Jadi sorotan Penggantian gorden bagi pejabat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang menelan anggaran negara sebesar Rp48,7 miliar.
Dilihat dari laman resmi LPSE DPR, Jumat (6/5/2022), yang mengikuti lelang ini sebanyak 49 perusahaan yang akhirnya dimenangkan PT Bertiga Mitra Solusi.
Perusahaan tersebut memenangi lelang yang diikuti 49 peserta. Meski demikian, dalam situs LPSE DPR, hanya harga penawaran dari tiga peserta lelang yang bisa terlihat.
Berikut tiga peserta lelang yang harga penawarannya terlihat:
1. PT Sultan Sukses Mandiri, Rp 37.794.795.705 (Rp 37,7 miliar)
2. PT Panderman Jaya, Rp 42.149.350.236 (Rp 42,1 miliar)
3. PT Bertiga Mitra Solusi, Rp 43.577.559.594,23 (Rp 43,5 miliar)
Di sana tertulis, harga penawaran, harga terkoreksi, dan harga negosisasi seluruhnya merujuk ke angka yang sama, di total harga Rp43.577.559.594,23.
Perusahaan (PT) asal Tangerang, Banten, itu memenangkan tender setelah berhasil mengalahkan 49 pesaing.
Dalam prosesnya, tender gorden DPR sempat menuai polemik dan memantik banyak reaksi tajam salah satunya Masyarakat Anti Korupsi (MAKI), seperti dilansir dari detik.com Maki menyoroti perusahaan pemenang tender gorden DPR. MAKI heran lantaran perusahaan yang menang justru yang menyodorkan harga lebih tinggi dibandingkan dua perusahaan lainnya.
“Terus terang saja agak aneh, jika pengumuman pemenang yang dijadikan pemenang adalah penawar tertinggi. Karena kalau yang tidak memenuhi persyaratan itu sudah gugur di fase-fase sebelumnya misalnya barangnya jelek, tidak dapat dukungan atau tidak sesuai spesifikasi itu nggak sampai dibuka penawaran,” kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman kepada wartawan, Kamis (5/5/2022). Dikutip detik.com
“Kain gorden itu kan di pasaran banyak dan panitia mestinya memberikan spesifikasi barangnya itu yang gampang dicari di pasar jadi nggak boleh dikunci, sehingga hanya satu perusahaan yang bisa menyuplai kain itu nggak boleh,” lanjutnya.
Boyamin mengatakan proses tender harus berjalan kompetitif. Menurutnya, pemenang tender harusnya dipilih dari perusahaan yang menawarkan harga termurah dan memenuhi persyaratan.
“Karena ini namanya tender harus kompetitif maka dicari di pasaran yang bayak, maka nanti banyak perusahaan yang ikut tender sehingga terjadi harga yang kompetitif. Kompetitif itu kan mestinya harga termurah yang memenuhi persyaratan nah ini kok justru pemenang harga tertinggi, ini agak sesuatu yang tidak lazim,” ujarnya.
Boyamin yakin dua perusahaan lainnya yang ikut tender memenuhi persyaratan. Sebab kata Boyamin, gorden merupakan barang yang mudah dicari di pasaran.
“Saya juga berkeyakinan dua yang lain itu mampu memenuhi persyaratan, mampu memenuhi spesifikasi, karena ini barang mudah dicari, di Pasar Baru, di Mangga Dua atau di Tanah Abang, pasti banyak sesuai spesifikasi yang bisa disuplay pemborong,” ucapnya.
Boyamin mengaku akan memantau kain yang disuplay oleh perusahaan pemenang tender. Dia akan membandongman dengan kain gorden perusahaan lain.
“Saya akan memantau, kain yang akhirnya disuplai oleh pemborong oleh pemenang itu seperti apa dan akan saya bandingkan dengan dua perusahaan yang lain. Kalau itu sama spesifikasinya seperti itu, kenapa yang lebih murah kok malah kalah,” ungkapnya.
Lebih lanjut Boyamin meminta pimpinan program atau pimpro untuk melakukan evaluasi pasca penetapan pemenang tender. Dia menyebut dalam tender memungkinkan adanya evaluasi ulang setelah pengumuman pemenang.
“Saya meminta kepada pimpro untuk evaluasi ulang kemudian melakukan proses yang benar, pelacakan, jangan sampai yang dua ini seperti gugur hanya dicari-cari kesalahan sehingga yang dianggap pemenang yang harga tertinggi. Biasanya dalam tender memungkinkan adanya evaluasi ulang setelah dilakukan pengumuman. Mestinya juga ini ada kesempatan penawar yang lain yang lebih murah untuk melakukan sanggah banding,” imbuhnya.






















