Ketua DPP PDIP Puan Maharani mengaku heran karena masih ada masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Padahal, provinsi itu merupakan daerah basis PDIP, presidennya dari PDIP, gubernur, dan bupatinya juga petugas partai yang sama.
Keheranan itu diungkapkan Puan saat mendengar cerita adanya wilayah di Wonogiri selama puluhan tahun tak menikmati akses air bersih. Parahnya, warga nyaris tak pernah mandi dan lebih sering cuci muka.
“Saya sampai nengok saat dibilang puluhan tahun. Ini benar, tidak? Saya tidak menyangka kalau sampai puluhan tahun sulit mendapatkan air bersih,” kata Puan saat memberikan sambutan peresmian keran air bersih di Desa Gendayakan, Selasa, 26 April.
Demikian, salah satu portal media online, menurunkan berita yang menohok kita semua, bukan? Pidato Puan tersebut, sangat tidak lazim disampaikan, karena yang ditonjok adalah Petugas Partai dari Partai yang sama, PDIP.
Dalam kapasitas apa Puan menguliti kinerja Ganjar tersebut, ini yang perlu kita bahas. Yang pasti bukan sebagai Ketua DPR RI, karena bila itu, alamatnya harus kepada Presiden Jokowi. Bukan pula, sebagai sesama kader partai, karena sejatinya right or wrong is from my Party, kira-kira begitu. Ada esprit de corps.
Kasap mata saja, Puan dan Ganjar, sama-sama sedang berusaha, untuk mendapatkan simpati rakyat, berkaitan dengan pencalonan Presiden 2024 yang membangun elektabilitas. Walau Ganjar, banyak ditampilkan dalam beberapa survey, lebih unggul dari pada posisi Puan Maharani. Tapi menanggapi hal ini, Puan, bahkan pernah mengatakan, “belum tentu yang tampan itu bisa bekerja”. Ini sudah pasti bukan ditujukan Kepada Anies Baswedan!.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai bahwa selama dua periode ini pembangunan Ganjar atas Provinsi Jawa Tengah tak menyeluruh. Wonogiri merupakan salah satu daerah yang tak mendapat perhatian penuh oleh Gubernur Ganjar Pranowo. Di wilayah Paranggupito, Wonogiri puluhan tahun masyarakat hidup tanpa air bersih.
“Artinya Ganjar selama ini membangun tidak menyeluruh di wilayah Jawa Tengah. Daerah Wonogiri tampaknya kurang mendapat perhatian Ganjar,” kata Jamiluddin di Jakarta, akhir April lalu.
Tetapi, yang menarik, kira-kira nasib Ganjar dan Puan akan seperti apa, saat penentuan siapa yang akan diisung oleh PDIP? Partai yang pada Pemilu 2019, mendapat suara yang terbanyak.
Pertama PDIP tidak mempraktekan pola dan system recruitment kader partai untuk Pencapresan, seperti konvensi yang ada di Partai Demokrat, atau melalui mekanisme Partai seperti Golkar, dll. Ia akan sangat ditentukan oleh keptusan Nurani dan emosi Ketua Umum Partai Megawati. Terjadi kepada Jokowi dahulu. Hanya dengan selembar surat tulisan tangan Megawati mengantarkan Jokowi untuk menjadi Capres saat itu. Tetapi sebelumnya dibawa ziarah kubur ke makam Bung Karno di Blitar.
Pemilu 2024 adalah seperti the last battle, bagi para kandidat-kandidat Presiden yang lalu, yang kini disinyalir akan kembali pandungdung (kontestasi). Nah, bagi Puan ini momentum yang sangat penting, pertama faktor umur, masih relative muda. Jadi bila Pilpres 24, adalah bukan soal menang atau kalah bagi Sang Puan, tetapi tampil sebagai kandidat adalah modal investasi emosi untuk Pilpres 2029 yad. Plus, ini yang kedua, mumpung Ibundanya sebagai Ketum dan sang Pemutus mutlak.
Bagi Ganjar Pranowo, situasi internal seperti ini, tentu saja, adalah persoalan yang tidak mudah untuk bisa dipecahkan, bila ingin tetap maju sebagai kandidat Presiden 24. Negosiasi didalam tidak akan sampai pada titik temu, kubu pro mega dan pro ganjar, sama-sama memiliki argument yang kuat, untuk tetap mempertahankan masing-masing jagonya.Dukungan Jokowi kepada Ganjar, akan menyliskan keduanya, bila melihat perkembangan posisi Jokowi akhir-akhir ini. Tetapi yang pasti sudah terliaht dua kubu.
Potret ini, bukan mustahil Ganjar Pranowo diusung oleh partai lain, apakah sebagai Capres atau Cawapres, untuk memecah suara PDIP, dimaksudkan supaya dapat efek menguntungkan kepada Pasangan Capres/Cawapres yang lain, menjadi unggul!?. Namanya juga politik catur.
Tetapi yang menarik, baik Ganjar maupun Puan, ada disebut dalam catatan Setianovanto, mereka ada sinyalemen menerima aliran dana E-KTP, yang semua percaya.
Nitizen jangan ungkap-ungkap lagi soal kesukaannya nonton video bokeplah; “apa yang salah? Saya kan sudah dewasa”, begitu kata GP juga. By the way, bagi Puan dan Ganjar, pasti diantara berdua, ada yang menang dan ada yang kalah itu hukum “the zero sum game”.






















