Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta – Masih ingatkah kita akan kisah Rama-Shinta dalam epos Ramayana karya Walmiki? Jika tidak, tengoklah Effendi Simbolon yang kini mencoba memerankan diri sebagai Gunawan Wibisana, sehingga ingatan kita pun akan segar kembali.
Gunawan Wibisana adalah adik kandung Rahwana, Raja Alengka yang menculik Dewi Shinta, permaisuri dari Rama, Raja Pancawati. Nah, saat terjadi peperangan antara kubu Rahwana dan kubu Rama untuk memperebutkan Shinta, ternyata Gunawan Wibisana justru berada di pihak Rama berhadapan dengan Rahwana. Akhirnya, dengan bantuan Hanoman bersama pasukan keranya, Shinta berhasil direbut dan dikembalikan kepada Rama.
“mBalelo”
“Saya secara jujur berharap Indonesia dinahkodai oleh pemimpin yang punya keandalan, dan itu ada pada figur Pak Prabowo,” kata Ketua Umum Punguan Simbolon Dohot Boruna Indonesia (PSBI) Effendi Simbolon dalam acara Marga Simbolon di Jakarta, Jumat (7/7/2023), yang juga dihadiri Prabowo Subianto, calon presiden dari Partai Gerindra untuk Pemilihan Presiden 2024, sebagai pembicara.
Effendy Simbolon adalah anggota Komisi I DPR RI dari PDI Perjuangan. Partai berlambang kepala banteng dalam lingkaran itu sendiri sudah mendeklarasikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai capres 2024 pada 21 April lalu. Artinya, apakah Effendi Simbolon “mbalelo” dan keluar dari kawanan banteng?
Effendi Simbolon yang ibarat sedang berada di kawanan banteng atau sapi jantan kini tidak melenguh lagi seperti banteng atau sapi. Ia mengembik seperti kambing, atau mengaum seperti macan, atau melolong seperti serigala, sehingga bisa disebut sebagai bukan banteng lagi. Kok bisa? Jawabannya: karena ia patut diduga telah “mbalelo”.
“mBalelo”, adalah istilah dalam bahasa Jawa yang artinya “membangkang perintah atasan”, “menentang arus”, atau dalam cerita pewayangan sering digambarkan sebagai memberontak, memihak kepada musuh, karena punya keyakinan sendiri akan suatu hal, tidak puas dengan keadaan yang ada di sekelilingnya yang menyangkut dirinya.
Hal itu terjadi dalam cerita Ramayana versi wayang Jawa, di mana adik Rahwana, Gunawan Wibisana, “mbalelo” atau menyeberang dan memihak Rama dan pasukannya, karena berpendirian kakak kandungnya itu bersalah, dan berbuat angkara murka dengan tidak mau mengembalikan Shinta, istri Rama yang telah diculiknya.
Bahkan dalam peperangan, seperti disebut di awal tulisan ini, Gunawan Wibisana membuka sandi atau rahasia kesaktian bala tentara Rahwana, sehingga mereka dapat dikalahkan pasukan Rama yang dibantu pasukan kera yang dipimpin Hanoman.
Benarkah Effendi Simbolon menjadi Gunawan Wibisana dalam kisah nyata, di ajang Pilpres 2024 yang kemungkinan akan mempertemukan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo secara berhadap-hadapan, di samping Anies Baswedan?
Sejauh ini, baru tiga sosok itulah yang sudah dideklarasikan partai politik masing-masing sebagai capres untuk Pilpres 2024.
Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra dan Menteri Pertahanan dicalonkan oleh partainya dan didukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Keduanya membentuk Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Anies Baswedan dideklarasikan Partai Nasdem sebagai capres 2024 pada 3 Oktober 2022 dan didukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat. Ketiganya membentuk Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
Adapun Ganjar Pranowo yang diusung PDIP sejauh ini sudah didukung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura dan Partai Perindo. Kedua parpol terakhir merupakan parpol non-parlemen. Meski demikian, sudah dipastikan Ganjar bisa maju sebagai capres karena PDIP sendiri pun sudah memenuhi “presidential threshold” 20% kursi parlemen atau 25% suara sah nasional pemilu sebelumnya sebagaimana ketentuan Pasal 222 Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
Sedangkan Gerindra dan Nasdem tidak memenuhi syarat “presidential threshold”. Artinya, baik Prabowo maupun Anies belum tentu bisa maju sebagai capres, masih bergantung parpol-parpol pendukungnya. Sikap parpol pendukung tergantung siapa calon wakil presidennya.
