Menyusul kemauan keras Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk menempatkan kader PDIP sebagai calon presiden yang akan diusung oleh Koalisi Besar yang rencananya segera dibentuk, Golkar dengan tegas menolak kemauan PDIP dan memintanya untuk tidak bergabung.
Jakarta – Fusilatnews – Partai Golkar menolak PDIP masuk ke dalam Koalisi Besar jika tetap ngotot ingin kadernya menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024.
“Udah diputuskan secara tidak langsung Ibu Mega sudah ‘PDIP tetap mencalonkan kadernya’. Nah, kalau itu jangan masuk ke sini,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurdin Halid
Menurut Nurdin Koalisi Besar akan menjadi lebih susah menentukan capres jika PDIP bergabung. Karena beberapa partai sejauh ini juga menetapkan jagoan masing-masing untuk menjadi capres.
“PDIP kan sudah sepakat secara internal bahkan sudah diputuskan secara internal yang saya baca ya, mencalonkan kadernya, Golkar juga begitu telah memutuskan bahwa Airlangga,” ujarnya.
Menurut Nurdin jika PDIP tak bergabung ke Koalisi Besar, akan menghadirkan lebih banyak pasangan capres dan cawapres. Kondisi ini baik bagi demokrasi.
“Itu akan menghadirkan tiga alternatif calon pemimpin dan ini mencerahkan demokrasi karena ada pilihan-pilihan yang bagus bagi rakyat,” katanya.
Wacana koalisi besar mengemuka dalam pertemuan antara lima ketua umum partai koalisi pemerintah dengan Presiden Jokowi di Kantor DPP PAN pada Minggu (2/3).
Mereka yang hadir antara lain Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum Airlangga Hartarto, Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketum PPP Mardiono.
Sementara, PDIP yang tidak hadir dalam pertemuan itu juga membuka peluang bergabung. Akan tetapi, mereka meminta syarat kursi calon presiden nantinya.
Dalam kesempatan terpisah “PDIP kalau ngambil posisi capres, ya wajar-wajar saja, make sense lah. Bukan mau-maunya PDIP, enggak seperti itu. Logic. Sangat rasional,” kata Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, Selasa (4/4).
PDI Perjuangan menegaskan posisi calon presiden harus dari partai berlambang banteng bila bergabung dengan koalisi besar. Menurut Ketua DPP PDIP Said Abdullah tawaran itu merupakan hal yang logis karena PDIP pemilik kursi terbesar di DPR.
Said mengatakan, PDIP menginginkan kader internal yang menjadi calon presiden.
“PDIP kalau ngambil posisi capres, ya wajar-wajar saja, make sense lah. Bukan mau-maunya PDIP, enggak seperti itu. Logic. Sangat rasional,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/4).
PDIP bisa mengusung calon presiden dan calon wakil presiden sendiri. Tetapi PDIP tetap berpandangan perlunya kerjasama politik untuk membangun bangsa. Maka itu, PDIP tetap akan menjalin koalisi Pemilu 2024.
“Tapi kami PDIP, yang selalu berteriak membangun bangsa dengan cara gotong royong, itu artinya PDIP enggak mau sendirian, akan bekerja sama,” ujarnya.
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan lima ketua umum partai pendukung pemerintah membuka peluang terbentuknya koalisi besar. Antara Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, PAN, serta PPP dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) Gerindra-PKB, bersatu.






















