Ntah apa yang ada dalam benak 8 Ketum Partai koalisi Indonesia, hingga jatuh pilihannya kepada Gibran Rakabuming Raka, Anak Muda Ingusan itu – menurut Panda Nababan, sebagai Cawapres pasangan Prabowo untuk Pikpres 24. Apa yang salah dengan Prof Yusril Ihza Mahendra? Apa yang keliru dengan Airlanga Hartarto? Kalau soal elektabiltas kan sama saja dengan Gibran. Dan sederet nama-nama keren lainnya seperti Fahri Hamza.
Adakah korelasi Gibran bin Jokowi dengan elektabiltas Bapaknya? Dalam suatu wawancara di staisun TV swasta, Burhannudin Muhtadi, memberikan analisinya, soal elektabilitas Prabowo bila di pasangkan dengan Gibran Rakabuming Raka, akan kehilangan 10%.
Pengumuman pencalonan Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden (cawapres) Pemilu 2024 dinilai bisa jadi amunisi buat lawan politik mendegradasi sosok Presiden Joko Widodo.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam yakin, narasi “politik dinasti” akan digulirkan pihak lawan seandainya Gibran, yang tak lain adalah putra sulung Jokowi, jadi cawapres. “Pencawapresan Gibran tampaknya sekarang sedang ditunggu-tunggu oleh para rival politik Jokowi, sebagai narasi ‘politik dinasti’, yang akan menjadi amunisi yang sangat efektif untuk menghantam legitimasi dan kredibilitas politik Presiden Jokowi.”
Pengamat politik Eros Djarot mengatakan Gibran Rakabuming Raka sosok yang luar biasa. Pandangannya ini diungkapkan usai Gibran dicawapreskan oleh Partai Golkar untuk mendampingi Prabowo Subianto.
Menurut Eros walikota Solo ini sungguh luar biasa sehingga bisa mengguncang dunia politik Indonesia. “Gibran ini anak muda yang biasa-biasa saja,” katanya melalui akun TikToknya “Tapi dia hebat karena bisa mempercandai para ketua umum partai ketika dia maju sebagai Cawapres Prabowo.”
“Gibran itu bukan siapa-siapa kalau tidak ada bapaknya. Apa iya Golkar mau mencalonkan Gibran kalau tidak ada bapaknya,” jelas Eros
Apa yang akan dilakukan setelah pengumuman Pencawapresannya? Pengamat politik Ujang Komarudin melihat ada dua kemungkinan yang akan diambil oleh Gibran. Pertama Gibran secara santun dan baik-baik mengajukan pengunduran diri sebagai kader atau pilihan lainnya menunggu dipecat oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
“Skemanya bisa mundur, ketemu Mega, ketemu Puan mengajukan surat pengunduran diri. Bisa juga ya dibiarin saja lalu di tengah jalan dipecat,” kata Ujang
Tetapi menurut Ujang, Gibran cenderung memilih opsi dipecat di tengah jalan. Artinya, putra sulung Presiden Jokowi itu tidak akan mengajukan pengunduran ia menerima pinangan Prabowo menjadi cawapres.





