Dengan demikian, KKIR maupun KPP belum permanen sebagai koalisi sampai mereka mendaftarkan pasangan capres dan cawapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), 19 Oktober 2023-25 November 2023 mendatang.
Persepsi
Kembali ke pertanyaan awal, apakah Effendi Simbolon akan “mbalelo” dari kawanan banteng dan menjadi Gunawan Wibisana yang akan melawan kakak kandungnya sendiri, Rahwana atau Dasamuka?
Sosok yang suka bicara blak-blakan ini mengakui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang bisa diasumsikan sebagai kakak atau bahkan ibunya sendiri, sudah menetapkan Ganjar Pranowo sebagai capres, sehingga dirinya pun akan patuh.
Akan tetapi di dalam bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS), siapa yang tahu bahwa Effendi Simbolon memilih Ganjar atau Prabowo? Tak ada yang tahu. Sebagaimana kita juga tidak tahu apakah para marga Simbolon yang dipimpin Effendi Simbolon akan memilih Ganjar atau Prabowo.
Apalagi politik adalah persepsi. Apa yang sudah disampaikan Effendi soal Prabowo sudah tentu akan membentuk persepsi publik. Secara tak langsung Effendi turut mengampanyekan Prabowo sebagai capres. Dengan kata lain, Effendi menggembosi suara Ganjar Pranowo.
Di sisi lain, apa yang disampaikan Effendi itu merefleksikan bahwa dukungan elite PDIP terhadap Ganjar belum solid. Apalagi jika melihat sikap Presiden Joko Widodo, yang juga kader PDIP, yang terkesan main dua kaki. Satu kaki di PDIP dengan meng-“endorse” Ganjar, satu kaki lainnya ada di Prabowo dengan meng-“endorse” bekas rivalnya di Pilpres 2014 dan 2019 itu.
Apakah kemungkinan “mbalelo”-nya Effendi Simbolon demi membela kebenaran sebagaimana Gunawan Wibisana?
Sekali lagi politik adalah persepsi. Sebagai persepsi, yang menentukan benar atau salah adalah si pemilik persepsi itu sendiri. Apalagi di era media sosial (medsos) sekarang ini, kebenaran sering kali tidak berpijak pada fakta, tapi pada persepsi. Jadi, apa yang dilakukan Effendi Simbolon itu bagi dia sendiri sudah dapat dikatakan benar, meskipun masih sebatas persepsi.
Yang jelas, sudah sejak lama Effendi Simbolon menunjukkan ketidakberpihakannya kepada Ganjar. Saat terjadi polemik di kalangan elite PDIP tentang siapa yang layak menjadi capres, apakah Ganjar atau Puan Maharani, misalnya, Effendi saat itu banyak menyerang Ganjar yang mantan koleganya di Senayan itu.
Sebagai Gunawan Wibisana, apakah Effendi Simbolon akan membocorkan rahasia kekuatan PDIP kepada Prabowo dalam Pilpres 2024 nanti? Kita tidak tahu. Yang jelas, kini sudah terbentuk persepsi publik bahwa dukungan elite PDIP kepada Ganjar belum solid. Sekali lagi, politik adalah persepsi. Di sisi lain, Effendi Simbolon telah turut serta mengampanyekan Prabowo.
Pertanyaannya, apakah PDIP akan menyemprit Effendi Simbolon karena dianggap “off side” atau bahkan “mbalelo”? Kita tunggu saja tanggal mainnya!
Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).





















