pemahaman yang lebih baik tentang peran manusia dalam masyarakat yang lebih adil dan setara.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KPK Tetapkan Pejabat Pajak sebagai Tersangka Gratifikasi, Total Aliran Dana Capai Rp 21,5 Miliar

Next Post

Setara Institute Identifikasi 10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indnesia, Apa Saja?

fusilat

fusilat

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum
Crime

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Next Post
Setara Institute Identifikasi 10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indnesia, Apa Saja?

Setara Institute Identifikasi 10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indnesia, Apa Saja?

Greenpeace Kritik Gibran Terkait Fakta Glorifikasi Hilirisasi Nikel Merusak Lingkungan,

Gibran Itu Wapres RI, Mas Pram – Dengarkan Wejangan Retretnya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...